Sama-sama terletak di Cincin Api Pasifik yang merupakan jalur vulkanis aktif dunia; sama-sama beriklim tropis dengan hangat sinar matahari hampir sepanjang tahun; sama-sama memiliki hutan hujan tropis; sama-sama didiami satwa langka dan burung berbulu warna-warni; serta sama-sama penghasil biji kopi terbaik dunia. Itulah beberapa kesamaan antara Indonesia dan Kosta Rika, negara di Amerika Tengah.
Walau secara ukuran geografis berbeda jauh (luas wilayah Kosta Rika hanya 2,6% dari total luas daratan Indonesia), kedua negara memiliki kesamaan geologis dan biodiversitas yang tak terbantahkan. Alam Kosta Rika adalah versi mini dari kekayaan hayati Indonesia. Namun, ia di sisi Bumi yang berbeda. Bak saudara yang terpisah jarak 19.000 km dibelah Samudra Pasifik.
***
Pagi pertama di Kosta Rika. Jam 6.30 langit sudah terang benderang. Saya membuka tirai jendela, dan langsung mengangkat tangan melindungi mata saking silau sinar mentari menerobos masuk kamar. Dibanding di Indonesia, matahari rupanya terbit lebih cepat di Kosta Rika—meski sebetulnya waktu di sana 13 jam di belakang Indonesia bagian barat.
Saya buru-buru bersiap. Jam 7.15 saya harus turun untuk sarapan bersama rekan-rekan dari Indonesia. Kami menginap di Costa Rica Marriott Hotel Hacienda Belen yang berarsitektur hacienda (perkebunan besar) era kolonial Spanyol.
Begitu keluar kamar, saya langsung bingung menentukan arah—harus jalan ke mana menuju resto? Saya bukan tipe orang yang hafal rute dalam sekali lihat. Saya mencoba memperhatikan keterangan arah yang terpasang di dinding selasar, dan memutuskan cara termudah adalah pergi ke lobi hotel dan bertanya ke resepsionis: “Excuse me, could you tell me which way the restaurant is?”
Resepsionis dengan sigap menanyakan nomor kamar saya, mengecek ke komputer di hadapannya, dan menunjukkan arah menuju restoran: “We have two restaurants here. Your breakfast is served at Hacienda Kitchen—just head down the stairs outside this lobby, and it's on your left.”
Sesampai di restoran, saya tak kesulitan menemukan rekan-rekan saya. Mereka memilih tempat strategis: sisi terluar teras yang menghadap jajaran pegunungan.
Pemandangan gunung dan arsitektur hotel menjadikan lanskap di seberang kami terlihat megah—meski sebetulnya panorama semacam itu sering saya lihat di Bogor, baik di Puncak atau Sentul. Kebetulan saya tinggal di Bogor, Jawa Barat, yang berada di kaki gunung (lembah) dan dikelilingi tiga gunung: Salak, Gede, dan Pangrango.
Marriott Hacienda Belen yang berada di kota San Antonio—meski banyak orang mengira di San José—juga dikelilingi tiga gunung: Poás, Barva, dan Escazú. Secara geografis, wilayah ini terletak di Lembah Tengah (Central Valley) yang dikenal sebagai jantung Kosta Rika.
Lembah Tengah dikelilingi pegunungan yang membuat hawa selalu sejuk, sehingga sering disebut berada dalam musim semi abadi. Barisan gunung api itu juga menyuburkan tanah di wilayah ini. Tak heran kota-kota besar seperti San José (ibu kota), Alajuela, Heredia, dan Cartago berada di sini, dan karenanya area ini menampung 70% lebih penduduk Kosta Rika.
Menyarap di teras Hacienda Kitchen yang menghadap utara, deretan gunung di hadapan kami adalah Pegunungan Tengah atau Cordillera Central—tulang punggung vulkanik Kosta Rika yang membentang di bagian tengah negeri. Di antara jajaran gunung ini, Gunung Poás mengambil posisi paling sentral, tepat di depan mata kami.
