FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Spesial show ke-10 Pandji Pragiwaksono bertajuk Mens Rea terus memantik diskusi publik beberapa waktu terakhir.
Tidak sedikit yang menganggap pertunjukan tersebut berhasil menguliti berbagai kejanggalan dan kerusakan sistem di Indonesia melalui kemasan komedi politik.
Pegiat media sosial, Ainur Rohman, menjadi salah satu yang menyampaikan pandangannya usai menonton pertunjukan tersebut.
Ia menyebut Mens Rea sebagai contoh bagaimana komedi politik bekerja secara efektif.
“Habis fomo nonton Mens Rea. Begitulah komedi politik bekerja,” ujar Ainur di X @ainurohman (5/1/2026).
Dikatakan Ainur, kekuatan komedi politik terletak pada keberaniannya melanggar hal-hal yang selama ini dianggap serius dan sakral, terutama yang berkaitan dengan kekuasaan.
“Yakni dengan cara melanggar sesuatu yang serius atau sakral,” lanjutnya.
Ainur mengatakan sosok Pandji mampu membalik wibawa formal para pejabat dengan menyoroti perilaku mereka yang kerap tampak absurd di ruang publik.
“Menjungkirbalikkan wibawa formal pejabat dengan kelakuan-kelakuan absurd mereka,” tukasnya.
Meski mengangkat isu sensitif, Ainur berpendapat Pandji masih berada dalam batas kesopanan.
“Menurutku sih Pandji tajam, tapi masih sopan ya,” imbuhnya.
Ia kemudian membandingkan gaya Pandji dengan sejumlah komedian internasional yang dikenal jauh lebih ekstrem dalam mengkritik kekuasaan.
“Coba tonton George Carlin, Dave Chappelle, atau Ricky Gervais,” Ainur menuturkan.
Ainur menyinggung George Carlin sebagai sosok yang tanpa ragu membongkar kemunafikan bahasa politik dan struktur kekuasaan dengan pendekatan yang dingin dan tanpa kompromi.
“Carlin mengoyak-ngoyak kebohongan bahasa politik dan struktur kekuasaan dengan logika sangat dingin dan brutal,” ungkapnya.
Sementara itu, Dave Chappelle dia anggap memiliki keberanian luar biasa dalam membicarakan isu ras, kelas, hingga politik identitas.
“Chappelle? Keberaniannya membicarakan ras, kelas, dan politik identitas bisa bikin orang nggak nyaman tapi sekaligus terpesona. Genius!,” tambahnya.
Tidak ketinggalan, Ainur juga menyinggung Ricky Gervais yang dikenal frontal dan nyaris tanpa sensor.
“Apalagi Gervais. Dia seakan nggak peduli dengan sensor atau yang namanya cancel culture,” terangnya.
Ainur bilang, gaya Gervais bahkan kerap menghadirkan kritik langsung ke hadapan elite yang disindirnya.
“Cara dia menyerang elite politik dan Hollywood langsung di depan muka mereka itu brutal banget,” tandasnya.
(Muhsin/fajar)





