Kenapa AS Menyerang Venezuela dan Menangkap Maduro?

metrotvnews.com
1 hari lalu
Cover Berita

Jakarta: Amerika Serikat (AS) melakukan serangan besar-besaran dan menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro beserta istrinya pada Sabtu, 3 Januari 2026. Operasi bertajuk Absolute Resolve ini dilancarkan AS setelah ketegangan berbulan-bulan antara kedua negara.

Dalam pernyataannya usai penangkapan, Presiden AS Donald Trump menyatakan akan mengambil alih negara tersebut hingga terbentuk "transisi yang aman, tepat, dan bijaksana." Setelah serangkaian serangan di wilayah Venezuela.

Operasi ini memicu kecaman internasional, termasuk dari Iran dan Rusia, yang menuduh AS telah melanggar kedaulatan nasional Venezuela.

Dengan mempertimbangkan implikasi hukum internasional dan berbagai kecaman terhadap pemerintahan Trump, pertanyaan yang mengemuka adalah: mengapa AS nekat menjalankan Operasi Absolute Resolve? Berikut penjelasannya.
 

Kenapa Trump Menargetkan Venezuela?

Melansir BBC, Trump menyalahkan Nicolás Maduro atas masuknya ratusan ribu migran Venezuela ke AS. Para migran tersebut termasuk bagian dari hampir delapan juta warga Venezuela yang meninggalkan negara mereka sejak 2013 akibat krisis ekonomi dan tindakan represif pemerintah.

Tanpa bukti konkret, Trump menuduh Maduro telah "mengosongkan penjara dan rumah sakit jiwa," serta memaksa penghuninya untuk bermigrasi ke AS. Tuduhan ini memperkuat narasi Trump bahwa pemerintahan Venezuela merupakan sumber gangguan keamanan dan sosial di dalam negeri AS.

Di saat yang sama, Trump menjadikan perang terhadap narkotika sebagai pilar utama kebijakan luar negeri dan dalam negerinya, terutama yang berkaitan dengan fentanyl dan kokain. Dalam narasi tersebut, Venezuela disebut sebagai bagian dari jalur distribusi narkoba dan jaringan kriminal internasional.

Trump kemudian secara resmi menetapkan dua kelompok kriminal asal Venezuela—Tren de Aragua dan Cartel de los Soles—sebagai Foreign Terrorist Organisations (FTO). Trump menuduh Cartel de los Soles berada di bawah kendali langsung Maduro.

Namun, banyak analis menilai bahwa Cartel de los Soles tidak memiliki struktur organisasi yang hierarkis dan lebih merupakan istilah luas untuk menyebut pejabat-pejabat korup yang memungkinkan kokain melewati Venezuela.

Sebagai bagian dari strategi tekanan, Trump menggandakan jumlah hadiah untuk informasi yang dapat mengarah pada penangkapan Maduro sebesar USD 50 juta. Ia juga mengumumkan niat untuk menetapkan seluruh pemerintahan Maduro sebagai FTO.

Maduro membantah keras tuduhan tersebut dan menuduh AS menggunakan perang terhadap narkoba sebagai dalih untuk menggulingkannya dan merampas cadangan minyak Venezuela.
 

Tekanan Berkepanjangan Trump terhadap Maduro 

Tekanan terhadap pemerintahan Maduro mulai meningkat tajam sejak awal masa jabatan kedua Trump pada Januari. Langkah awalnya adalah dengan menggandakan hadiah penangkapan Maduro.

Mulai September, pasukan AS melakukan serangan terhadap kapal-kapal yang dituduh mengangkut narkoba dari Amerika Selatan menuju AS. Dalam periode tersebut, lebih dari 30 serangan terjadi di kawasan Karibia dan Pasifik, menewaskan lebih dari 110 orang.

Pemerintah AS menyatakan bahwa negara tersebut sedang terlibat dalam konflik bersenjata non-internasional melawan penyelundup narkoba yang menjalankan "perang tidak teratur" terhadap AS. Namun, banyak ahli hukum internasional menolak pandangan tersebut dan menyebut serangan itu bukan menyasar target militer sah.

Serangan pertama pada 2 September menjadi sorotan karena dilakukan dua kali: setelah serangan pertama, para korban yang selamat dilaporkan tewas dalam serangan kedua.

Seorang mantan kepala jaksa Mahkamah Pidana Internasional (ICC) menyatakan kepada BBC bahwa kampanye militer AS bisa dikategorikan sebagai serangan terencana dan sistematis terhadap warga sipil di masa damai.

Gedung Putih membela diri dengan menyatakan tindakan AS sesuai hukum konflik bersenjata untuk melindungi warganya dari kartel narkoba yang "mencoba membawa racun ke pantai kami dan menghancurkan nyawa orang Amerika".

Pada Oktober, Trump menyampaikan bahwa ia telah memberi izin kepada CIA untuk melaksanakan operasi rahasia di wilayah Venezuela. Trump juga mengancam akan melakukan serangan darat terhadap apa yang ia sebut sebagai "narco-terrorists".

Trump menyatakan bahwa serangan darat pertama telah dilakukan pada 24 Desember dengan target "area dermaga" tempat perahu-perahu yang dicurigai membawa narkoba sedang dimuat.

Menjelang penangkapan Maduro, Trump secara terbuka menyebut Maduro "bukan teman AS" dan menyatakan bahwa Maduro "akan cerdas jika ia pergi". Ia juga memperketat tekanan ekonomi dengan memberlakukan "blokade laut total" terhadap semua kapal tanker minyak Venezuela yang dikenai sanksi.

