Tomat Tampak Mulus? Laser Ungkap Memar yang Tak Terlihat

kumparan.com
2 hari lalu
Cover Berita

Oleh: Muhammad Achirul Nanda, Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran

Tomat merupakan salah satu komoditas hortikultura paling penting di dunia. Data FAO menunjukkan bahwa produksi tomat global mencapai sekitar 186 juta ton per tahun, dengan nilai pasar dunia diperkirakan USD 195,34 miliar pada 2023. Tingginya volume produksi ini berbanding lurus dengan tantangan pascapanen, terutama kerusakan mekanis berupa memar yang sering tidak terdeteksi secara visual.

Masalah Memar Tomat dalam Angka

Berbagai laporan menunjukkan bahwa kehilangan tomat pascapanen dapat mencapai 30–80%, tergantung pada sistem penanganan dan distribusi. Sebagian besar kerugian ini tidak disebabkan oleh busuk yang tampak jelas, melainkan oleh kerusakan internal yang luput dari sortir visual. Memar pada tomat tidak selalu meninggalkan luka atau perubahan warna pada kulit. Secara kasat mata, tomat masih tampak mulus dan layak jual. Namun, di dalamnya jaringan sudah melemah, kadar air meningkat, dan proses pelunakan berlangsung lebih cepat. Akibatnya, umur simpan tomat dapat berkurang beberapa hari dan risiko pembusukan meningkat selama penyimpanan. Dalam satu kemasan, satu tomat memar bahkan dapat mempercepat kerusakan tomat lain di sekitarnya.

Pendekatan Non-Destruktif Berbasis Laser

Seiring berkembangnya teknologi, pendekatan non-destruktif semakin banyak digunakan untuk menilai mutu hasil pertanian. Salah satu teknologi yang menjanjikan adalah Laser-Light Backscattering Imaging (LLBI), bagian dari teknologi penginderaan optik dan machine vision. Prinsip kerjanya relatif sederhana. Cahaya laser pada rentang panjang gelombang tampak hingga inframerah dekat, sekitar 400–1000 nm, diarahkan ke permukaan tomat. Ketika cahaya mengenai kulit buah, hanya sekitar 4–5% cahaya yang langsung dipantulkan, sementara sebagian besar energi cahaya lainnya menembus jaringan buah. Fenomena ini telah lama dijelaskan oleh Birth (1976), yang menyatakan bahwa produk pertanian hanya memantulkan sebagian kecil cahaya datang, sedangkan sisanya berinteraksi dengan jaringan internal.

Cahaya yang masuk ke dalam tomat kemudian mengalami hamburan dan penyerapan oleh sel, pigmen, dan kandungan air sebelum akhirnya tersebar kembali ke permukaan. Pola cahaya yang kembali ini membentuk profil hamburan balik yang mencerminkan kondisi internal tomat. Tomat sehat menghasilkan pola cahaya yang lebih rapat dan simetris, sedangkan tomat memar menunjukkan pola yang lebih lebar dan menyebar. Perbedaan ini berkaitan langsung dengan perubahan struktur jaringan dan peningkatan kadar air.

Mengapa Warna Laser Berpengaruh?

Tidak semua cahaya laser memberikan respons yang sama ketika diarahkan ke permukaan tomat. Laser merah dengan panjang gelombang 648 nm terbukti paling peka dalam mendeteksi memar karena mampu menembus jaringan tomat lebih dalam dibandingkan laser biru atau hijau. Akibatnya, perubahan struktur internal buah dapat terbaca lebih jelas melalui pola cahaya yang tersebar kembali ke permukaan. Menurut Nanda et al. (2025), tomat memar menghasilkan pola hamburan cahaya yang lebih lebar dibandingkan tomat sehat. Perbedaan ini cukup konsisten untuk digunakan sebagai dasar pemisahan mutu, dengan tingkat akurasi deteksi sekitar 96%, bahkan ketika kerusakan belum tampak secara visual.

Menjaga Mutu Tomat dengan Laser

Pola cahaya hasil pemindaian laser dianalisis oleh sistem komputer yang mempelajari tekstur cahaya, seperti tingkat keteraturan dan keseragaman pola hamburan, bukan sekadar warna atau bentuk buah. Dengan bantuan kecerdasan buatan, tomat dapat diklasifikasikan secara otomatis menjadi sehat atau memar, tanpa menyentuh dan tanpa merusak buah, serta dapat dilakukan dalam waktu singkat.

Di balik tampilannya yang sederhana, tomat memerlukan pengendalian mutu yang presisi. Teknologi laser menunjukkan bahwa cahaya dapat berfungsi sebagai alat diagnosis, membaca kondisi internal buah tanpa harus membelahnya, sehingga membuka peluang bagi sistem pascapanen yang lebih cerdas, efisien, dan berkelanjutan dalam menjaga kualitas tomat segar.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Harga Buyback Emas Antam di Pegadaian Hari Ini 7 Januari 2026
• 17 jam lalubisnis.com
thumb
Kelompok Paramiliter Venezuela Cari Warga yang Dukung Serangan AS
• 17 jam laluidntimes.com
thumb
TKA Resmi Jadi Syarat Wajib Siswa Eligible SNBP 2026, Ini Penjelasan Panitia
• 13 jam lalukompas.tv
thumb
Intip, Asing Ngumpulin 10 Saham Ini Kala IHSG Cetak Rekor Baru
• 16 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Jangkau 55,1 Juta Penerima, Program MBG Cetak Tingkat Keberhasilan 99,99 Persen
• 9 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.