Lahir dari Lava di Cincin Api PasifikSopir yang menjemput kami dari bandara sempat bercerita soal kemunculan gunung-gunung itu. Ia bilang, Kosta Rika—dan Amerika Tengah—dulu tak ada. Yang ada hanya lautan yang memisahkan Amerika Utara dan Amerika Selatan.
Namun, terjadi tumbukan lempeng tektonik di bawah laut, terus-menerus, hingga memicu aktivitas vulkanis yang memunculkan deretan gunung api yang perlahan menyembul ke permukaan laut dan mencuat semakin tinggi dan semakin luas hingga membentuk daratan sempit yang menyatukan Amerika Utara dan Selatan. Itulah Amerika Tengah.
Cerita sang sopir adalah benar. Para ahli geologi dalam buku Central America: Geology, Resources and Hazards menyatakan bahwa sekitar 150 juta tahun lalu, Amerika Tengah memang tak ada. Daratan itu baru terbentuk kemudian lewat proses subduksi, yakni saat Lempeng Cocos di bawah Samudra Pasifik menghunjam ke bawah Lempeng Karibia di bawah Laut Karibia, Samudra Atlantik.
Lempeng Cocos dan Lempeng Karibia ialah lempeng samudra, yaitu bagian dari kerak bumi yang sangat luas dan terletak di dasar samudra. Ketika keduanya bertabrakan, Lempeng Cocos yang berat dan padat menunjam ke bawah, sedangkan Lempeng Karibia yang lebih ringan tetap berada di atas.
Tumbukan lempeng itu menyebabkan suhu yang luar biasa panas di bawah kerak bumi sehingga memicu magma naik ke permukaan. Berdasarkan catatan Global Volcanism Program dari Smithsonian Institution, aktivitas inilah yang membentuk rangkaian gunung berapi di bawah laut. Lama-kelamaan, puncak gunung-gunung ini muncul ke permukaan laut dan membentuk pulau-pulau vulkanis.
Sekitar 15 juta tahun lalu, tekanan antarlempeng mendorong dasar laut ke atas. Alhasil, material vulkanis dan sedimen laut yang terangkat kian menumpuk. Puncaknya, sekitar 3 juta tahun lalu, celah laut tertutup sepenuhnya oleh endapan pasir dan lumpur; membentuk daratan sempit memanjang yang menghubungkan Amerika Utara dan Amerika Selatan.
Jembatan sempit yang lahir dari timbunan lava dan pergerakan tektonik itu disebut Tanah Genting Panama; mencakup Kosta Rika di bagian utaranya.
Pakar geomorfologi Jeffrey Marshall dalam studinya, The Geomorphology and Physiography Provinces of Central America, menjelaskan bahwa proses ini tidak hanya menyatukan benua Amerika Utara dan Selatan yang semula terpisah, tapi juga memisahkan Samudra Pasifik dan Laut Karibia yang semula menyatu.
Itu sebabnya jarak Samudra Pasifik dan Laut Karibia di Kosta Rika sangat dekat, sekitar 120–200 kilometer. Dengan jarak “sependek” itu, kita bisa sarapan sambil melihat matahari terbit di pesisir Karibia; lalu berkendara enam jam melintasi pegunungan; dan makan malam sambil menyaksikan matahari terbenam di pesisir Samudra Pasifik.
Seperti Kosta Rika, Indonesia juga terbentuk dari subduksi lempeng tektonik, namun—berdasarkan pemetaan iklim global yang disusun Hylke Beck dkk dalam jurnal Scientific Data—dengan skala dan tingkat kerumitan yang sangat berbeda.
Analoginya, daratan tempat kedua negara berdiri “dimasak” di atas kompor vulkanis yang berbeda ukuran sehingga menghasilkan “sajian” berbeda pula: yang satu jembatan darat ramping (Kosta Rika dan Panama), yang satu lagi gugusan pulau raksasa (Indonesia).
Persamaannya: Indonesia dan Kosta Rika sama-sama lahir dari aktivitas vulkanis di Pacific Ring of Fire yang menghasilkan rangkaian gunung berapi.
