Di Tengah Tumpahnya Darah Demonstran di Iran, Apakah Militer AS Bersiap Menyerang?

erabaru.net
2 hari lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Sungguh di luar dugaan. Menjelang akhir tahun 2025, dunia justru kembali dilanda kekacauan. Video yang sedang kita lihat sekarang memperlihatkan warga Iran yang terus turun ke jalan pada 29 hingga 30 Desember, siang dan malam, untuk memprotes rezim. Lalu, apa sebenarnya yang terjadi di Iran? Mengapa rakyat Iran turun ke jalan melakukan aksi protes?

Nilai Tukar Anjlok, Sistem Ekonomi Hampir Runtuh

Penyebab langsung dari aksi protes ini adalah nilai tukar mata uang Iran terhadap dolar AS yang jatuh ke titik terendah dalam sejarah, membuat sistem ekonomi hampir runtuh.

**Rial Ambruk, Inflasi Meroket

Gubernur Bank Sentral Mundur, Kenaikan Pajak Picu Kemarahan Publik**

Pada Senin (29/12), Gubernur Bank Sentral Iran mengundurkan diri. Nilai tukar rial Iran telah anjlok hingga 1 dolar AS = 1.420.000 rial.

Depresiasi mata uang yang sangat cepat ini memperparah tekanan inflasi, mendorong kenaikan harga pangan dan kebutuhan sehari-hari lainnya, sehingga semakin membebani kehidupan keluarga kelas bawah.

Data dari Badan Statistik Iran menunjukkan bahwa tingkat inflasi pada bulan Desember meningkat 42% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Khususnya, harga pangan melonjak 72%, sementara harga perlengkapan medis naik 50%.

Yang lebih buruk lagi, media resmi Iran melaporkan bahwa pemerintah berencana menaikkan pajak mulai 21 Maret, bertepatan dengan Tahun Baru Iran. Kebijakan ini semakin memicu kemarahan rakyat.

Bazar Besar Teheran Tutup, Protes Menyebar ke Warga Biasa

Aksi protes ini awalnya dipicu oleh para pedagang di Bazar Besar Teheran. Sejumlah besar pedagang dan pemilik toko berkumpul dan berdemonstrasi di pusat kota Teheran. Dalam aksi pada 28 Desember, para pedagang dan pemilik usaha kecil-menengah menjadi kekuatan utama, sebelum protes kemudian menyebar ke masyarakat umum yang juga sangat tidak puas dengan tingginya biaya hidup.

Para pedagang menutup toko mereka dan menyerukan pedagang lain untuk melakukan hal yang sama. Dalam video yang direkam di Bazar Besar Teheran, terlihat seluruh toko telah menutup pintu, sementara para demonstran memenuhi pasar.

Dalam video lainnya, terlihat pada 29 Desember sejumlah besar warga Iran berkumpul di Jalan Republik, memprotes depresiasi mata uang dan inflasi yang tinggi.

Dalam video lain yang direkam warga setempat, masyarakat berunjuk rasa di depan kantor pusat Badan Pangan dan Obat-obatan di Teheran, menentang rezim Islam. Terlihat jumlah peserta sangat besar, terdiri dari pria dan wanita dari berbagai usia, dengan lokasi protes yang hampir mencakup seluruh kawasan.

Polisi Tindak Keras dengan Gas Air Mata

Massa Mengepung Komandan, Tiang Bendera Dirobohkan

Di tengah gelombang protes, pada 29 Desember polisi Iran mulai membubarkan massa. Dalam video yang terlihat, seorang komandan pasukan khusus kepolisian Iran memberi peringatan kepada massa di persimpangan Istanbul, Teheran.

Dalam video jarak dekat lainnya, tampak warga Iran yang marah mengepung komandan pasukan khusus tersebut. Sang komandan memegang pengeras suara dan berbicara kepada massa, namun teriakan kemarahan warga membuat ucapannya hampir tidak terdengar. Banyak demonstran mengangkat ponsel untuk merekam momen bersejarah ini.

Beberapa menit kemudian, polisi mulai menindak keras demonstrasi tersebut. Dalam video yang diunggah hari itu, terlihat polisi menembakkan gas air mata ke arah massa, yang kemudian berhamburan melarikan diri. 

