Perjalanan kumparan Eco Journey Toyota Veloz Hybrid EV Lintas Nusa, kumparan berkesempatan bertemu dengan Ketua Paguyuban jip Trans Bromo, Arlex Mardiyansyah.
Dari perbincangan tersebut, terungkap kisah panjang bagaimana armada Toyota FJ40 yang dikenal dengan sebutan Hardtop di kawasan Gunung Bromo bisa berkembang pesat hingga mencapai sekitar 2.000 unit.
Pria yang karib disapa Ardi itu menjelaskan, cikal bakal jip wisata di Bromo berangkat dari aktivitas sederhana. Pada awalnya, jip digunakan langsung oleh para sopir lokal yang merangkap sebagai pemandu wisata bagi para pengunjung.
“Dulu itu bapak-bapak langsung yang nyupir Toyota Hardtop, sekaligus jadi pramuwisata. Dari situ berkembang ke anak-anaknya,” buka Ardi saat ditemui di Bromo baru-baru ini.
Perkembangan pariwisata Bromo yang semakin masif, termasuk bertambahnya jumlah hotel dan akomodasi, membuat kebutuhan transportasi wisata ikut melonjak. Pada fase tertentu, ketersediaan jip justru tak mampu mengimbangi lonjakan jumlah wisatawan, terutama saat musim ramai.
“Peak season itu sering banget kekurangan jip. Sangat-sangat kurang malah,” ujarnya.
Kondisi tersebut mendorong para pelaku wisata untuk berburu unit Toyota Hardtop ke berbagai daerah. Tidak hanya unit siap pakai, jip dalam kondisi rusak pun tetap diburu untuk kemudian direstorasi.
“Sampai yang sudah jadi rongsokan pun kami beli, terus kami restorasi ulang,” jelasnya.
Upaya mencari armada bahkan dilakukan lintas kota. Ardi mengenang salah satu pengalamannya berburu jip hingga ke Bandung, di mana harga unit Hardtop kala itu masih relatif terjangkau.
“Saya pernah ke Bandung beli Hardtop itu harganya masih Rp 65 juta. Sampai sini turun dari truk, itu sudah jadi Rp 95 juta. Baru turun, belum diapain, langsung saya beli,” ungkapnya.
Lonjakan jumlah jip wisata di Bromo sendiri mulai terasa signifikan sejak tahun 2010. Sejak saat itu, pertumbuhannya terus berlanjut hingga membentuk ekosistem wisata jip seperti sekarang.
“Mulainya itu sekitar 2010 ke atas, dan berkembang sangat pesat sampai sekarang,” pungkasnya.
Meski sempat mengalami kemunduran akibat pandemi COVID-19, nilai Toyota Hardtop justru melonjak tajam. Saat pariwisata terhenti hampir dua tahun, sebagian unit terpaksa dijual, namun dibeli oleh kolektor dengan harga tinggi.
“Waktu corona itu ada yang dijual, dan yang beli kolektor. Harganya bisa Rp 200 juta ke atas,” ujarnya.
Menurut Ardi, jip yang dibeli kolektor biasanya kembali dibongkar total untuk direstorasi ke kondisi paling original. Fenomena ini sekaligus menegaskan bahwa unit Toyota Hardtop Bromo bukan sekadar alat transportasi wisata, tetapi telah menjelma menjadi ikon dan aset bernilai tinggi dalam lanskap otomotif dan pariwisata Indonesia.




