Dalam memenangkan perang melawan krisis lingkungan dan persoalan sampah di Indonesia, kekuatan jaringan sosial Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) menjadi kunci utama.
Sehingga Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menandatangani Nota Kesepahaman (NK) dengan Pimpinan Pusat Muslimat NU dalam mewujudkan Indonesia bersih.
Baca Juga: Berpotensi Besar, Kemenperin Dukung Penguatan Industri Hilir Bambu
Ini disampaikan Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq dalam penandatanganan yang bertepatan dengan Rapat Pleno I dan Inagurasi Paralegal Muslimat NU di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut, kolaborasi ini menjadi momentum strategis bagi Menteri LH untuk menggerakkan "pasukan hijau" yang memiliki struktur hingga pelosok negeri guna mempercepat perwujudan Asta Cita terkait kehidupan bersih dan sehat bagi setiap warga negara.
Menteri Hanif mengungkapkan rasa takjubnya terhadap militansi Muslimat NU yang mampu memadukan kepemimpinan hebat dengan pemberdayaan umat secara mandiri.
Baginya, Muslimat NU bukan sekadar organisasi perempuan, melainkan kekuatan sosial luar biasa yang mampu menyentuh unit terkecil masyarakat, yakni rumah tangga, untuk mengubah perilaku hidup bersih secara masif.
"Di tengah ancaman nyata krisis iklim global dan bencana hidrometeorologi seperti yang baru saja melanda Sumatera Bagian Utara. Menjaga kelestarian lingkungan kini adalah bentuk amal jariyah dan bagian tidak terpisahkan dari iman serta nilai kebangsaan," tegas Menteri Hanif, dikutip dari siaran pers Kementerian LH, Senin (5/1).
Sebagai langkah konkret, KLH/BPLH mengintegrasikan peran Muslimat NU ke dalam Program Bersih Sampah Nasional (PROBERNAS) yang telah disepakati bersama Kementerian Dalam Negeri.
Implementasi nyata yang akan dijalankan adalah "Aksi Bersih Sampah pada Hari Jumat" secara rutin dan berkelanjutan, mulai dari lingkungan rumah tangga, RT/RW, hingga tingkat provinsi.
Muslimat NU didorong menjadi pelopor dalam mengedukasi masyarakat untuk memilah sampah dari rumah serta memastikan lokasi-lokasi prioritas yang telah dibersihkan tetap terjaga dari timbulan sampah baru.
"Saya melihat sendiri kekuatan luar biasa saat satu stadion penuh dengan jemaah berbaju hijau; itu bukan sekadar simbol kecantikan, tapi simbol kekuatan, kemandirian, dan keberdayaan bangsa. Jika Muslimat NU sudah bergerak, saya optimis kita akan berhasil, karena tidak ada negara maju yang sampahnya berantakan. Melalui tangan ibu-ibu inilah kita mulai gerakan budaya baru: budaya bersih, peduli lingkungan, dan ekonomi sirkular yang akan memastikan bumi ini menjadi rumah yang lebih sehat untuk generasi mendatang," tegas Menteri LH Hanif Faisol.
Penandatanganan ini juga dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, di antaranya Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU sekaligus Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, serta Ketua PP Muslimat NU yang juga Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi.
“Agar seluruh jajaran di bawah koordinasinya menjalankan mandat ini dengan penuh tanggung jawab dan integritas untuk memberikan manfaat nyata bagi seluruh rakyat Indonesia,” pungkas Menteri Hanif.




