Limpasan air laut bercampur dengan luapan Sungai Citarum menggenangi lebih dari 10 titik jalan desa sepanjang 13 kilometer dari Pasar Citopeng menuju Pantai Sedari di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Minggu (4/1/2026). Tingginya bervariasi, dari 10 hingga 20 sentimeter. Gerimis tak kunjung reda sepanjang perjalanan selama 30 menit terakhir.
Mudi, Jalal, dan Karto duduk di jembatan beton, menunggu wisatawan datang di Wisata Alam Mangrove Cikiong. Ketiganya ditugasi oleh pihak desa untuk mengelola dan menjaga loket tiket masuk hutan mangrove tersebut sejak tahun 2000.
”Dulu, hutan ini dikelola Perhutani, terus LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan), sekarang oleh desa. Jalan ini pada 1991 masih berupa tanah, hutan di sekitarnya juga masih lebat, belum ada bangunan di sepanjang jalan menuju Pantai Sedari,” kata Mudi membuka percakapan.
Jalal mengajak berjalan mengelilingi hutan bakau. Jalan setapak yang digenangi air limpasan dari laut dan suara burung bangau yang bersahutan menambah syahdu kawasan itu. ”Rob mulai pukul 08.00 WIB hingga 12.00 WIB. Paling semingguan ini banjir rob baru selesai,” kata Jalal.
Jalal juga menjelaskan bahwa mangrove yang ada di kawasan itu rata-rata ditanam sejak 1985. Saat ini kondisinya banyak yang sudah lapuk. Sekadar informasi, umur mangrove 20-40 tahun. Selain itu beberapa fasilitas seperti jembatan kayu yang dicat warna-warni untuk foto-foto juga sudah rusak sejak 2021.
Wisata Alam Mangrove Cikiong berada di Desa Sedari, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Hutan mangrove yang memiliki luas sekitar 20 hektar ini diresmikan oleh Presiden kedua RI, Soeharto, pada 16 Oktober 1991. Prasasti dengan tanda tangan Soeharto masih terpampang begitu memasuki hutan mangrove ini. Hutan mangrove ini mengalami masa puncak kunjungan wisatawan pada 2018.
Tami bersama 15 anggota keluarganya mengelilingi hutan mangrove. ”Sudah dua kali saya ke sini, dulu masuknya masih pakai jembatan bambu, jalan setapak ini juga masih jalan tanah. Tapi, dulu malah lebih ramai daripada sekarang, mungkin banjir rob membuat warga enggan datang ke sini,” ujar Tami.
Tak jauh, warga memancing ikan, memanfaatkan warung terapung di atas Sungai Citarum di depan hutan mangrove. Air Sungai Citarum bergerak mengombak saat perahu wisatawan melintas. Perahu nelayan yang biasa digunakan untuk melaut dan pergi ke tambak beralih fungsi menjadi perahu wisata pada hari libur. Rute perahu sejauh 2 kilometer dari sekitar hutan mangrove hingga pintu masuk Pantai Sedari.
Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem terpenting di kawasan pesisir. Hutan mangrove selama ini dikenal sebagai penjaga abrasi pantai.
Mangrove mampu menyimpan karbon yang melebihi kemampuan hutan tropis di dataran. Kemampuan mangrove dalam menyerap karbon merupakan jasa ekosistem yang penting pada kondisi perubahan iklim secara global.
Adapun manfaat lain dari keberadaan hutan mangrove yaitu air di sekitar akan menjadi lebih bening, sebagai rantai makanan, dan menjadi habitat baru bagi ekosistem laut.
Kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Sedari melewati pinggir anak Sungai Citarum. Puluhan pemancing mencari spot terbaik di sepanjang 2 kilometer mendekati muara. Pemancing juga bisa patungan menyewa kapal motor nelayan seharga Rp 1,5 juta untuk memancing di lautan selama seharian.
Warga juga ada yang memancing ikan di areal tambak yang pohon mangrovenya sudah ditebang. Polemik soal klaim kawasan hutan sudah berlangsung bertahun-tahun di kawasan tersebut, dan pada Oktober 2025 ratusan pohon mangrove yang berada di sekitar areal tambak ditebang warga yang diprovokasi oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Debur ombak memuaskan wisatawan lokal yang mengisi liburan terakhir Tahun Baru di Pantai Sedari. Berwisata di sekitar tempat tinggal yang ramah di kantong menjadi pilihan warga di saat masih banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi. Pantai berpasir hitam sepanjang 1 kilometer ini dalam beberapa tahun terakhir mulai menarik wisatawan lokal.
Selain pemancing, pantai berjarak sekitar 50 kilometer dari pusat Kota Karawang ini juga banyak diminati pesepeda untuk menjelajahinya pada akhir pekan. Kuliner laut juga banyak tersedia di pantai ini. Sepanjang perjalanan pulang, banyak penjaja hasil laut menawarkan dagangannya mulai dari udang, ikan bandeng, belanak, hingga ikan laut lainnya yang bisa untuk oleh-oleh pulang dengan harga yang terjangkau.