Di tengah kekacauan, tampak seseorang duduk di tengah jalan, menghalangi laju aparat. Polisi yang mengendarai sepeda motor berhenti di hadapannya tanpa melakukan tindakan ekstrim lainnya. Pemandangan ini mengingatkan banyak orang pada peristiwa “Tank Man” 4 Juni 1989.

Pada 30 Desember malam, warga Iran kembali turun ke jalan. Terlihat massa merobohkan tiang listrik yang dipasangi bendera Iran, disambut sorak sorai meriah di lokasi.

Banyak Kota Ikut Bergerak

Seruan Mengangkat Putra Mahkota Reza Pahlavi

Protes di Iran kali ini bersifat nasional. Aksi serupa terjadi di kota-kota besar lainnya, termasuk Isfahan di wilayah tengah, Shiraz di selatan, dan Mashhad di timur laut.

Dalam video dari Tabriz, terlihat banyak warga turun ke jalan hingga lalu lintas lumpuh, dengan teriakan yang menggema di seluruh kota.

Dalam video lain yang direkam di Malard, para demonstran menyerukan agar putra mahkota naik ke tampuk kekuasaan dan membawa Iran menuju pemilu serta demokrasi.

Dalam video lain yang direkam di jalanan Iran, para demonstran meneriakkan, “Hidup Iran dan Raja!”—sebuah suara yang sudah lama tidak terdengar di jalanan Iran.

Dalam video lainnya dari kota Hamedan di wilayah barat laut, massa juga meneriakkan “Hidup Raja!”, dengan suara yang menggema sepanjang malam.

Dalam rekaman video siang hari tanggal 29 Desember, terlihat warga Iran meneriakkan nama Reza Pahlavi.

Seruan dari Putra Mahkota Iran di Pengasingan

Pangeran Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, juga mengunggah video secara daring, menyerukan semua lapisan masyarakat Iran untuk bergabung dalam aksi protes jalanan.

Pesan keduanya ditujukan kepada polisi dan pasukan keamanan, meminta mereka untuk tidak berhadapan dengan rakyat, melainkan bergabung bersama rakyat.

Latar Belakang Geopolitik dan Analisis Situasi

Sejarah memang menarik. Sebenarnya, pemandangan seperti ini adalah sesuatu yang ingin dilihat oleh Israel dan Amerika Serikat pada musim panas tahun lalu. Dalam Perang 12 Hari, Israel menghancurkan pangkalan militer Garda Revolusi Iran di Teheran, Tabriz, dan wilayah pesisir selatan, bahkan kemudian melancarkan serangan udara ke kantor polisi dan aparat keamanan. Tujuan Israel adalah menciptakan kondisi agar rakyat Iran bangkit melawan.

Namun selama Perang 12 Hari tersebut, rakyat Iran tidak melancarkan protes besar. Sebaliknya, mereka tidak ingin Israel terus membombardir Iran, karena banyak warga terpaksa meninggalkan rumah dan mengungsi.

Kini, enam bulan telah berlalu. Seiring ekonomi Iran yang terus memburuk, inflasi yang parah, dan kehancuran ekonomi, rakyat Iran akhirnya tidak tahan lagi. Aksi protes besar terakhir terjadi pada tahun 2022. Namun dibandingkan tiga tahun lalu, rezim Iran kini jauh lebih rapuh setelah perang dengan Israel.

Yang lebih penting, rakyat Iran mulai menyadari bahwa rezim yang berkuasa saat ini hanyalah “macan kertas”. Meski biasanya berbicara keras, saat benar-benar berperang dengan Israel, mereka dipukul habis-habisan. Jika aksi protes berskala besar terus berlanjut dan pemerintah Iran kehilangan kendali sepenuhnya, tidak menutup kemungkinan rezim Khamenei akan runtuh. (Hui)

Sumber : NTDTV.com


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Perkembangan Super Flu di AS Semakin Memburuk
• 17 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Retret di Hambalang: Presiden Prabowo Apresiasi Kinerja Kabinet Merah Putih
• 21 jam lalutvrinews.com
thumb
Lini Serang Guardiola Makin Menakutkan, Bayar Rp1,4 Triliun, Manchester City Dapat Semenyo
• 1 jam laluharianfajar
thumb
Pegadaian Championship: PSS Resmi Lepas Satu Bek Tengah, Segera Sambut Pemain Anyar?
• 1 jam lalubola.com
thumb
KPI Mulai Tender Offer Saham IATA, Tawarkan Rp99 per Saham
• 3 menit laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.