Liburan semestinya menjadi kesempatan melepas penat. Namun, kabar duka tentang wisatawan tenggelam di laut atau air terjun selalu muncul saat liburan baru saja usai. Mengapa tragedi ini terus terulang?
Kabar duka misalnya datang dari Kabupaten Tanggamus, Lampung. Dua anak, David (9) dan Desna (10), warga Kecamatan Kota Agung Barat, Tanggamus, meninggal setelah tengggelam di tempat wisata Air Terjun Way Lalaan, Kecamatan Kota Agung Timur, Tanggamus, Kamis (1/1/2025).
Masa liburan yang mestinya menjadi momen bahagia justru menjadi petaka bagi kedua SD tersebut. Kedua korban pertama kali ditemukan oleh pengunjung dan penjual makanan yang berada di sekitar lokasi. Keluarga dan petugas di lokasi kejadian segera mengevakuasi korban yang sudah tidak sadarkan diri.
Kedua korban lantas dibawa ke RSUD Batin Mangunang, Tanggamus. Namun, kedua anak itu dinyatakan sudah meninggal saat tiba di rumah sakit.
Tim dokter menyimpulkan penyebab kedua korban meninggal akibat masuknya air ke dalam rongga paru-paru. Tidak ditemukan tanda kekerasan pada jasad korban.
Tak hanya di Tanggamus, seorang wisatawan juga dilaporkan hanyut terbawa ombak saat berenang di Pantai Mandiri, Kabupaten Pesisir Barat, Sabtu (3/1/2026), sekitar pukul 17.00 WIB.
Hingga Senin (5/1/2026) petugas dari Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Lampung dibantu tim gabungan masih berupaya melakukan pencarian terhadap korban.
Korban tengelam adalah Rizal Wahyudi (29), warga Desa Kali Balangan, Kecamatan Abung Selatan. Korban pertama dilaporkan hilang saat berenang di pantai bersama belasan temannya, pada Sabtu, pukul 17.25 WIB. Saat itu, korban diduga terseret arus hingga ke tengah laut.
Komandan Tim Pos SAR Tanggamus Tri Wardoyo mengatakan, Basarnas Lampung yang menerima laporan pada Sabtu malam dari petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah Pesisir Barat, langsung berangkat ke lokasi untuk melakukan upaya pencarian.
Menurut dia, tim SAR gabungan dilakukan operasi pencarian menggunakan perahu karet di perairan sekitar lokasi. Selan itu, tim SAR juga menyisir sekitar Pantai Mandiri. Namun hingga hari kedua pencarian pada Minggu (4/1/2025) sore, jasad korban belum juga ditemukan.
Tri mengatakan, upaya pencarian masih dilanjutkan kembali pada Senin. Basarnas Lampung memastikan upaya pencarian akan terus dilakukan secara maksimal dengan tetap mengutamakan keselamatan seluruh personel di lapangan.
Ke depan, dia meminta masyarakat dan wisatawan agar lebih waspada terhadap potensi bahaya di pantai, terutama saat kondisi cuaca dan gelombang laut tidak bersahabat.
Apalagi, pantai-pantai di sekitar Kabupaten Pesisir Barat merupakan laut lepas yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Ombak di pantai-pantai di Pesisir Barat cenderung besar dan bisa membahayakan nyawa.
Hal serupa juga diungkapkan Kepala Bidang Humas Polda Lampung Komisaris Besar Yuni Iswandari. Yuni mengatakan, masyarakat perlu memperhatikan faktor keselamatan saat berwisata ke pantai.
Kondisi cuaca dan ketinggian gelombang yang diinformasikan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Lampung harus menjadi perhatian masyarakat saat memutuskan berwisata ke suatu tempat.
“Kami mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk selalu berhati-hati saat berwisata ke pantai. Jika kondisi cuaca dan gelombang tidak memungkinkan, sebaiknya tidak melakukan aktivitas berenang demi keselamatan bersama,” kata Yuni.
Beberapa hari terakhir, BMKG Lampung sebenarnya sudah mengeluarkan peringatan diri cuaca buruk dan gelombang tinggi di periaran Lampung.
Berdasarkan prediksi BMKG, hujan deras disertai angin kencang berpotensi mengguyur sebagian wilayah Lampung selama musim hujan pada Desember 2025 hingga Januari 2026.
Di wilayah perairan Lampung, gelombang dengan ketinggian 1,25 meter sampai 2,5 meter berpotensi terjadi di perairan barat Lampung, Selat Sunda bagian selatan, dan perairan Teluk Lampung bagian selatan.
Tak hanya pantai, tempat wisata alam lain yang memiliki potensi bahaya juga harus menjadi perhatian. Saat berwisata ke air terjun misalnya, pengunjung harus memperhatikan batas aman saat berenang. Pengunjung juga sebaiknya menggunakan alat-alat penunjang keselamatan, seperti pelampung untuk mencegah risiko tenggelam.
Terkait insiden wisatawan tenggelam di Air Terjun Way Lalaan, Tanggamus, penyidik dari Polres Tanggamus dan Polda Lampung, telah melakukan olah tempat kejadian perkara dan memeriksa sejumlah saksi. Tim dari Polres Tanggamus juga sudah mendatangi rumah keluarga korban untuk memberikan pendampingan.
Sejauh ini, polisi masih menyelidiki apakah ada unsur tindak pidana dalam insiden tersebut. Polisi juga meminta seluruh tempat wisata untuk memperketat pengawasan serta meningkatkan pemasangan rambu peringatan di sekitar lokasi wisata.
Insiden wisatawan tenggelam saat berlibur di pantai bukan hanya terjadi pada masa liburan akhir tahun ini. Sebelumnya, Dika Gunawan (17), warga asal Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, hilang akibat terseret ombak saat berenang di Pantai Rio The Beach, Desa Merak Belantung, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan, pada 29 Juni 2024.
Saat itu, korban sedang berlibur ke pantai tersebut bersama tujuh temannya. Naas, korban bersama salah satu temannya, Teguh Satrio (17), terseret ombak besar. Teguh bisa diselamatkan, sementara korban terseret arus laut.
Kondisi ombak di Pantai Rio The Beach yang baru dibuka pada April 2024 itu memang cukup besar. Petugas sebenarnya sudah memperingatkan agar pengunjung tidak berenang saat ombak besar, terutama pada sore atau malam hari karena dapat mengancam keselamatan.
Sebelumnya, Syahrial Malino (17), pelajar asal Sumatera Selatan, ditemukan meninggal akibat tenggelam di Pantai Mandiri Sejati, Kecamatan Krui Selatan, Kabupaten Pesisir Barat, pada Kamis (27/6/2024). Nyawa pelajar SMA itu terenggut saat sedang menikmati masa libur sekolah.
Renteten insiden wisatawan tenggelam ini menjadi pengingat bahwa keselamatan harus menjadi perioritas utama saat berlibur. Jangan sampai, momentum untuk melepas penat justru berubah menjadi petaka.




