FAJAR, MAKASSAR — Teman Bus yang berhenti mengaspal sejak 1 Januari menimbulkan dampak beragam. Masyarakat tidak hanya kehilangan layanan transportasi yang mudah, tetapi juga mengalami peningkatan pengeluaran.
Para penumpang rutin Teman Bus Trans Mamminasata sangat merasakan dampak yang besar dari berhentinya program tersebut. Subsidi layanan trasnportasi umum dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang dihentikan membuat para penikmat Teman Bus makin boncos.
Biaya transportasi membengkak secara signifikan. Teman Bus tidak hanya mudah diakses, biayanya juga sangat ramah di kantong penumpang. Apalagi, penumpang rutin Teman Bus mayoritas berasal dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan pekerja.
Penumpang rutin Teman Bus yang juga seorang content creator, Naurah Afifah Hi Rauf menceritakan perbedaan besar yang ia rasakan dalam aktivitas kesehariannya sejak Teman Bus berhenti beroperasi. Sehari-hari ketika ia tidak sedang berkantor, ia banyak mengambil bahan untuk kontennya dengan bepergian ke Bandara Sultan Hasanuddin, di Maros.
Nau, sapaannya, selama ini memanfaatkan Teman Bus dari halte Mal Panakkukang menuju Halte Unhas. Lalu melanjutkan perjalanan dengan Trans Sulsel koridor 2 yang melayani rute Unhas ke Stasiun KA Mandai melalui Bandara Sultan Hasanuddin.
Pembengkakan biaya dirasakan, sebab selama ini ia hanya mengeluarkan biaya sekitar Rp17 ribu untuk sampai ke Bandara. Rinciannya berangkat dari kosan ke MP dengan ojek online dengan biaya Rp13 ribu. Lalu melanjutkannya dengan Teman Bus dengan hanya Rp4.600. Sementara Trans Sulsel tahun lalu masih gratis.
“Tapi setelah Teman Bus sudah tidak ada, ini saya langsung ke Unhas Tamalanrea itu Rp33 ribu, jadi kalau PP itu Rp66 ribu. Belum transit yang lain. Jadi merasa bahwa, apalagi anak kosan, pembengkakan biaya itu sangat besar dirasakan sejak Teman Bus berhenti beroperasi,” keluh wanita berusia 26 tahun itu.
Pengeluaran untuk biaya transportasi baginya mencapai 100 persen atau dua kali lipat dibandingkan dari biasanya. Selain itu, ia juga merasa lebih nyaman dengan adanya transportasi publik seperti teman bus untuk mobilitas keseharian.
“Saya harus bilang bahwa bus itu nyaman, karena bagi saya yang suka make up, itu make up saya stay gitu kalau naik bus, dari pada naik motor atau ojol,” sebutnya.
Nau baru saja bepergian ke Unhas pada Minggu, 4 Desember. Kala itu, ia mendapati Trans Sulsel sedang tidak beroperasi. Dari informasi yang terima, bahwa Trans Sulsel baru kembali beroperasi pada 6 Januari mendatang.
Sementara ia sendiri masih simpang siur pada kabar bahwa koridor 5 akan diambil alih oleh Pemprov Sulsel dengan Trans Sulsel. Ia berharap agar itu disegerakan, sebab aktivitas sehari-hari masyarakat terus berlangsung dan tidak dapat menunggu lebih lama lagi agar bisa memanfaatkan transportasi umum yang murah, aman, dan nyaman.
“Harapan saya sih kalau memang ada disegerakan sih, karena kami setiap hari mobilitasnya sangat tinggi dan itu sangat-sangat memakan biaya kalau tidak menggunakan transportasi publik,” bebernya.
Ia juga berharap agar fasilitas dan pelayanan yang diberikan Trans Sulsel bisa sama dengan Teman Bus. Ia sangat menyoroti pelayanan yang diberikan pramudi. Ia mengaku beberapa kali menaiki Trans Sulsel, ada beberapa pramudi yang judes. Naik Trans Sulsel juga lebih mirip naik pete-pete kata ia, sebab bus tidak selalu berhenti di halte yang tersedia.
Para penumpang harus menyampaikan dari jauh-jauh sebelum sampai di halte pemberhentian. Jika tidak, bus tidak akan berhenti, apalagi jika tidak terlihat ada calon penumpang yang menunggu di halte.
“Menurut saya coba ditingkatkan pelayanannya, kalau memang itu titik pemberhentian ya berhenti, meskipun tidak ada orang. Siapa tahu orangnya mungkin berteduh di tempat lain, tidak maju ke situ karena mungkin panas, karena itu yang saya dan teman-teman dapati,” tandasnya. (uca)





