EtIndonesia. Di Negara Bagian Maine, Amerika Serikat, hiduplah seorang penebang kayu bernama Barney Roberg. Suatu hari, ketika dia sedang menebang pohon, sebuah batang pohon besar tiba-tiba roboh dan menghantamnya. Kaki kanannya terjepit kuat di bawah batang pohon yang sangat berat, darah mengalir deras tanpa henti.
Menghadapi musibah terbesar yang belum pernah dia alami sepanjang kariernya sebagai penebang kayu, reaksi pertamanya hanyalah satu pertanyaan sederhana namun penuh keputusasaan: “Apa yang harus kulakukan?”
Saat itu, dia dihadapkan pada kenyataan yang sangat kejam. Dalam radius puluhan kilometer tidak ada desa maupun penduduk. Setidaknya selama sepuluh jam ke depan, tidak mungkin ada orang yang datang menolongnya. Dan jika dibiarkan, tak lama lagi dia akan meninggal akibat kehabisan darah.
Dia sadar satu hal: dia tidak bisa menunggu. Dia harus menyelamatkan dirinya sendiri.
Dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik kaki yang terjepit, tetapi sia-sia—kakinya sama sekali tidak bisa bergerak. Dia meraba sekeliling dan menemukan kapaknya, lalu mulai menebas batang pohon itu. Namun karena terlalu memaksakan diri, baru tiga atau empat ayunan, gagang kapak tersebut patah.
Dia menoleh ke sekeliling dan melihat sebuah gergaji mesin tidak jauh dari tempatnya terjepit. Dengan gagang kapak yang patah, dia berusaha menarik gergaji itu hingga ke dekatnya, berniat memotong batang pohon yang menekan kakinya. Namun dia segera menyadari masalah baru: batang pohon itu miring. Begitu gergaji ditarik, tekanan batang justru akan menjepit mata gergaji dengan kuat, membuatnya mustahil digunakan.
Ketika hampir tenggelam dalam keputusasaan, sebuah keputusan yang sangat berani dan ekstrem tiba-tiba muncul di benaknya: memotong kaki yang terjepit itu sendiri.
Tanpa ragu sedikit pun, dia segera bertindak. Dengan tekad yang luar biasa, dia menggergaji pahanya sendiri dan akhirnya berhasil membebaskan diri—dan dengan itu, menyelamatkan nyawanya.
Seorang filsuf pernah berkata kepada seseorang yang mengalami kegagalan: “Dalam hidup, kegagalan tidak bisa dihindari. Saat kegagalan datang, cara terbaik adalah menghentikannya, mengatasinya, atau membalikkan keadaan. Namun sering kali, semua itu tidak berhasil. Maka, ubahlah cara berpikir—usahakan agar kegagalan itu berbelok arah. Jadikan kegagalan besar sebagai kegagalan kecil, dan temukan keberhasilan di dalam kegagalan itu sendiri.” (jhn/yn)




