Neraca Dagang RI Surplus 67 Bulan Beruntun, Tapi Defisit dengan China Kian Dalam

bisnis.com
1 hari lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus US$2,66 miliar secara tahunan (year on year/YoY) pada November 2025.

Realisasi tersebut lebih tinggi dari realisasi neraca dagang bulan sebelumnya atau Oktober 2025 senilai US$2,39 miliar.

Meski demikian, di balik capaian tersebut defisit perdagangan Indonesia dengan China justru terus membengkak. Catatan BPS, secara kumulatif defisit perdagangan dengan China mencapai US$17,74 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Isnartini mengatakan bahwa Indonesia mencatatkan ekspor Oktober sebesar US$22,52 miliar atau turun 6,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });

Sementara itu, nilai impor November 2025 mencapai US$19,86 miliar atau naik 0,46% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan ini dipengaruhi oleh penurunan impor migas.

"Neraca perdagangan Indonesia dengan ini telah mencatat surplus selama 67 bulan berturut turut sejak Mei 2020," ujar Pudji pada Senin (5/1/2026).

Baca Juga

  • BPS: Tren Kontraksi Berlanjut, Ekspor November 2025 Turun 6,6%!
  • Pengusaha Teriak Ekspor Alas Kaki RI Anjlok Imbas Tarif Trump
  • Ekspor Minyak Venezuela Lumpuh Dampak Sanksi AS & Gejolak Politik

Surplus pada November 2025 lebih ditopang pada komoditas nonmigas yaitu sebesar US$4,64 miliar dengan komoditas penyumbang surplus utama lemak dan minyak hewan/nabati, kemudian bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Pada saat yang sama, neraca perdagangan komoditas migas defisit US$1,98 miliar dengan komoditas penyumbang defisit yaitu minyak mentah dan hasil minyak.

Sebelumnya berdasarkan konsensus proyeksi 17 ekonom yang dihimpun Bloomberg, nilai tengah (median) surplus neraca perdagangan pada November 2025 diproyeksikan sebesar US$3,06 miliar atau lebih tinggi .

Estimasi tertinggi dikeluarkan oleh Ekonom PT Oub Kay Hian Securities dengan nominal US$3,89 miliar. Sebaliknya, proyeksi terendah disampaikan oleh Ekonom Moodys Analytics Singapore Jeemin Bang dengan angka US$2,2 miliar.

Sementara itu, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David Sumual memperkirakan neraca perdagangan Indonesia akan surplus US$2,87 miliar pada November 2025.

Proyeksi tersebut dipengaruhi oleh ekspor yang turun 4,37% secara tahunan (year on year/YoY) maupun 5,31% secara bulanan (month on month/MoM). Di sisi lain, impor diperkirakan naik sebesar 2,25% YoY, namun turun 8,1% MoM.

"Secara MoM [bulanan], ekspor dan impor turun karena hari kerja yang lebih sedikit. Namun, harga komoditas ekspor naik lebih banyak dibandingkan impor, terutama batubara dan gas," jelas David kepada Bisnis, Minggu (4/1/2026).

Sementara berdasarkan data ekspor-impor negara lain terhadap Indonesia, dia mencatat adanya pelebaran neraca perdagangan dibandingkan November.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kapan Libur Panjang Isra Miraj 2026? Catat Tanggalnya Sesuai SKB 3 Menteri
• 2 jam laludisway.id
thumb
Suasana Sekolah di Aceh Tamiang Pascabanjir, Siswa Semangat Belajar meski Tanpa Seragam
• 8 jam lalurctiplus.com
thumb
Bukan Harga Minyak, Konflik AS - Venezuela Lebih Berdampak ke Rupiah
• 22 jam lalukatadata.co.id
thumb
Asyik Nongkrong Sambil Pakai Sabu, Pemuda di Jaktim Ditangkap Polisi
• 5 jam laludetik.com
thumb
Dara Sarasvati Jadi Wajah Baru Bank Jakarta, Dorong Literasi Keuangan dan Transaksi Global
• 16 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.