Ini Biang Kerok “Gaji Numpang Lewat” di 2025

viva.co.id
1 hari lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Dua ribu dua lima menjadi tahun pelajaran penting bagi banyak karyawan atau pekerja dengan penghasilan UMR (Upah Minimum Regional).

Fenomena “gaji numpang lewat”, di mana penghasilan baru diterima, tapi langsung habis dalam hitungan hari, kembali marak diperbincangkan.

Baca Juga :
Pegawai Bergaji Maksimal Rp 10 Juta Bebas Pajak, Purbaya Beberkan Kriterianya
Tahun Baru, Naik Gaji? Cek Daftar UMP 2026 Lengkap di Seluruh Provinsi

Pengalaman tersebut rasa-rasanya juga dialami oleh banyak orang. Sebab, di tengah meningkatnya biaya hidup dan tren konsumsi gaya hidup digital, banyak pekerja merasa terjebak dalam siklus keuangan tanpa bisa menyisakan sebagiannya untuk simpanan atau tabungan.

Terlebih, setelah lonjakan harga kebutuhan pokok dan meningkatnya pengeluaran non-esensial selama setahun terakhir. Namun, kabar baiknya, sejumlah perencana keuangan menilai tren ini sebenarnya bisa diatasi.

Cara termudah adalah, para pekerja disarankan mulai membangun disiplin finansial dan memahami ritme pengeluaran sehari-hari.

Cara individu mengatur uang saat ini cenderung spontan dan rentan sekali tergiur dengan promo, tren hiburan, atau kebutuhan sosial yang cenderung untuk terapi kesehatan mental seperti berlibur atau ‘healing’.

Lalu, olahraga berbiaya mahal seperti tenis, padel, golf, dan menggunakan personal trainer di gym, hingga terlalu sering menghabiskan anggaran untuk menikmati kuliner di café-café kekinian daripada merencanakan keuangan dengan matang sejak awal.

Seorang ahli perencana keuangan, Rista Zwestika, menjelaskan ada banyak strategi sederhana yang bisa diterapkan untuk memutus pola “gaji hilang dalam sekejap”, seperti mengaktifkan tabungan berjangka dengan saldo yang tersedot otomatis, membatasi pengeluaran impulsif, serta menempatkan prioritas ke kebutuhan jangka panjang.

“Upgrade value-nya, perbesar link-nya. Peluang itu datang kalau kita siap,” kata Rista. Para ahli juga menyoroti bahwa 2025 menjadi titik balik karena perubahan gaya hidup masyarakat berlangsung bersamaan dengan menjamurnya event-event hiburan, termasuk konser besar dan festival musik yang menghadirkan banyak artis internasional.

Ia juga menjelaskan bahwa perbaikan kondisi keuangan personal tidak bisa dilakukan secara instan, tetapi membutuhkan penyesuaian strategi yang sesuai dengan latar belakang tiap individu. Langkah pertama yang perlu menjadi perhatian adalah pengelolaan pendapatan.

“Apa sih yang kita benerin? Contoh, kalau kita punya pendapatan, apakah pakai rumus 50-30-20 atau 50-20-10-10? Itu bisa disesuaikan dengan kondisi klien,” ujar Rista.

Baca Juga :
Kejernihan Mental dan Fokus Dorong Kesuksesan yang Konsisten dalam Trading Forex, Begini Penjelasannya
SoftBank Rampungkan Investasi Jumbo Rp670 Triliun ke OpenAI, Siap Dominasi AI Global
Warren Buffett Resmi Pensiun Hari Ini, Ini 10 Pelajaran Investasi yang Wajib Dicatat Investor

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bukan Sekadar Tren, Ini Alasan UBSI Jadi Kampus Favorit Generasi Digital 2026
• 17 jam lalurepublika.co.id
thumb
Arsenal vs Liverpool: Menanti Pencetak Gol ke-200
• 16 jam lalugenpi.co
thumb
Netflix Hapus Dracin Shine On Me di Vietnam, Gara-Gara Peta Laut China Selatan
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Amorim Dipecat MU, Garnacho Bahagia
• 20 jam lalurealita.co
thumb
Pembangunan IKN Didorong Berjalan Seimbang antara Infrastruktur dan Lingkungan
• 13 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.