Cincin Api Pasifik, menurut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), ialah jalur sepanjang 40.000 km berbentuk mirip tapal kuda di sekitar Samudra Pasifik. Wilayah ini “rumah” bagi 75% gunung api aktif dunia dan 90% gempa di dunia.
Hidup di Atas Kompor VulkanisLetak Indonesia dan Kosta Rika di Cincin Api Pasifik memunculkan kesamaan alam dan ekologis yang mendasar di antara kedua negara yang terpisah jarak belasan ribu kilometer itu. Salah satu yang paling mencolok: Indonesia dan Kosta Rika sama-sama memiliki bentang alam yang didominasi pegunungan.
Indonesia adalah negara dengan gunung api aktif terbanyak di dunia. Data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut ada 127 gunung berapi yang membentang dari Sumatera, Jawa, Sulawesi, sampai Maluku, dengan tingkat aktivitas yang berbeda-beda.
Dari 127 gunung itu, 76 di antaranya bertipe A yang tercatat meletus sejak tahun 1600 sampai sekarang (seperti Merapi dan Sibanung); 30 gunung bertipe B yang tidak meletus sejak tahun 1600 tapi masih menunjukkan gejala aktif (seperti Sumbing dan Sindoro); 21 gunung bertipe C yang tidak diketahui riwayat letusannya, tapi punya tanda aktivitas vulkanis purba (contohnya Lawu dan Kamojang).
Sementara itu, Kosta Rika memiliki profil vulkanik yang jauh lebih padat untuk ukuran wilayahnya yang kecil. Global Volcanism Program mencatat, Kosta Rika mempunyai lebih dari 112 kerucut vulkanis, dengan 60 di antaranya diklasifikasikan sebagai gunung berapi.
Dan dari 60 gunung api itu, terdapat 5 “raksasa” yang paling aktif dan dimonitor ketat, yaitu Gunung Poás, Irazú, Arenal, Turrialba, dan Rincón de la Vieja.
Letusan gunung api menyebarkan abu vulkanis yang kaya mineral dan menyuburkan tanah. Oleh karena itu Kosta Rika dan Indonesia sama-sama menjadi negara agraris. Salah satu komoditas pertanian unggulan dari Indonesia dan Kosta Rika ialah kopi—yang pohonnya tumbuh subur di tanah vulkanis dataran tinggi.
Di sisi lain, menjadi bagian dari Cincin Api artinya hidup berdampingan dengan risiko geologis seperti gempa bumi dan tsunami. Terlebih, Indonesia dan Kosta Rika termasuk zona seismik paling aktif di dunia. Keduanya berada di atas zona subduksi (tabrakan lempeng) yang merupakan bagian dari Cincin Api Pasifik.
Di bawah Indoesia dan Kosta Rika, lempeng tektonik terus-menerus bergerak menghunjam ke bawah lempeng daratan—memicu gempa dan tsunami.
Indonesia merupakan titik pertemuan tiga lempeng raksasa—Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Lempeng Indo-Australia bergerak ke utara dan menabrak Lempeng Eurasia dengan kecepatan 6–7 cm per tahun. Aktivitas ini memicu sejumlah gempa dahsyat di Indonesia seperti gempa dan tsunami Aceh pada Desember 2004 dengan magnitudo 9,3 (gempa terbesar ketiga di dunia) serta gempa Yogya pada Mei 2006 dengan magnitudo 6,3.
Sementara Kosta Rika berada di titik pertemuan Lempeng Cocos dan Karibia. Data tektonik Observatorium Vulkanologi dan Seismologi Kosta Rika (Observatorio Vulcanológico y Sismológico de Costa Rica - OVSICORI) menyebutkan, Lempeng Cocos menabrak Lempeng Karibia dengan kecepatan lebih tinggi, sekitar 8–9 cm per tahun. Inilah sebabnya deretan gunung api di Kosta Rika sangat rapat (lebih dari 112 kerucut vulkanis dalam negara yang luasnya hanya 51.100 km²—sedikit lebih besar dari Jawa Timur).
