Pantau - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa Venezuela tidak akan mengadakan pemilu baru dalam waktu dekat, menyusul penangkapan Presiden Nicolás Maduro. Ia menyatakan bahwa pemulihan Venezuela harus menjadi prioritas utama sebelum rakyat dapat memberikan suara secara demokratis.
Fokus Pemulihan, AS Ambil Alih Kendali SementaraDalam wawancara pada Senin, 5 Januari 2026, Trump menyatakan, “Kita harus memperbaiki negara itu terlebih dahulu. Anda tidak bisa mengadakan pemilu. Tidak mungkin rakyat bisa memberikan suara.”
Ia menambahkan bahwa proses pemulihan akan membutuhkan waktu dan upaya besar. “Ini akan membutuhkan waktu. Kita harus memulihkan kesehatan negara itu,” katanya.
Trump menjelaskan bahwa operasi militer AS pada Sabtu, 3 Januari, telah mengakibatkan penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, yang kini ditahan di Metropolitan Detention Center, Brooklyn, New York.
Ia berjanji akan menegakkan kendali Amerika atas Venezuela untuk sementara, termasuk dengan pengerahan militer jika dibutuhkan. Namun, ia membantah bahwa AS sedang berperang dengan negara itu.
“Tidak. Kita sedang berperang dengan orang-orang yang menjual narkoba. Kita sedang berperang dengan orang-orang yang mengosongkan penjara mereka ke negara kita dan mengosongkan pecandu narkoba mereka dan mengosongkan lembaga-lembaga kesehatan mental mereka ke negara kita,” ujarnya.
Trump juga menyatakan bahwa AS siap membantu memulihkan infrastruktur energi Venezuela melalui skema subsidi untuk perusahaan minyak.
“Saya pikir kita bisa melakukannya dalam waktu kurang dari itu, tetapi akan membutuhkan banyak uang. Sejumlah besar uang harus dikeluarkan, dan perusahaan minyak akan membiayainya, dan kemudian mereka akan mendapatkan penggantian dari kita atau melalui pendapatan,” jelasnya.
Trump Tegaskan Dirinya Bertanggung Jawab, Siap Lanjutkan Operasi Militer KeduaDalam wawancara bersama NBC News, Trump menyebut sejumlah pejabat yang akan terlibat dalam keterlibatan AS di Venezuela:
- Wakil Presiden JD Vance
- Menteri Luar Negeri Marco Rubio
- Menteri Pertahanan Pete Hegseth
- Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller
Saat ditanya siapa yang bertanggung jawab atas Venezuela, Trump menjawab singkat: “Saya.”
Di hari yang sama, Nicolás Maduro menyatakan tidak bersalah atas dakwaan federal termasuk terorisme narkoba dan konspirasi impor kokain. Ia juga menyatakan dirinya tetap sebagai pemimpin sah Venezuela.
Namun, Wakil Presiden Delcy Rodriguez resmi dilantik sebagai presiden sementara menggantikan Maduro.
Trump menyebut bahwa Rodriguez telah bekerja sama dengan pejabat AS, meski tidak ada komunikasi sebelumnya sebelum penangkapan Maduro.
“Tidak, bukan begitu,” jawab Trump saat ditanya apakah ada kontak awal dengan pejabat Venezuela.
Saat ditanya soal sanksi terhadap Rodriguez, Trump menyebut keputusan pencabutan atau pelanjutannya masih akan ditentukan.
Trump juga mengakui adanya “kesepakatan” dengan sejumlah pejabat Venezuela untuk menyingkirkan Maduro.
“Ya, karena banyak orang ingin membuat kesepakatan, tetapi kami memutuskan untuk melakukannya dengan cara ini,” ucapnya.
Ia tidak memastikan apakah dirinya berbicara langsung dengan Rodriguez, namun menyebut bahwa Marco Rubio “berbicara dengannya dengan lancar dalam bahasa Spanyol” dan memiliki “hubungan yang sangat kuat.”
Trump juga memperingatkan bahwa AS siap melakukan operasi militer kedua di Venezuela jika Rodriguez berhenti bekerja sama.
“Kami siap melakukannya. Sebenarnya, kami mengantisipasinya,” tegasnya.
Langkah Trump Menuai Sorotan Parlemen ASBeberapa anggota parlemen dari Partai Republik dan Demokrat menyoroti bahwa Trump tidak meminta otorisasi Kongres baru untuk operasi militer pada Sabtu pagi.
Namun, Trump menegaskan bahwa dirinya tidak memerlukan persetujuan resmi dari Kongres untuk mengirim pasukan AS kembali ke Venezuela.
“Kami mendapat dukungan yang baik dari Kongres. Dan Kongres tahu apa yang kami lakukan selama ini, tetapi kami mendapat dukungan yang baik dari Kongres. Mengapa mereka tidak mendukung kami?” ujarnya.




