Jakarta, ERANASIONAL.COM — Radio Nacional de Columbia melaporkan pemerintah mengerahkan 30.000 personel ke wilayah perbatasan Venezuela pasca Amerika Serikat menyerang Caracas dan menahan Presiden Nicolas Maduro.
“Dengan tujuan mengantisipasi dan memperingati peristiwa di daerah tersebut,” demikian laporan radio itu, dikutip The National , Senin (5/1).
Direktur Departemen Administrasi Kepresidenan Kolombia, Angie Lizeth Rodriguez, membenarkan informasi tersebut. Ia mengatakan perintah itu dikeluarkan pada hari Minggu, sehari setelah agresi AS.
Perintah itu, lanjut Rodriguez, juga merupakan bagian dari strategi melindungi kedaulatan.
“Untuk perlindungan dan integritas wilayah serta untuk menjaga keamanan masyarakat perbatasan di tengah meningkatkan ketegangan regional,” ujar Rodriguez.
Perbatasan Kolombia-Venezuela merupakan lokasi utama perdagangan narkoba dan senjata yang ramai di kawasan tersebut.
Tentara dan pasukan keamanan Kolombia sering bentrok dengan kelompok gerilya dan kriminal yang aktif di wilayah itu.
Pengerahan pasukan itu berlangsung usai AS membombardir Ibu Kota Caracas dan menculik Maduro beserta istrinya pada 3 Desember. Mereka langsung diterbangkan dari Venezuela ke Amerika Serikat.
Operasi AS dikecam komunitas internasional termasuk Presiden Kolombia Gustavo Petro. Mereka menilai tindakan tersebut melanggar hukum internasional dan keselamatan negara lain.



