Beijing (ANTARA) - Pemerintah China menyebut tidak ada warganya yang terdampak serangan Amerika Serikat ke Venezuela pada Sabtu (3/1).
"China memantau dengan cermat situasi keamanan di Venezuela. Sejauh ini belum ada laporan tentang personel China di Venezuela yang terkena dampak serangan udara AS," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Senin (5/1).
Konferensi pers perdana pada 2025 tersebut dihujani dengan pertanyaan terkait AS yang melancarkan serangan besar-besaran terhadap Venezuela, menangkap Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores di Caracas, serta membawa mereka ke New York dan kini ditahan di Metropolitan Detention Center di Brooklyn.
Apalagi beberapa jam sebelum ditangkap pasukan AS, Presiden Venezuela Nicolas Maduro menerima perwakilan pemerintah China yang dipimpin Wakil Khusus China untuk urusan Amerika Latin Qiu Xiaoqi di Istana Miraflores.
Maduro mengatakan pertemuan itu untuk menegaskan kembali hubungan strategis Caracas dengan Beijing dan berjanji untuk membangun apa yang disebutnya sebagai "dunia multipolar yang penuh pembangunan dan perdamaian."
Di sisi lain, Trump bertemu dengan Duta Besar AS untuk China David Perdue, pada Jumat (2/1) malam. Namun, Lin Jian menolak menyampaikan isi pembicaraan Qiu Xiaoqi.
"China telah menyatakan posisinya tentang penangkapan paksa Presiden Nicolás Maduro dan istrinya oleh AS. Kami menyatakan keprihatinan yang mendalam atas penangkapan paksa Presiden Nicolás Maduro dan istrinya oleh AS dan membawa mereka keluar dari negara tersebut," ungkap Lin Jian.
Langkah AS tersebut, kata Lin Jian, jelas melanggar hukum internasional, norma-norma dasar dalam hubungan internasional, dan tujuan serta prinsip-prinsip Piagam PBB.
"China menyerukan kepada AS untuk memastikan keselamatan pribadi Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, segera membebaskan mereka, menghentikan upaya penggulingan pemerintah Venezuela, dan menyelesaikan masalah melalui dialog dan negosiasi," tegas Lin Jian.
China, kata Lin Jian, juga dengan tegas mendukung status kawasan Amerika Latin dan Karibia sebagai Zona Perdamaian.
"Kami menentang ancaman atau penggunaan kekerasan dalam hubungan internasional, dan langkah-langkah hegemonik yang melanggar Piagam PBB dan melanggar kedaulatan negara lain," tambah Lin Jian.
Baca juga: China masih yakin pemerintah Venezuela tetap berdaulat
Baca juga: Delcy Rodriguez resmi menjabat presiden sementara Venezuela
"China memantau dengan cermat situasi keamanan di Venezuela. Sejauh ini belum ada laporan tentang personel China di Venezuela yang terkena dampak serangan udara AS," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Senin (5/1).
Konferensi pers perdana pada 2025 tersebut dihujani dengan pertanyaan terkait AS yang melancarkan serangan besar-besaran terhadap Venezuela, menangkap Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores di Caracas, serta membawa mereka ke New York dan kini ditahan di Metropolitan Detention Center di Brooklyn.
Apalagi beberapa jam sebelum ditangkap pasukan AS, Presiden Venezuela Nicolas Maduro menerima perwakilan pemerintah China yang dipimpin Wakil Khusus China untuk urusan Amerika Latin Qiu Xiaoqi di Istana Miraflores.
Maduro mengatakan pertemuan itu untuk menegaskan kembali hubungan strategis Caracas dengan Beijing dan berjanji untuk membangun apa yang disebutnya sebagai "dunia multipolar yang penuh pembangunan dan perdamaian."
Di sisi lain, Trump bertemu dengan Duta Besar AS untuk China David Perdue, pada Jumat (2/1) malam. Namun, Lin Jian menolak menyampaikan isi pembicaraan Qiu Xiaoqi.
"China telah menyatakan posisinya tentang penangkapan paksa Presiden Nicolás Maduro dan istrinya oleh AS. Kami menyatakan keprihatinan yang mendalam atas penangkapan paksa Presiden Nicolás Maduro dan istrinya oleh AS dan membawa mereka keluar dari negara tersebut," ungkap Lin Jian.
Langkah AS tersebut, kata Lin Jian, jelas melanggar hukum internasional, norma-norma dasar dalam hubungan internasional, dan tujuan serta prinsip-prinsip Piagam PBB.
"China menyerukan kepada AS untuk memastikan keselamatan pribadi Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, segera membebaskan mereka, menghentikan upaya penggulingan pemerintah Venezuela, dan menyelesaikan masalah melalui dialog dan negosiasi," tegas Lin Jian.
China, kata Lin Jian, juga dengan tegas mendukung status kawasan Amerika Latin dan Karibia sebagai Zona Perdamaian.
"Kami menentang ancaman atau penggunaan kekerasan dalam hubungan internasional, dan langkah-langkah hegemonik yang melanggar Piagam PBB dan melanggar kedaulatan negara lain," tambah Lin Jian.
Baca juga: China masih yakin pemerintah Venezuela tetap berdaulat
Baca juga: Delcy Rodriguez resmi menjabat presiden sementara Venezuela





