Venezuela merupakan negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Namun, negara ini menghadapi krisis usai diserang AS dan Presiden Nicolas Maduro ditangkap.
Sebelum serangan AS dengan penangkapan Maduro, Presiden Donald Trump sudah sering menekan Venezuela. Trump menuduh Venezuela menggunakan uang hasil minyak untuk mendanai kejahatan terkait narkoba. Trump bahkan memblokade kapal minyak Venezuela.
Minyak, Sumber Utama Ekonomi VenezuelaDikutip dari Anadolu Agency, Selasa (6/1), Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia dengan estimasi 303 miliar barel. Berdasarkan data OPEC, jumlah cadangan minyak yang dimiliki Venezuela melampaui cadangan minyak milik Arab Saudi dan AS.
Orinoco Belt, wilayah di timur yang mencakup sekitar 55 ribu kilometer persegi, adalah tempat sebagian besar cadangan minyak Venezuela berada. Sayangnya, produksi minyak Venezuela sangat kecil jika dibandingkan kapasitasnya.
Venezuela secara konsisten memproduksi lebih dari 3 juta barel per hari (bpd) sepanjang akhir tahun 1990-an dan awal 2000-an. Namun, kurangnya investasi dan sanksi AS mengurangi produksi menjadi antara 1 dan 1,2 juta bpd pada 2025.
Produksi minyak Venezuela semakin terganggu karena sanksi, kesulitan teknis, keterbatasan infrastruktur, dan penurunan produksi yang sporadis.
Pada November 2025, Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan Venezuela memproduksi 860 ribu bpd -- lebih rendah dibandingkan produksi pada Oktober 2025 sebesar 1,01 juta dan sekitar 1 juta bpd pada September 2025.
Berdasarkan data dari Observatorium Kompleksitas Ekonomi (OEC), Venezuela hanya mengekspor minyak mentah senilai USD 4,05 miliar pada 2023. Ini tentu jauh di bawah eksportir utama lainnya, termasuk Arab Saudi yang mengekspor minyak senilai USD 181 miliar, AS dengan USD 125 miliar, dan Rusia dengan 122 miliar.
Perusahaan minyak negara, PDVSA, melaporkan penjualan minyak ke luar negeri -- utamanya ekspor minyak mentah dan bahan bakar -- sebesar USD 17,52 miliar pada 2024. Artinya, volume ekspor rata-rata sekitar 805 ribu bpd, naik 15% dari level tahun 2023.
Sementara itu, Reuters mencatat bahwa AS dulu merupakan pembeli minyak terbesar dari Venezuela. Sanksi yang dikenakan AS membuat China kini jadi pembeli minyak terbesar dari Venezuela.
Venezuela berutang sekitar USD 10 miliar ke China, setelah China menjadi pemberi pinjaman terbesar di era pemerintahan mendiang Hugo Chavez.
Venezuela membayar kembali pinjaman tersebut dengan minyak mentah yang diangkut dalam tiga kapal tanker minyak super besar yang sebelumnya dimiliki bersama oleh Venezuela dan China. Dua dari kapal tangker super besar itu tiba di Venezuela pada Desember 2025 saat Trump mengumumkan memblokir seluruh kapal tank yang masuk dan keluar Venezuela.
Mineral Ditargetkan Jadi Alternatif MinyakSelain minyak, Venezuela kini menargetkan mineral jadi alternatif produksi minyak. Langkah ini diumumkan Maduro dan wakilnya Delcy Rodriguez pada 2019 lalu, lewat rencana pertambangan lima tahun yang bertujuan meningkatkan ekstraksi mineral.
Tahun sebelumnya, pemerintah Venezuela merilis data tentang deposit mineral yang menggunakan istilah-istilah kunci industri pertambangan secara bergantian, termasuk cadangan dan sumber daya. Ini menyulitkan untuk memastikan apakah Caracas mengetahui potensi penuh industri pertambangannya.
Dalam katalog mineral yang diterbitkan pada 2018 untuk calon investor di situs Kementerian Pertambangan, diperkirakan ada cadangan batubara sekitar 3 miliar metrik ton dan 407.885 metrik ton cadangan nikel.
Katalog yang sama juga memprediksi cadangan emas sebesar 644 metrik ton, sumber daya bijih besar 14,68 miliar metrik ton, dan sumber daya bauksit sebesar 321,5 miliar metrik ton.
Pada 2021, pemerintah Venezuela mempublikasikan peta cadangan mineral berdasarkan data yang dikumpulkan pada 2009. Peta itu menunjukkan cadangan antimon, tembaga, nikel, koltan, molibdenum, magnesium, perak, seng, titanium, tungsen, dan uranium. Namun, berapa jumlahnya tidak dirinci.




