150 Pesawat Bergerak Serentak: Malam Ketika Maduro Tak Bisa Lari

erabaru.net
1 hari lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Pada 3 Januari, Amerika Serikat melancarkan sebuah operasi militer lintas negara yang langsung mengguncang panggung politik dan keamanan global. Dalam operasi yang dinilai sebagai “operasi tingkat buku teks”, pasukan AS berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro hidup-hidup tanpa satu pun korban di pihak Amerika Serikat—sebuah preseden langka dalam sejarah operasi militer modern AS.

Keberhasilan ini disampaikan secara resmi oleh Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat, Jenderal Dan Caine, dalam konferensi pers pada 3 Januari. Namun, di luar detail taktis operasi, publik justru dibuat terkejut oleh isu teknologi militer rahasia yang kembali mencuat ke permukaan sehari kemudian.

Persiapan Super Rahasia Berbulan-bulan

Menurut laporan Fox News, operasi ini tidak dilakukan secara spontan. Selama berbulan-bulan, lima matra militer AS—bekerja sama erat dengan komunitas intelijen—melaksanakan perencanaan, simulasi, dan latihan intensif dengan tingkat kerahasiaan sangat tinggi.

Salah satu detail paling mencolok adalah pembangunan replika istana kepresidenan Venezuela dalam skala 1:1. Replika ini digunakan untuk latihan berulang pasukan Delta Force, yang disebut telah berlatih ratusan kali guna memastikan tidak ada satu pun mata rantai operasi yang gagal.

Di saat yang sama, badan intelijen AS melakukan pemantauan jangka panjang yang sangat rinci terhadap Maduro:

Seluruh informasi tersebut dipetakan secara presisi untuk menentukan momen eksekusi paling sempurna.

Setelah semua parameter terpenuhi, militer AS menunggu jendela waktu ideal. Kondisi cuaca dan lapisan awan pada dini hari 3 Januari dinilai memenuhi syarat optimal, dan lampu hijau operasi pun diberikan.

Perintah Presiden dan Serangan Udara Terkoordinasi

Pada 2 Januari pukul 22:45, Presiden Donald Trump secara resmi mengeluarkan perintah operasi.

Menjelang dini hari 3 Januari, pada saat tingkat visibilitas paling rendah dan risiko deteksi paling kecil, militer AS melancarkan serangan udara terkoordinasi besar-besaran.

Sebanyak 150 pesawat militer—termasuk F/A-18, F-22, F-35, pesawat peperangan elektronik, pesawat peringatan dini, serta pembom strategis—lepas landas serentak dari sekitar 20 pangkalan darat dan laut.

Angkatan Udara, Angkatan Laut, Korps Marinir, dan Garda Nasional membentuk perisai udara berlapis, sementara pasukan khusus Angkatan Darat diterbangkan menggunakan helikopter pada ketinggian sangat rendah (sekitar 30 meter di atas permukaan laut) menuju ibu kota Caracas.

Langkah pertama operasi gabungan ini adalah melumpuhkan sistem pengawasan dan komunikasi elektronik militer Venezuela. Serangan kejutan tersebut berhasil total, membuat pihak Venezuela nyaris tidak menyadari ancaman hingga pasukan khusus sudah berada di jantung target.

Maduro Ditangkap Hidup-hidup di Istana

Pada pukul 01: 01 dini hari, pasukan khusus AS mendarat langsung di kompleks istana kepresidenan. Kontak senjata terjadi dengan pasukan pengawal Maduro. Salah satu helikopter AS sempat terkena tembakan, namun tetap mampu beroperasi.

Dengan keunggulan daya tembak dan koordinasi, pasukan AS dengan cepat menguasai situasi. Maduro yang terkejut mencoba melarikan diri ke ruang aman berlapis baja, namun berhasil dikejar dan ditangkap sebelum pintu ruang tersebut tertutup.

