CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Ironis. Di tengah gencarnya pidato program swasembada pangan, tingkat kesejahteraan petani di Sulawesi Selatan justru melemah.
Hal itu terekam dari data Nilai Tukar Petani (NTP) sebagai salah satu indikator kesejahteraan petani. NTP gabungan semua sektor Sulsel pada Desember 2025 tercatat pada angka 119,10, melemah dibandingkan pada Desember 2024 di posisi angka 121,01.
Demikian juga data Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) pada Desember 2025 pada posisi 124,55, tak bergerak signifikan dari angka pada Desember 2014 di posisi 124,33.
Nilai Tukar Petani diukur dari indeksasi harga yang diterima dan harga yang dibayar petani. Indeks harga yang diterima adalah nilai produk pertanian yang dijual dari usaha bertani. Sedangkan indeks harga yang dibayar adalah nilai yang dikeluarkan petani dalam usaha bertani, seperti membeli pupuk, bibit, dan biaya hidup mereka.
NTP idealnya jauh di atas angka 100, yang berarti indeks harga yang diterima petani jauh lebih tinggi dibanding indeks harga yang dibayar.
Jika NTP sama dengan 100, artinya petani hanya pulang pokok (break even). Jika di bawah angka 100, berarti petani tekor.
Menurut data yang dirilis BPS Sulsel, Senin (5/1/2026), NTP Gabungan Sulsel pada Desember 2025 tercatat sebesar 119,10 dan relatif stabil dibandingkan November 2025 yang sebesar 119,09. Kondisi ini menunjukkan bahwa daya beli petani secara umum masih terjaga.
Secara subsektoral, NTP Subsektor Tanaman Pangan (NTPP) tercatat sebesar 112,19, Tanaman Hortikultura (NTPH) sebesar 124,71, Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) sebesar 144,71, Peternakan (NTPT) sebesar 109,99, dan Perikanan (NTNP) sebesar 115,13.
Dari lima subsektor pertanian, tiga subsektor mengalami peningkatan NTP dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu Subsektor Hortikultura sebesar 6,89 persen, Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 1,38 persen, dan Peternakan sebesar 1,23 persen.
Sementara itu, penurunan NTP terjadi pada Subsektor Tanaman Pangan sebesar 1,26 persen dan Subsektor Perikanan sebesar 0,52 persen.
Menurut BPS, perkembangan ini mencerminkan perbedaan kinerja antar subsektor pertanian yang dipengaruhi oleh perubahan harga produksi dan biaya konsumsi rumah tangga petani.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/4781409/original/067008100_1711104260-IMG-20240322-WA0035.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5470804/original/040722600_1768233931-WhatsApp_Image_2026-01-12_at_22.11.10.jpeg)