Kecepatan itu pula yang menjadi “bahan bakar” bagi tingginya frekuensi erupsi Gunung Rincón de la Vieja dan Turrialba. Pemantauan OVSICORI mencatat, sepanjang tahun 2023 saja, Rincón de la Vieja telah 400 kali erupsi dengan skala kecil dan menengah. Ini menjadikannya salah satu gunung tersibuk di Amerika Tengah.
Hawa Indonesia di Kosta Rika“Mana foto-foto dari Kosta Rika?” tanya keluarga saya.
Saya lantas mengirimkan beberapa foto pemandangan alam.
“Loh, kok sama kayak di sini (Indonesia)?”
Saya mengetik jawaban sambil menahan kantuk—sudah jam 11 malam, sedangkan di Indonesia masih jam 12 siang. Sungguh perbedaan waktu—dan jarak—yang mencolok meski lanskap, iklim, cuaca, flora, dan fauna kedua negara sangat mirip.
Sebelum membenamkan diri ke kasur, saya mengirim balasan, “Karena Kosta Rika juga di sekitar khatulistiwa, sejajar dengan Filipina Selatan; cuma sedikit lebih ke atas dari posisi Indonesia. Jadi ini negara beriklim tropis dengan dua musim—kemarau dan hujan—seperti Indonesia, bukan negara empat musim.”
Semirip itu meski sejauh itu, sebab Indonesia dan Kosta Rika berada di sisi Bumi yang berlawanan. Indonesia di belahan Bumi timur, sementara Kosta Rika di belahan Bumi barat.
Saya merasa hanya berpindah ke versi lain Indonesia di belahan Bumi berbeda.
Maka, saat berbincang dengan seorang rekan dari AS di Hacienda Alsacia Starbucks Coffee Farm di lereng Gunung Poás, saya berkata sambil tertawa, “I came all the way here—more than 20 km for over 30 hours across Atlantik Ocean, circled half the globe—just to see the views like those in my hometown.”
Kemiripan itu makin terasa karena saya berada di Alajuela yang memiliki iklim dan cuaca serupa Bogor dan Bandung: sejuk, namun cukup hangat pada siang hari; dengan selingan hujan pada sore hari.
Saking mirip, sampai-sampai ketika kami mampir di sebuah restoran di lereng gunung yang menyajikan makan malam dengan pemandangan “magis” kelap-kelip lampu kota, rekan saya dari Indonesia spontan berkata: “Puncak Pass!”
Restoran—yang bukan Puncak Pass—itu bernama Mirador del Valle. Resto tersebut adalah salah satu titik pandang terbaik di lereng Gunung Poás. Dan itu sesuai namanya, mirador, yang berarti tempat melihat pemandangan.
Sabuk Hijau KhatulistiwaPersamaan Indonesia dan Kosta Rika bukan kebetulan. Selain karena faktor geologis yakni “cetak biru” pembentukan daratannya yang nyaris identik, posisi geografis kedua negara juga berpengaruh. Keduanya terletak di—atau dekat—khatulistiwa atau ekuator.
Ekuator ialah garis lintang nol derajat (imajiner) yang membagi Bumi secara horizontal tepat di tengah antara belahan Bumi utara dan selatan. Inilah “sabuk” yang mengikat wilayah-wilayah di sekitarnya sehingga memiliki cuaca serupa.
Indonesia berada tepat di garis khatulistiwa (0°), sementara Kosta Rika sedikit di utaranya (8–11° LU). Posisi ini menempatkan kedua negara pada zona tropis dengan radiasi matahari konsisten sepanjang tahun.
Wilayah tropis tak memiliki perbedaan waktu siang dan malam yang drastis seperti di negara-negara empat musim. Matahari terbit dan terbenam pada jam yang nyaris sama setiap hari, yakni sekitar jam 6 pagi dan jam 6 sore. Itulah sebabnya Indonesia dan Kosta Rika terasa hangat hampir sepanjang tahun.
