Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) memprediksi permintaan ekspor batu bara Indonesia pada tahun ini masih moderat sehingga memicu tekanan untuk pertumbuhan usaha domestik.
Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani mengatakan, para pelaku usaha hanya memasang ekspektasi pertumbuhan usaha terbatas sekitar 0,5% dan tidak lagi signifikan.
“Seiring permintaan global batu bara termal yang cenderung moderat, pertumbuhan ke depan diperkirakan sangat terbatas,” kata Gita kepada Bisnis, dikutip Senin (5/1/2026).
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor batu bara terus mengalami penurunan. Secara kumulatif, ekspor emas hitam itu tercatat hanya mencapai US$22,17 miliar atau turun 20,27% dibandingkan dengan Januari-November 2024 sebesar US$27,80 miliar.
Secara volume, ekspor batu bara turun 3,97% menjadi 354,64 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yaitu 269,31 juta ton.
Terlebih, sejumlah kebijakan makin membuat dunia usaha tertekan. Misalnya, rencana penerapan bea keluar batu bara hingga pemangkasan produksi yang tengah digodok pemerintah.
Baca Juga
- Ekspor Batu Bara dan Lignit Sumsel Merosot 15,25%
- Ekspor Komoditas Unggulan RI: Batu Bara hingga CPO Anjlok pada November 2025
- Harga Batu Bara Acuan (HBA) Periode Pertama Januari 2026 Mayoritas Naik
Menurut Gita, sejumlah kebijakan tersebut perlu diterapkan secara terukur dan berbasis kondisi pasar. Terlebih terkait dengan wacana pemangkasan produksi, jika dilakukan dengan agresif maka dapat berisiko ke penyerapan tenaga kerja, utilisasi alat berat, serta kelanjutan rencana investasi.
Gita menuturkan, pihaknya memahami tujuan pemerintah memangkas produksi batu bara adalah untuk mengendalikan produksi. Namun, implementasinya juga perlu dilakukan secara hati-hati dan terukur.
Kendati demikian, dia mengaku belum mendapat informasi pasti terkait berapa kuota produksi yang bakal dipangkas pemerintah. Gita hanya menekankan bahwa pihaknya bakal berfokus pada efisiensi biaya hingga pendekatan pasar yang lebih adaptif.
"Ke depan, strateginya akan berfokus pada disiplin biaya, peningkatan efisiensi, serta pendekatan pasar yang lebih selektif dan adaptif," ucapnya.