Menariknya, militer AS sebenarnya telah menyiapkan perangkat penghancur pintu baja berdaya tinggi yang secara teori mampu menembus pintu ruang aman dalam waktu sekitar 47 detik. Namun karena operasi berlangsung terlalu cepat, perangkat tersebut tidak sempat digunakan.

Tak lama kemudian, helikopter evakuasi dipanggil. Maduro beserta istrinya segera diterbangkan keluar area, sementara pesawat tempur tetap berjaga di udara. Hanya terjadi kontak senjata kecil selama fase penarikan pasukan.

Pada pukul 03 : 29, seluruh 150 pesawat kembali ke pangkalan masing-masing dengan selamat. Tidak ada korban jiwa di pihak AS. Operasi berisiko tinggi ini pun berakhir sempurna.

Isu “Teknologi Hitam”: Menangkap Siapa Pun dalam Satu Jam

Sehari setelah operasi, pada 4 Januari, perhatian publik beralih ke sebuah pernyataan lama dari Letnan Jenderal Angkatan Udara AS (purnawirawan) Steven Kwast, yang disampaikan pada November 2019.

Dalam pidato tersebut—yang kembali viral—Kwast menyebut bahwa Amerika Serikat telah menguasai teknologi revolusioner yang berpotensi membuat teknologi kedirgantaraan saat ini menjadi usang.

Media militer The War Zone melaporkan bahwa pada menit ke-12 pidatonya, Kwast menyatakan: “Teknologi ini sudah berada di meja uji coba teknik. Saya menghabiskan 33 tahun bersama para ilmuwan ini. Teknologi ini tidak memerlukan pengembangan lebih lanjut dan mampu memindahkan siapa pun dari titik mana pun di bumi ke lokasi lain dalam waktu kurang dari satu jam.”

Kwast sebelumnya menjabat sebagai Komandan Komando Pendidikan dan Pelatihan Angkatan Udara AS di Pangkalan Gabungan San Antonio, sebuah posisi strategis dalam struktur militer. Ia resmi pensiun pada 2019. Meski beredar rumor bahwa ia dipensiunkan lebih awal karena berbicara terlalu terbuka soal isu luar angkasa, Kwast tidak pernah mengonfirmasi kabar tersebut.

Pernyataan Trump dan Dampak Global

Isu teknologi ini kembali menguat setelah publik mengingat pernyataan Presiden Trump pada April tahun lalu di Ruang Oval: “Kita sangat kuat. Negara ini memiliki kekuatan yang jauh melampaui imajinasi manusia. Kita memiliki senjata yang tidak diketahui siapa pun—dan itu adalah senjata paling kuat di dunia.”

Apakah teknologi “penangkapan dalam satu jam” benar-benar ada masih belum dapat dipastikan. Namun satu hal jelas: tanpa teknologi tersebut pun, Amerika Serikat telah berhasil menangkap Nicolás Maduro melalui operasi militer konvensional yang sangat presisi.

Operasi ini disebut-sebut memberi efek gentar besar terhadap poros negara-negara pesaing seperti Tiongkok dan Rusia. 

Di media sosial, warganet bahkan berseloroh: “Kalau teknologi itu benar-benar ada, mungkin ada pemimpin dunia yang tak bisa tidur nyenyak lagi.”


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Alokasikan Anggaran Rp 335 Triliun untuk MBG pada 2026
• 5 jam lalukompas.com
thumb
Retret di Hambalang: Presiden Prabowo Apresiasi Kinerja Kabinet Merah Putih
• 23 jam lalutvrinews.com
thumb
Media Italia Berbondong-bondong Kritik Jay Idzes usai Bikin Blunder di Laga Sassuolo Kontra Juventus
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
SIM Keliling Jakarta ada di sini
• 7 jam laluantaranews.com
thumb
Dasco soal Wacana Kepala Daerah Dipilih DPRD: Fokus Penanganan Bencana Dulu
• 22 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.