Posisi geografis di sabuk tropis ini juga membuat curah hujan di Indonesia dan Kosta Rika tinggi. Kuatnya sinar matahari membuat udara naik ke atas (menguap), lalu mengembun dan membentuk awan hujan (kumulonimbus).
Data Climate Change Knowledge Portal mencatat rata-rata curah hujan tahunan di Indonesia mencapai 2.000–3.000 mm, sedangkan di Kosta Rika 3.000–3.500 mm. Di wilayah spesifik seperti pesisir Karibia di Kosta Rika, atau Bogor di Indonesia (yang dijuluki Kota Hujan), angka ini bahkan bisa lebih tinggi, mencapai 4.000–5.000 mm.
Kombinasi sinar matahari dan curah hujan yang intens kemudian menumbuhkan hutan hujan tropis yang lebat, sebab matahari yang bersinar hampir 12 jam setiap hari membuat pohon-pohon terus tumbuh sepanjang tahun, tidak seperti di negara empat musim yang pohon-pohonnya berhenti tumbuh (dorman) saat musim dingin tiba.
Indonesia memiliki hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia, tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Sementara hutan hujan tropis di Kosta Rika tersebar di timur Karibia, Semenanjung Osa, Monteverde, dan Semenanjung Nicoya.
Indonesia saat ini menghadapi tantangan karena luasan hutan hujan tropisnya berkurang dibanding beberapa dekade lalu. Hutan-hutan besar di Sumatera yang berada di luar area konservasi banyak berubah menjadi perkebunan. Kalimantan juga mengalami deforestasi karena banyak hutannya berubah menjadi lahan sawit dan tambang.
Laporan Global Forest Resources Assessment 2025 menunjukkan, selama 40 tahun terakhir, Indonesia kehilangan 30–35% dari total luas hutannya, sekitar 25–30 juta hektare (seukuran separuh Pulau Sumatera).
Kosta Rika pun pernah berada di titik kritis pada 1980-an dengan kehilangan hampir separuh hutannya. Mereka kemudian melakukan konservasi ketat. Berdasarkan laporan Sistem Nasional Kawasan Konservasi (Sistema Nacional de Áreas de Conservación - SINAC), Kosta Rika berhasil melakukan reforestasi hingga tutupan hutannya tumbuh kembali, bahkan lebih luas dari yang sebelumnya hilang.
Conservation International menyebut, keberhasilan Kosta Rika memulihkan hutannya merupakan salah satu model mitigasi perubahan iklim berbasis alam yang paling efektif di dunia. Mereka tidak hanya menanam pohon, tapi juga menciptakan ekosistem ekonomi hijau.
Kosta Rika membuktikan bahwa negara berkembang bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi sambil meluaskan tutupan hutan. Mereka antara lain bertumpu pada strategi cerdik Payments for Environmental Services, yakni mengalihkan sebagian pajak bahan bakar fosil untuk mendukung pemulihan ekosistem, termasuk membayar para pemilik lahan yang bersedia melakukan reforestasi.
Hutan hujan tropis punya peran yang tak boleh disepelekan: menyerap miliaran ton karbon dioksida yang menyebabkan pemanasan global, memproduksi oksigen secara masif, menahan air hujan di dalam tanah dengan akar-akar pohon sehingga menghindari kekeringan, mencegah banjir dan longsor melalui akar tanaman yang mengikat tanah, menjadi habitat bagi jutaan spesies flora dan fauna, dan lain-lain.
Suaka Akhir Satwa LangkaDengan hutan hujan tropis sebagai kantong biodiversitas, Indonesia dan Kosta Rika secara kolektif menampung bagian signifikan dari keanekaragaman hayati dunia. Menurut laporan Conservation International, Kosta Rika mewadahi hampir 5% dari total spesies global, sedangkan Indonesia sekitar 15–17%.
