FAJAR, MAKASSAR — Alarm bahaya mulai berbunyi di kubu PSM Makassar. Bukan sekadar soal satu kekalahan, melainkan pola yang berulang dan kian mengkhawatirkan: Juku Eja tampak kesulitan bersaing saat berhadapan dengan tim-tim papan atas Super League.
Rangkaian hasil negatif itu perlahan menggerus posisi dan kepercayaan diri. PSM Makassar tercatat kehilangan 11 poin dari laga-laga krusial melawan rival utama. Semuanya terjadi dalam fase penting kompetisi, saat konsistensi seharusnya menjadi fondasi.
Rentetan hasil tersebut dimulai dari hasil imbang kontra Persebaya Surabaya, sebelum kemudian PSM tumbang secara beruntun dari Malut United, Persib Bandung, dan terbaru Borneo FC Samarinda.
Kekalahan terakhir kembali mempertegas masalah lama yang belum terpecahkan.
Bertanding di Stadion Segiri, Samarinda, Sabtu (3/1/2026), PSM Makassar sebenarnya memulai laga dengan meyakinkan. Dominasi langsung terlihat sejak menit awal.
Baru dua menit pertandingan berjalan, Alex Tanque sukses membawa PSM unggul cepat. Gol itu lahir dari kombinasi cerdas bersama Ananda Raehan. Umpan Ananda disambut sentuhan backheel Alex Tanque yang mengecoh kiper Borneo FC, Nadeo Argawinata. Meski bola bergerak pelan, arah dan timing membuat Nadeo tak berdaya.
Gol cepat tersebut sempat memberi harapan bahwa PSM mampu mencuri poin di Samarinda.
Namun, dominasi itu hanya bertahan di babak pertama.
Memasuki paruh kedua, situasi berubah drastis. Borneo FC perlahan keluar dari tekanan, meningkatkan intensitas permainan, dan mulai mengeksploitasi celah di lini belakang PSM.
Tekanan demi tekanan akhirnya membuahkan hasil. Joel Vinicius menjadi mimpi buruk bagi pertahanan PSM Makassar. Dua gol pemain asal Brasil itu tercipta lewat skenario serupa: umpan silang dan duel udara.
Dua sundulan Vinicius sukses menaklukkan barisan belakang PSM yang dikomandoi Yuran Fernandes. Keunggulan awal PSM pun sirna, dan laga berakhir dengan skor 1-2 untuk kemenangan Borneo FC.
Hasil ini memperpanjang catatan buruk PSM saat menghadapi tim-tim papan atas. Masalahnya bukan semata kalah, tetapi pola kebobolan yang berulang, terutama dari situasi bola mati dan crossing.
Meski demikian, pelatih PSM Makassar Tomas Trucha enggan menyalahkan satu atau dua pemain secara spesifik. Ia menegaskan kekalahan tersebut merupakan akumulasi dari berbagai faktor.
“Tentu saja ini bukan kesalahan dari satu pemain atau dua pemain. Ini kesalahan dari posisi dan kesalahan dari komunikasi antar pemain,” ujar Tomas Trucha usai pertandingan.
Trucha juga menyoroti kegagalan lini depan PSM memanfaatkan peluang, terutama dari situasi bola mati—area yang justru menjadi senjata utama lawan.
“Kita juga harus melihat dari sisi menyerang. Kita tidak memanfaatkan peluang-peluang bola mati yang kita dapatkan, sementara lawan bisa mencetak gol dari set piece. Peluang set piece kita sendiri tidak dimaksimalkan,” tambahnya.
Menurut Trucha, kelemahan tersebut sejatinya sudah menjadi bahan evaluasi sejak sesi latihan. Namun, penerapannya di lapangan belum berjalan maksimal.
“Tentu saja banyak hal yang harus kita pikirkan, banyak yang harus kita koreksi dan perbaiki. Kita harus kembali ke latihan untuk memperbaiki hal-hal tersebut,” pungkas pelatih asal Ceko itu.
Rentetan hasil ini menjadi peringatan serius bagi PSM Makassar. Jika masalah saat menghadapi tim papan atas tak segera dibenahi, peluang bersaing di jalur juara berisiko semakin menjauh.
Super League masih panjang, tetapi kehilangan 11 poin dari laga-laga besar adalah sinyal bahwa PSM membutuhkan solusi cepat—bukan sekadar evaluasi, melainkan perubahan nyata di lapangan.





