Penangkapan Nicolas Maduro Tidak Lepas dari Keterlibatan Puerto Rico

erabaru.net
1 hari lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Ketika pasukan AS menangkap Nicolas Maduro dari Venezuela pada hari Sabtu, Aguadilla dan beberapa pangkalan Puerto Rico lainnya sudah menjadi tempat berlabuh pesawat dan personel yang terlibat dalam operasi tersebut.

Pulau itu, yang berjarak sekitar 800 km dari Venezuela, merupakan pusat peralatan militer Amerika di wilayah tersebut. Bekas pangkalan seperti bandara di Aguadilla dan stasiun angkatan laut di Roosevelt Roads, yang ditutup pada tahun 2004, telah dihidupkan kembali untuk mendukung operasi AS.

Pesawat tempur, drone, dan peralatan militer lainnya dilaporkan telah dikerahkan ke Puerto Rico seiring meningkatnya tekanan terhadap Maduro. Bekas pangkalan Angkatan Udara di Aguadilla dilaporkan menjadi pemberhentian pertama Maduro di tanah Amerika setelah penangkapannya, menurut Politico.

Nicolas Maduro on board the USS Iwo Jima. pic.twitter.com/omF2UpDJhA

— The White House (@WhiteHouse) January 3, 2026

Petunjuknya adalah foto yang dibagikan oleh Presiden AS, Donald Trump yang menunjukkan Maduro yang ditutup matanya dan diborgol sambil memegang sebotol air merek Nikini, yang banyak tersedia di Puerto Rico.

Meskipun pulau itu menjadi pusat angkatan laut AS yang penting selama Perang Dunia II, kehadiran militer menurun setelah Perang Dingin. Protes menghentikan latihan pengeboman Angkatan Laut di Vieques pada tahun 2001, dan pangkalan seperti Roosevelt Roads ditutup.

Di bawah pemerintahan Trump, jet tempur F-35 dikirim ke Puerto Rico pada bulan September, dan pasukan angkatan laut AS, termasuk kapal perusak dan kapal serbu amfibi, dikerahkan di dekat Venezuela.

Secara historis, Puerto Rico telah menjadi bagian utama dari strategi pertahanan AS di Karibia. AS juga mengandalkannya untuk melindungi Terusan Panama dan mengklaim keunggulan regional. Sekali lagi, pulau ini berfungsi sebagai pusat strategi militer dan geopolitik AS di Amerika Latin.

Operasi penangkapan pemimpin Venezuela tersebut menyusul aktivitas militer AS selama berbulan-bulan di wilayah tersebut. Mulai September 2025 dan seterusnya, setidaknya ada 35 serangan terhadap kapal-kapal yang dituduh AS membawa narkoba dari Venezuela, yang mengakibatkan lebih dari 100 kematian.

AS mengerahkan kapal perang, pesawat terbang, dan sekitar 12.000 tentara di Karibia di bawah Operasi Southern Spear. Sebuah kapal selam Angkatan Laut dengan rudal jelajah juga beroperasi di dekat Amerika Selatan.(yn)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Setelah Mangkir, Wagub Babel Hellyana Akhirnya Penuhi Panggilan Bareskrim! Begini Katanya
• 16 jam laluviva.co.id
thumb
Saham DADA Tiba-Tiba ARA, Antrean Beli Tembus 4 Juta Lot
• 14 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Pimpin Satgas Pascabencana, Tito Fokus Pulihkan 3 Provinsi di Sumatera
• 22 jam laluokezone.com
thumb
Bertemu PELBAJINDO, Bamsoet Tegaskan Pelatihan Berkualitas jadi Kunci Daya Saing Pekerja Migran Indonesia
• 18 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Prabowo: Kita Tidak akan Merdeka Tanpa Jasa Petani
• 7 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.