Yang menarik, satwa di Kosta Rika dan Indonesia pun terlihat mirip. Saat saya singgah ke sebuah toko suvenir untuk mencari kartu pos titipan seorang kawan, saya langsung tersenyum melihat gambar-gambar hewan dan pemandangan alam di kartu-kartu pos itu—Indonesia banget!
Pada kartu-kartu itu terpampang gambar macaw merah (scarlet macaw), iguana hijau, dan kupu-kupu biru (blue morpho). Ketiganya spesies khas wilayah tropis Amerika dan identik dengan Kosta Rika, khususnya macaw merah yang menjadi ikon pariwisata.
Meski mereka tidak hidup di Indonesia (kalaupun ada, bukan endemik, melainkan hewan peliharaan hasil impor atau koleksi), ada “kembaran” mereka yang menghuni Nusantara, yakni kakaktua raja, nuri merah, soa-soa atau kadal air, dan kupu-kupu ulysses.
Nuri merah dan soa-soa—yang hewan endemik Indonesia—berstatus dilindungi karena rentan diburu, kupu-kupu ulysses dilindungi di wilayah tertentu, dan kakaktua raja sangat dilindungi karena langka akibat perburuan liar dan perdagangan ilegal.
Di Kosta Rika, macaw merah—yang berstatus sangat dilindungi—pernah hampir punah gara-gara perburuan liar dan deforestasi pada 1950-an sampai 1980-an. Pemerintah Kosta Rika kemudian melakukan penyelamatan besar-besaran.
Mereka melarang perburuan dan perdagangan macaw merah, melarang penebangan hutan sebagai habitat macaw, memenjarakan dan menyanksi pelanggarnya dengan denda sangat besar, mencegah penyelundupan macaw ke luar negeri, mencegah pencurian telur atau anak burung dengan berpatroli rutin, meminta masyarakat melaporkan aktivitas ilegal terkait macaw, bahkan melatih warga dan mantan pemburu untuk beralih profesi menjadi pemandu wisata.
Macaw Recovery Network mencatat, kombinasi hukum pidana yang tegas dan transformasi ekonomi masyarakat dari perburuan ke ekowisata berhasil mengubah status macaw merah dari spesies yang terancam punah di Kosta Rika menjadi simbol keberhasilan konservasi nasional.
Pada tahun 2000-an, populasi macaw merah di Kosta Rika mulai stabil dan meluas. Burung berwarna merah menyala dan kuning-biru terang ini tampak terbang di wilayah pesisir dan area publik setelah sebelumnya hanya bisa dilihat di hutan pedalaman.
Pada 2010, populasi macaw merah meningkat pesat. Pemandangan kawanan besar macaw terbang melintas bukan lagi hal langka. Itu sebabnya macaw merah menjadi simbol konservasi di Kosta Rika—bahwa alam dan satwa memiliki kemampuan luar biasa untuk pulih jika manusia memberikan perlindungan hukum dan menyediakan habitat setidaknya selama 20–30 tahun.
Di Indonesia, upaya konservasi juga dilakukan terhadap elang jawa sejak 1993. Namun, menurut data IUCN Red List of Threatened Species, populasinya hingga kini masih terancam; hanya tersisa sekitar 500 pasang di alam liar karena lambatnya siklus reproduksi mereka—hanya bertelur satu butir tiap dua tahun, berbeda dengan macaw merah yang bertelur 2–3 butir per musim.
Omong-omong soal burung, saat keluar dari Sr. y Sra Ese (toko suvenir tempat saya membeli kartu pos) dan melintasi taman di sisi kirinya, saya kaget bukan main, sampai-sampai setengah berlari mendekati semak. Di sana, tampak sepasang merak—satu berjalan-jalan di tepi kolam, satu merebah bersantai di rumput. Saya buru-buru mengeluarkan ponsel dan memotret mereka.
Burung merak di toko suvenir! Ada-ada saja idenya untuk memanjakan pelancong, pikir saya.
Sebetulnya merak bukan hewan asli Kosta Rika, tapi burung itu biasa dipelihara di hotel, resor, restoran, atau tempat rekreasi ecolodge untuk mempercantik suasana.
