Oleh: Muhammad Noor Alfian Choir
REPUBLIKA.CO.ID, Bau menyengat kehitaman dari sisa sayuran di pinggir Jalan Dewi Sartika, Ciputat, Tangerang Selatan bukan datang tiba-tiba. Ia muncul perlahan, hari demi hari, seiring kebiasaan membuang sampah yang selama ini dianggap biasa.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});- KLH Ingatkan Pemkot Tangsel untuk Kelola Sampah Mandiri
- DLH Angkut 91,41 Ton Sampah Usai Perayaan Malam Tahun Baru di Jakarta
- Tangsel Darurat Sampah, Walkot: Jujur TPA Cipeucang tak Mampu Tampung Beban
Ketika tumpukan itu akhirnya menggunung di bahu jalan, barulah semua orang menyadari: yang bermasalah bukan hanya sampahnya, tetapi juga sistem yang gagal bekerja dan kebiasaan yang dibiarkan tumbuh tanpa koreksi.
Selama bertahun-tahun, sejumlah titik di Ciputat menjadi lokasi pembuangan sementara bagi pedagang pasar kaget dan warga sekitar. Setiap malam, sisa potongan buah, sayur, dan sampah rumah tangga diletakkan di pinggir jalan. Setiap pagi juga truk datang mengangkutnya. Siklus itu berulang, membentuk kebiasaan kolektif: buang dulu, urusan belakangan.
'use strict';(function(C,c,l){function n(){(e=e||c.getElementById("bn_"+l))?(e.innerHTML="",e.id="bn_"+p,m={act:"init",id:l,rnd:p,ms:q},(d=c.getElementById("rcMain"))?b=d.contentWindow:x(),b.rcMain?b.postMessage(m,r):b.rcBuf.push(m)):f("!bn")}function y(a,z,A,t){function u(){var g=z.createElement("script");g.type="text/javascript";g.src=a;g.onerror=function(){h++;5>h?setTimeout(u,10):f(h+"!"+a)};g.onload=function(){t&&t();h&&f(h+"!"+a)};A.appendChild(g)}var h=0;u()}function x(){try{d=c.createElement("iframe"), d.style.setProperty("display","none","important"),d.id="rcMain",c.body.insertBefore(d,c.body.children[0]),b=d.contentWindow,k=b.document,k.open(),k.close(),v=k.body,Object.defineProperty(b,"rcBuf",{enumerable:!1,configurable:!1,writable:!1,value:[]}),y("https://go.rcvlink.com/static/main.js",k,v,function(){for(var a;b.rcBuf&&(a=b.rcBuf.shift());)b.postMessage(a,r)})}catch(a){w(a)}}function w(a){f(a.name+": "+a.message+"\t"+(a.stack?a.stack.replace(a.name+": "+a.message,""):""))}function f(a){console.error(a);(new Image).src= "https://go.rcvlinks.com/err/?code="+l+"&ms="+((new Date).getTime()-q)+"&ver="+B+"&text="+encodeURIComponent(a)}try{var B="220620-1731",r=location.origin||location.protocol+"//"+location.hostname+(location.port?":"+location.port:""),e=c.getElementById("bn_"+l),p=Math.random().toString(36).substring(2,15),q=(new Date).getTime(),m,d,b,k,v;e?n():"loading"==c.readyState?c.addEventListener("DOMContentLoaded",n):f("!bn")}catch(a){w(a)}})(window,document,"djCAsWYg9c"); .rec-desc {padding: 7px !important;}
Alih-alih berkurang, volume sampah justru terus bertambah. Pedagang tetap berjualan, warga tetap membuang, seolah-olah sistem masih berjalan normal.
Bahkan ketika di lokasi, tim Republika melihat ada warga dengan santainya membuang sampahnya dari atas motor. “Kalau cuma ditutup terpal, bukan solusi,” kata Doni, pengojek di sekitar lokasi saat ditemui Republika pekan lalu.
Menurutnya, bau menyengat menjadi keluhan utama, disusul risiko keselamatan. Saat hujan turun, sampah basah terbawa air ke badan jalan dan membuat permukaan licin.
Kekhawatiran itu terbukti, ia menceritakan pernah ada saat seorang pengendara sepeda motor yang melintas terpeleset dan terjatuh saat hujan. Peristiwa itu cukup menjadi penanda bahwa sampah bukan lagi sekadar gangguan pemandangan.
“Kalau hujan bahaya. Pernah ada yang jatuh karena jalannya licin,” kata Doni.
Bunga (17), pelajar yang setiap hari melintas di kawasan tersebut, mengaku terganggu. “Bau, nggak enak dilihat. Nyebrang juga susah karena kehalang sampah,” katanya.
Hal senada juga disampaikan oleh pedagang siomay di lokasi,ia mengeluh pembeli jadi tidak nyaman lantaran bau yang menyengat. “Jadi bau, orang yang makan jadi ngak nyaman dan lingkungannya jadi kotor,” kata Daus.
Ketika TPA Tersendat...


