Jakarta, VIVA – Perkembangan di Venezuela menjadi sorotan utama pelaku pasar. Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat, disertai pernyataan agresif Presiden AS Donald Trump, menciptakan ketidakpastian baru yang meluas ke pasar global.
Dampaknya, permintaan terhadap logam mulia meningkat tajam, dengan perak mencatat lonjakan harga signifikan pada awal pekan.
Melansir dari Barrons, Selasa, 6 Januari 2026, investor global beralih ke aset safe haven klasik pada perdagangan Senin kemarin. Ini mendorong kenaikan harga perak dan penguatan aset defensif lainnya.
Langkah Presiden Donald Trump yang menggulingkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro menambahkan elemen risiko geopolitik baru bagi pasar di awal tahun. Penangkapan dan ekstradisi Maduro, serta janji Trump untuk “mengelola” Venezuela dan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, memicu kekhawatiran akan gangguan di pasar energi global.
- Zoom Bangla News
Tak hanya Venezuela, ancaman pemerintahan AS juga diarahkan ke Kuba dan Kolombia. Nel Shearing, kepala ekonom grup Capital Economics, menilai peristiwa ini dapat dibaca dari dua sudut pandang geopolitik.
“Meski hal ini dapat dibaca sebagai pergeseran menuju pendekatan yang lebih terbuka dalam mengelola hubungan geopolitik di tingkat regional, dengan AS menegaskan kontrol yang lebih besar atas perkembangan di wilayahnya sendiri, sama mungkin untuk menafsirkan peristiwa ini melalui lensa retaknya hubungan AS dan China,” ujarnya.
“Venezuela telah menjadi sekutu paling setia China dan Rusia di Amerika Latin, sebuah posisi yang menimbulkan kegelisahan di seluruh spektrum politik di Washington,” tambah Nel.
Di tengah konflik ini, harga perak melonjak tajam seiring meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian global. Harga perak tercatat naik 7,9 persen menjadi US$76,657 per ons atau setara Rp1,28 juta per ons.
Kenaikan harga perak ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik geopolitik yang lebih luas. Selain situasi di Venezuela, investor juga mencermati risiko meningkatnya tekanan politik dan militer China terhadap Taiwan, yang kembali menambah sentimen kehati-hatian di pasar global.




