Belum Punah, 20.000 Orang Meninggal Gara-gara Covid-19 di 2025

cnbcindonesia.com
1 hari lalu
Cover Berita
Foto: Pekerja medis merawat pasien di unit perawatan intensif departemen darurat di rumah sakit Chaoyang Beijing, di tengah wabah penyakit coronavirus (COVID-19) di Beijing, Cina ( 27/12/2022). (VIA REUTERS/CHINA DAILY)

Jakarta, CNBC Indonesia - Covid-19 belum benar-benar hilang di Amerika Serikat (AS), meskipun pandemi telah melemah dibandingkan saat puncaknya beberapa tahun lalu.

Penelitian terbaru menemukan penyakit ini masih menyebabkan jutaan orang sakit, ratusan ribu rawat inap, dan puluhan ribu kematian setiap tahunnya. Pada 2025 saja, jumlah korban meninggal akibat Covid-19 diperkirakan mencapai 20.000.


Para ilmuwan dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) bersama peneliti lainnya menelaah data pengawasan Covid-19 sejak 2022. Mereka memperkirakan Covid-19 menyebabkan jutaan kunjungan ke dokter, sekitar satu juta rawat inap, serta lebih dari 100.000 kematian per tahun.

Mengutip Gizmodo, kelompok usia di atas 65 tahun menjadi yang paling terdampak, menegaskan pentingnya vaksin booster dan intervensi kesehatan lainnya.

David C. Grabowski, profesor kebijakan layanan kesehatan di Harvard Medical School, menjelaskan, meski status darurat kesehatan untuk Covid-19 berakhir pada Mei 2023, penyakit ini tetap menjadi pendorong utama angka kematian dan penggunaan rumah sakit di kalangan lansia.

Sejak pertama kali muncul pada Desember 2019, Covid-19 telah menewaskan lebih dari 20 juta orang di seluruh dunia, termasuk lebih dari satu juta di AS. Banyak korban juga mengalami infeksi berat hingga harus dirawat di rumah sakit, sementara sebagian lainnya menderita komplikasi kronis.

Pilihan Redaksi
  • Pura-Pura Kerja Pakai Keyboard Palsu, Puluhan Pegawai Bank Kena PHK
  • BPS: 13,97 Juta Turis Asing Serbu RI, Terbanyak Sejak Era Covid

Kehadiran vaksin pada awal 2021 dan kekebalan dari infeksi sebelumnya membantu menurunkan risiko komplikasi berat dan kematian. Namun, Covid-19 belum hilang sepenuhnya. Kini penyakit ini bersifat endemik, menjadi salah satu dari banyak virus pernapasan yang dapat membuat sakit secara rutin.

Risiko tinggi bagi lansia

Orang berusia di atas 65 tahun masih menjadi kelompok paling rentan. Dalam periode 2023-2024, mereka menyumbang hampir setengah dari seluruh infeksi, dua pertiga rawat inap, dan lebih dari 80% kematian akibat Covid-19.

Meski tingkat keparahan penyakit menurun, CDC melaporkan sekitar 20.000 kematian pada 2025, risiko tetap nyata dan bisa dicegah dengan vaksin booster dan pengobatan antivirus jika diberikan sejak dini.

Grabowski menekankan bahwa banyak lansia di panti jompo belum mengikuti vaksin booster secara rutin dan sering tidak mendapatkan obat antivirus saat sakit. Ia menyarankan agar lansia menghindari panti jompo padat penghuni, memilih kamar tunggal, ventilasi yang baik, dan protokol pengendalian infeksi.

"Orang lanjut usia sebaiknya menghindari panti jompo yang padat penghuni dan lingkungan hunian kelompok lainnya, di mana Covid-19 dapat menyebar dengan cepat. Mereka sebaiknya memilih fasilitas dengan kamar tunggal, ventilasi yang lebih baik, serta praktik pengendalian infeksi yang lebih ketat," ujar Grabowski, yang menulis editorial pendamping untuk studi tersebut.

Data Terbaru CDC

Dalam studi ini, peneliti menganalisis data dari COVID-NET, program pengawasan rawat inap terkait Covid-19. Mereka membandingkan dua periode, yakni Oktober 2022-September 2023 dan Oktober 2023-September 2024.

Berdasarkan data tersebut, para peneliti memperkirakan Covid-19 menyebabkan 43 juta warga Amerika jatuh sakit pada periode 2022-2023. Penyakit ini juga memicu 10 juta kunjungan ke dokter, 1,1 juta rawat inap, serta 101.300 kematian.

Sementara pada periode 2023-2024, Covid-19 diperkirakan menginfeksi 33 juta orang, menyebabkan 7,7 juta kunjungan rawat jalan, 879.100 rawat inap, dan 100.800 kematian.

Angka-angka ini memang jauh lebih rendah dibandingkan puncak pandemi di Amerika Serikat. Pada 2021, misalnya, Covid-19 secara resmi menewaskan lebih dari 400.000 orang.

Namun, jumlah kematian tahunan akibat Covid-19 pada periode akhir 2022 hingga 2024 kemungkinan masih melampaui penyakit menular tunggal lainnya, dengan kemungkinan pengecualian pada musim flu yang sangat parah musim dingin lalu.

"Meski terjadi penurunan jumlah kasus, kunjungan rawat jalan, dan rawat inap dari 2022-2023 ke 2023-2024, Covid-19 tetap memberikan dampak tahunan yang besar di Amerika Serikat," tulis para penulis dalam makalah mereka yang dipublikasikan di JAMA Internal Medicine.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:
Video: RI Bangun Pemerintahan Digital, Komdigi Ungkap Strateginya!

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Siap-Siap Mantel! Mayoritas Wilayah Jakarta Diguyur Hujan Pagi hingga Malam Ini
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Timbunan Sampah Kembali Penuhi Bahu Jalan di Tangsel
• 14 jam lalubisnis.com
thumb
Tragedi Ledakan Gas di Jelambar, Korban Terlempar Sampai Keluar Rumah
• 8 jam lalueranasional.com
thumb
Ramalan Zodiak Hari Ini, Rabu 7 Januari 2026: Aries Penuh Energi, Virgo Diminta Lebih Sabar
• 9 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Jonny Evans Dampingi Darren Fletcher saat MU Hadapi Burnley
• 11 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.