Minyak merupakan tulang punggung pendapatan devisa pemerintah Venezuela.

AS juga mengerahkan kekuatan militer besar-besaran di kawasan Karibia. Tujuan yang diumumkan adalah untuk menghentikan aliran fentanyl dan kokain ke AS. Armada militer ini juga berperan penting dalam menjalankan blokade terhadap kapal tanker minyak Venezuela.
 

Baca Juga:
Penangkapan Maduro dan Hukum Rimba di Tatanan Global Baru   Apakah Venezuela Membanjiri AS dengan Narkoba?

Di luar pernyataan politik, para pakar kontra-narkotika menilai Venezuela hanya memiliki peran kecil dalam perdagangan narkoba global. Negara ini lebih sering menjadi wilayah transit untuk narkoba yang diproduksi di negara lain.

Kolombia—tetangga Venezuela—merupakan produsen kokain terbesar di dunia. Namun, sebagian besar kokain yang masuk ke AS diduga melewati jalur lain, bukan langsung dari Venezuela.

Menurut laporan US Drug Enforcement Administration (DEA) tahun 2020, hampir 75 persen kokain yang mencapai AS dikirim melalui jalur Pasifik. Hanya sebagian kecil yang datang melalui jalur laut cepat di Karibia. Karena itu, meski pada awalnya banyak serangan AS terjadi di Karibia, dalam perkembangannya fokus operasi lebih diarahkan ke kawasan Pasifik.

Pada September, Trump menyatakan kepada pemimpin militer AS bahwa kapal-kapal yang menjadi target serangan "penuh dengan kantong-kantong bubuk putih, sebagian besar fentanyl, serta narkoba lainnya".

Fentanyl adalah obat sintetis dengan kekuatan 50 kali lebih kuat dari heroin dan merupakan penyebab utama kematian akibat overdosis opioid di AS. Pada 15 Desember, Trump menandatangani perintah eksekutif yang mengklasifikasikan fentanyl sebagai "senjata pemusnah massal" karena dinilai lebih mendekati karakteristik senjata kimia ketimbang narkotika.

Meski demikian, fentanyl sebagian besar diproduksi di Meksiko dan hampir seluruhnya masuk ke AS melalui jalur darat di perbatasan selatan. Dalam National Drug Threat Assessment DEA tahun 2025, Venezuela tidak disebut sebagai negara asal fentanyl yang diselundupkan ke AS.
 

AS Dituduh Ingin Menguasai Sumber Daya Minyak Venezuela

Maduro telah lama menuduh pemerintahan Trump berupaya menjatuhkannya agar AS bisa menguasai kekayaan minyak Venezuela. Ia menyinggung komentar Trump setelah AS menyita tanker minyak pertama di lepas pantai Venezuela. Ketika ditanya wartawan tentang apa yang akan terjadi pada tanker dan muatannya, Trump berkata, "Saya berasumsi kita akan menyimpan minyak itu."

Namun, pejabat AS sebelumnya membantah tuduhan Venezuela bahwa langkah terhadap pemerintahan Maduro bertujuan mengamankan akses terhadap cadangan minyak yang belum tergarap.

Venezuela memiliki cadangan minyak mentah terbukti terbesar di dunia. Keuntungan sektor minyak disebut membiayai lebih dari setengah anggaran pemerintah. Meski demikian, ekspor Venezuela terpukul sanksi, minim investasi, serta salah urus di perusahaan minyak negara.

Menurut US Energy Information Administration (EIA), pada 2023 Venezuela hanya memproduksi 0,8% dari produksi minyak mentah global. Venezuela saat ini mengekspor sekitar 900.000 barel per hari, dan China menjadi pembeli terbesar.

Setelah penangkapan Maduro, Trump menyatakan bahwa AS akan "sangat terlibat" dalam industri minyak Venezuela.

"Saya kira kita akan sangat terlibat dalam hal itu," ujar Trump pada Sabtu dalam wawancara dengan Fox News.

"Kita memiliki perusahaan minyak terbaik di dunia—yang terbesar, yang terbaik—dan kita akan sangat terlibat di dalamnya," tambahnya.

Ketika ditanya kembali dalam konferensi pers di hari yang sama, Trump menyatakan bahwa AS akan menjual kembali minyak Venezuela ke Iran, Rusia, dan Tiongkok.

"Kita akan menjual minyak, mungkin dalam jumlah yang jauh lebih besar, karena mereka tidak bisa memproduksi banyak akibat infrastruktur mereka yang sangat buruk," kata Trump.

"Kita akan menjual minyak dalam jumlah besar ke negara-negara lain, banyak di antaranya sudah menggunakannya sekarang, dan saya kira akan semakin banyak lagi yang akan membeli," imbuhnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ini Alasan ESDM Izinkan SPBU Swasta Impor BBM Tahun 2026
• 31 menit laludisway.id
thumb
Isu Kedekatan Jule dan Jefri Nichol, Foto di Bali Ini Tuai Sorotan
• 5 jam laluinsertlive.com
thumb
Begini Cara Jadi Mahasiswa KIP Kuliah yang Baik dan Berprestasi
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Begini Arti Kata Stecu Sebenarnya yang Sering Viral di Tiktok
• 19 jam lalukatadata.co.id
thumb
Pemain Perseta 1970 Alami Retak Tulang Rusuk Akibat Ditendang Hilmi Penggawa PS Putra Jaya
• 18 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.