Saham emiten emas hingga minyak dan gas melonjak usai Militer Amerika Serikat (AS) telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam sebuah operasi pada Sabtu (3/1) dinihari.
Presiden AS Donald Trump mengatakan Negeri Abang Sam akan memimpin Venezuela untuk sementara waktu dan akan memanfaatkan cadangan minyak negeri Amerika Latin tersebut.
Imbas dari konflik itu, pada perdagangan saham Senin (5/1) pukul 09.51 WIB terpantau emiten emas melonjak. Di antaranya PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik 3,43% ke level 3.320, sementara PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) melesat 6,08% ke 1.745.
Lalu PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) naik paling tinggi dengan melonjak 9,75% ke 1.295. Kemudian PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) naik 1,33% ke 5.700, serta PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) tumbuh 4,50% ke 580.
Selain emas, emiten migas juga bergeliat. Misalnya PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) naik 1,17% ke level 1.295 dan PT Elnusa Tbk (ELSA) menguat 1,96% ke 520. Selanjutnya, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) tumbuh 3,05% ke 1.690. PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) terpantau stagnan di level 615.
Sementara itu, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) naik 3,45% ke 1.500, diikuti PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) menguat 1,04% ke 1.950 dan PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) naik 1,98% ke 6.425.
Sebelumnya Trump mengungkapkan rencananya untuk menjual sejumlah besar minyak Venezuela ke negara lain.
“Kami akan menjalankan negara ini sampai saatnya dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana,” kata Trump dalam konferensi pers di Mar-a-Lago seperti dikutip dari Associated Press, Sabtu (4/1).
Maduro dan istrinya, yang ditangkap semalam dari rumah mereka dibawa ke atas kapal perang AS USS Iwo Jima. Maduro akan menghadapi tuntutan hukum atas dakwaan Departemen Kehakiman AS yang menuduh mereka berpartisipasi dalam terorisme narkoba pada 2020.
Namun, Departemen Kehakiman merilis dakwaan baru terhadap Maduro dan istrinya, Cilia Flores, yang menggambarkan rezim tersebut sebagai pemerintahan yang korup dan tidak sah. Pemerintah AS tidak mengakui Maduro sebagai pemimpin negara tersebut.
Operasi tersebut menyusul upaya berbulan-bulan pemerintahan Trump untuk menekan pemimpin Venezuela. AS telah mengerahkan pasukan di perairan lepas pantai Amerika Selatan dan menyerang kapal-kapal di Pasifik timur dan Karibia yang dituduh membawa narkoba.
Lalu Trump juga mengatakan Washington tak menutup kemungkinan melancarkan gelombang serangan kedua terhadap Venezuela. Langkah ini menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro dalam operasi militer AS.
Dalam wawancaranya dengan Fox News, Sabtu (3/1), Trump mengatakan bahwa pemerintahannya telah menyiapkan skenario lanjutan jika situasi berkembang ke arah yang dianggap mengancam kepentingan AS.
“Kami siap melakukan gelombang kedua. Semuanya sudah disiapkan. Operasi ini begitu kuat sehingga kami tidak perlu melakukannya, tetapi kami tetap siap,” ujar Trump, seraya menambahkan bahwa kekuatan militer AS berada dalam posisi siaga penuh seperti dikutip dari Antara pada Minggu (4/1).
Trump juga mengklaim Washington mengerahkan kekuatan laut besar di kawasan tersebut. “Kami berada di luar sana dengan armada seperti yang belum pernah dilihat siapapun sebelumnya, dan kami siap,” katanya.