Merak yang ada di Maderas Maravillosa itu merak biru. Habitat aslinya di Asia Selatan (India, Sri Lanka, Pakistan). Namun mereka amat adaptif terhadap berbagai lingkungan, iklim, dan makanan sehingga bisa berkembang biak hampir di semua tempat.
Sebaliknya, merak hijau, hewan endemik Jawa, sangat senstif dan sulit beradaptasi pada lingkungan yang terlalu ramai oleh manusia. Hewan dengan habitat di sabana atau hutan terbuka ini terancam punah dan karenanya tergolong satwa dilindungi di Indonesia.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Peraturan Menteri LHK No. P.106/2018 mencatat, total ada 787 satwa dilindungi di Indonesia, dengan burung menempati urutan teratas (562 spesies), disusul mamalia (137 spesies) dan reptil (37 spesies).
Berbeda dengan Indonesia yang menyusun daftar spesifik satwa dilindungi, Kosta Rika menerapkan sistem konservasi menyeluruh. Dengan prinsip semua satwa liar adalah milik negara, kunci konservasi Kosta Rika bukan pada daftar spesies, tetapi habitat.
Kosta Rika menetapkan sekitar 25% wilayahnya sebagai taman nasional dan area konservasi. Dengan melindungi lahan secara masif, mereka secara otomatis memberikan perlindungan hukum bagi ratusan ribu spesies yang hidup di dalamnya tanpa terkecuali.
Belajar dari Kosta RikaBiru azure—tajam, jernih, memukau. Beginilah warna langit Kosta Rika sepanjang musim kering dari Desember sampai April. Biru ini berbeda dengan biru langit Jakarta yang cenderung pudar imbas partikel polusi yang menghamburkan cahaya ke segala arah.
Nuansa deep blue langit Kosta Rika disebabkan kualitas udaranya yang rendah konsentrasi aerosol. Aerosol ialah partikel halus—baik asap maupun kabut—yang melayang-layang di udara. Artinya, langit Kosta Rika terlihat lebih biru murni karena bersih dari debu atau polusi.
Semua itu berkat kebijakan lingkungan yang ketat. Laporan tahunan Institut Listrik Kosta Rika (Instituto Costarricense de Electricidad) menyebut bahwa lebih dari 98% listrik negara ini berasal dari sumber energi terbarukan—mulai dari hidroelektrik, panas bumi, hingga angin—yang membuat sektor kelistrikan mereka nyaris bebas emisi karbon.
Meski Kosta Rika negara kecil, apalagi dibanding Indonesia, banyak hal bisa dipelajari darinya. Negara ini kerap dianggap sebagai pemimpin global dalam pemulihan hutan dan konservasi lingkungan; serta pelopor konsep ekowisata (membangun industri pariwisata yang bertumpu pada rehabilitasi alam).
Pada 2019, Kosta Rika meraih penghargaan lingkungan tertinggi PBB, Champions of the Earth, atas kebijakannya dalam melawan perubahan iklim, memulihkan hutan yang gundul, dan melakukan dekarbonisasi ekonomi (mengurangi ketergantungan ekonomi negara terhadap bahan bakar fosil).
Pada 2021, Kosta Rika juga memenangi Earthshot Prize yang didukung PBB atas keberhasilannya melindungi dan merestorasi alam, serta melipatgandakan tutupan hutan dan meningkatkan ekowisata demi meraih masa depan berkelanjutan.
Kosta Rika juga negara peringkat atas dalam Happy Index Planet (HPI). Indeks ini mengukur kesejahteraan masyarakat dikombinasikan dengan angka harapan hidup dan jejak ekologis yang rendah (misal banyak atau sedikitnya sumber daya alam yang digunakan untuk mendukung konsumsi masyarakat di suatu negara).
Prinsip HPI sangat jelas: Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang tidak merusak Bumi.
Semua itu selaras dengan filosofi hidup rakyat Kosta Rika, yakni pura vida atau hidup murni, yang berarti cara hidup selaras dengan alam.




