Masjid Al-Huda di Pedukuhan Gari, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul di-ghosting atau ditinggal tanpa kejelasan oleh donatur. Padahal masjid telah dirobohkan dan rata dengan tanah dan siap untuk dibangun ulang.
Selasa (6/1), kumparan berkunjung ke Masjid Al-Huda. Masjid sudah sepenuhnya roboh. Meski ditinggal donatur, pekerjaan tetap berjalan. Sejumlah warga tampak bekerja membangun talud.
Sementara itu yang tersisa hanya tinggal mustaka dan kusen, yang diletakkan di dekat parkiran masjid.
"Yang tersisa sekarang kusen, daun pintu, mustaka, ada sebagian wuwung seng yang untuk serambi," kata Rewang Dwi Atmojo (72 tahun) salah satu sesepuh Gari saat ditemui.
Dwi mengatakan masjid ini dibangun sekitar tahun 1984. Saat itu dia salah satu orang yang turut mencari donatur ke berbagai tempat untuk membangun masjid ini.
"Satu-satunya masjid di (Pedukuhan) Gari. Bahkan satu kalurahan saja, kalau ada event-event butuh tempat di masjid yang dipakai masjid ini," katanya.
Belum Direnovasi Sejak 1984
Sejak 1984 masjid belum direnovasi. Masyarakat kemudian merencanakan renovasi masjid. Gayung bersambut, ada donatur datang tetapi ternyata hanya sekadar janji.
"Warga menyambut antusias. Termasuk saat pembongkaran satu kampung datang semua," katanya.
Sementara itu, Tholabi, warga lain mengatakan hari ini pekerjaan talud sudah dimulai.
"Ini (anggaran) dari swadaya masyarakat dan beberapa donatur-donatur yang datang atau melalui transfer," kata Tholabi.
Masjid ini digunakan enam RT dengan jumlah kepala keluarga (KK) 350 dan warga sekitar 800-an jiwa.
Tholabi mengatakan pada November, Pedukuhan Gari kedatangan dua orang yang berasal dari Pedukuhan Gatak yang masih kalurahan Gari berinsial AS dan seorang dari Kapanewon Ngawen berinisial H.
"Intinya menawarkan jasa ke sini mencarikan donatur yang bisa membangunkan masjid Al Huda ini sampai 99 persen. Dan perobohan masjid itu menurut mereka informasi yang kita terima itu sebagai syarat dari yayasan yang mereka rangkul agar dana dari yayasan bisa turun. Itu syaratnya masjid harus dirobohkan," katanya.
Saat itu warga percaya dengan niat baik ini. Tak ada perjanjian hitam di atas putih ketika itu.
Warga kemudian menginformasi ke yayasan yang dimaksud serta tokoh yang disebut akan memberikan donasi. Ternyata pihak yang disebut ini tak tahu menahu.
"Dari yayasan yang dicatut tidak tahu masalah untuk merobohkan masjid ini," katanya.
Dua orang yang jadi penghubung ini menurut Tholabi merupakan warga biasa.
Awal Mula Peristiwa
Ketua Panitia Pembangunan Masjid Al-Huda, Budi Antoro, mengatakan pada November 2025 silam dua orang masing-masing warga Gatak, Kalurahan Gari dan satu orang warga Kapanewon Ngawen datang menemui sesepuh Gari dan berniat jadi donatur pembangunan masjid.
"Dengan syarat masjid di bongkar, kemudian dengan syarat-syarat yang lain termasuk RAB (rancangan anggaran biaya) kami penuhi. Namun di perjalanan ternyata lama tidak berproses," kata Budi.
Awal pembongkaran komunikasi dengan warga Ngawen berinisial H itu masih lancar. Namun, lama kelamaan warga merasa ada kejanggalan.
Mereka kemudian mengecek ke yayasan dan tokoh yang disodorkan oleh H.
"Benar ada yayasan (yang disebutkan H), tetapi belum benar-benar meng-acc donasi kepada kita. Ceritanya seperti itu," kisahnya.
Sosok H sendiri tak bisa dihubungi. Sementara warga Gari yang bersama H menurut Budi juga menjadi korban.
"Yang warga kami itu hanya tangan kanan yang orang pertama (inisial H). Warga kami tidak tahu pasti hanya diberi informasi seperti ini, disuruh menghubungi kita," jelasnya.
Biaya Pembangunan Rp 1,8 Miliar
"Memang kami biayanya cukup tinggi. Sebenarnya kami akan memulai pembangunan setelah Lebaran. Kami akan membangun ukuran besar, dengan menelan anggaran biaya kurang lebih Rp 1,8 miliar," kata Budi.
Lantaran sudah telanjur dibongkar, saat ini warga bergerak mencari donasi. Menurut Budi sudah ada beberapa donasi yang masuk. Warga akan berusaha semaksimal mungkin agar masjid bisa berdiri lagi.
"Bangunan sudah rata dengan tanah. Hari ini kami memulai pondasi talud untuk memulai pekerjaan sedikit demi sedikit. Dana yang sudah ada kita gunakan untuk bergerak," tuturnya.
Meski sudah merasa ditipu, warga mengaku tak akan melaporkan kasus ini ke kepolisian.
"Kami tidak akan menuntut secara hukum biarkan Allah sendiri yang menghukum beliau," pungkasnya.



