MerahPutih.com - Panitia Pelaksana (Panpel) pertandingan Persis Solo mengakui kecolongan atas aksi penyalaan flare oleh oknum suporter saat laga Persis Solo melawan Persita Tangerang di Stadion Manahan, Solo, Minggu (4/1). Akibat kejadian tersebut, Persis Solo terancam berada di ambang sanksi dari PSSI maupun operator liga.
Ketua Panpel Persis Solo, Ginda Ferachtriawan, menyampaikan bahwa sejak awal pihaknya telah menerapkan prosedur standar pengamanan, mulai dari body checking hingga pemeriksaan berlapis di seluruh pintu masuk stadion.
Namun demikian, upaya tersebut belum sepenuhnya mampu mencegah suporter menyalakan flare di dalam Stadion Manahan.
“Kami sebenarnya sudah melakukan body checking dan pemeriksaan secara menyeluruh. Jumlah flare yang berhasil diamankan petugas jauh lebih banyak dibandingkan yang sempat dinyalakan di tribun,” kata Ginda, Selasa (6/1).
Ginda mengungkapkan, panpel berhasil menyita 80 flare yang belum sempat dinyalakan oleh suporter. Panpel, lanjut dia, memahami ekspresi kekecewaan suporter terhadap performa tim di lapangan, namun menyesalkan cara penyampaian aspirasi yang dilakukan.
“Penyampaian aspirasi seharusnya dilakukan dengan cara-cara yang positif dan sesuai regulasi. Tapi kenapa harus dengan menyalakan flare, ini yang kami sayangkan,” tegasnya.
Baca juga:
Kerusuhan Flare Persis Vs Persita, Polisi Amankan 23 Suporter Tuan Rumah
Terkait potensi sanksi dari operator liga, Ginda memprediksi Persis Solo tetap akan mendapatkan hukuman sesuai regulasi yang berlaku. Bentuk sanksi tersebut dapat berupa sanksi administratif hingga denda.
“Kalau melihat regulasi, saya prediksi pasti akan ada sanksi dari operator. Bisa sanksi administratif, misalnya pertandingan tanpa penonton, atau bahkan sanksi denda,” ujarnya.
Meski demikian, Ginda berharap sanksi yang dijatuhkan bersifat ringan. Pasalnya, tidak terjadi insiden fatal maupun kericuhan selama pertandingan berlangsung.
“Kami berharap sanksinya bisa ringan. Karena tidak ada kejadian fatal, tidak ada chaos. Setelah flare menyala, pertandingan berjalan normal,” katanya.
Ia menambahkan, akibat penyalaan flare tersebut panpel mencatat empat orang penonton umum sempat mendapatkan perawatan medis setelah pertandingan karena mengalami sesak napas.
“Ada empat suporter perempuan yang harus mendapat perawatan pertama. Langsung ditangani petugas medis di ambulans yang standby di Stadion Manahan, tidak sampai dilarikan ke rumah sakit,” pungkasnya. (Ismail/Jawa Tengah)




