Warga Pedukuhan Gari, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, memutuskan akan tetap membangun Masjid Al Huda yang sebelumnya telah dirobohkan.
Masjid itu dirobohkan warga karena mereka mendapat janji akan ada donatur yang bakal membangun ulang masjid. Salah satu syarat pencairan dana dari donatur, masjid harus roboh.
Namun usai masjid dirobohkan, donatur yang berjanji malah hilang tanpa jejak.
Meski begitu, warga tetap akan menuntaskan pembangunan dengan cara mereka sendiri.
"Insyaallah masyarakat tidak akan menuntut macam-macam. Insyaallah mudah-mudahan pembangunan ini berjalan lancar sesuai dengan harapan masyarakat," kata salah seorang warga Mujiyo (72 tahun), ditemui, Selasa (6/1).
Rewang Dwi Atmojo (72 tahun), seorang warga lainnya, menyatakan warga tak akan membawa kasus ini ke ranah hukum.
"Nggak pernah berpikir sampai situ (membawa ke ranah hukum). Karena ini kan yang kita bangun bisa dibilang rumah Allah. Kalau warga masyarakat punya itikad yang tidak baik nanti jadinya akan tidak baik juga," bebernya.
Dwi mengakui banyak warga yang kecewa donatur tak ada kabar. Tapi mereka semangat menyelesaikan pembangunan.
"Banyak yang kecewa. Tapi kekecewaan tersebut tidak akan menyurutkan semangat warga umat Islam yang ada di Gari. Bahkan menjadikan semangat yang menggebu-gebu untuk membangun masjid ini," kata Dwi.
Pantauan kumparan hari ini, pembangunan telah dimulai. Warga bekerja membangun struktur penahan tanah, atau talud masjid. Biaya pembangunan masjid dengan luas 22 x 18,5 meter ini diperkirakan mencapai Rp 1,8 miliar.
Masjid rencananya akan dibangun dua lantai. Lantai bawah digunakan sebagai basement yang bisa dimanfaatkan seperti untuk menyembelih hewan kurban.
"Belum, baru penambahan-penambahan serambi. Yang dulu belum dikeramik, dikeramik. Tapi untuk bagian pokok-pokok belum pernah (renovasi)," ucanya.
Katanya, sejak dibangun 1984, masjid ini belum pernah direnovasi.
Impian renovasi ini bermula pada November lalu. Warga memang telah berencana merenovasi masjid. Gayung bersambut, datang dua orang yakni dari Pedukuhan Gatak yang masih kalurahan Gari berinsial AS dan seorang dari Kapanewon Ngawen berinisial H.
Saat itu H menawarkan ada yayasan yang akan menjadi donatur. Usai masjid dirobohkan warga mencari yayasan yang ada di Tangerang itu untuk konfirmasi.
Warga mengkonfirmasi ke yayasan yang dimaksud serta tokoh yang disebut akan memberikan donasi. Ternyata pihak yang disebut ini tak tahu menahu.
Sementara itu AS yakni Agus Suryanto dikonfirmasi mengatakan dirinya hanya penghubung saja.
Dia mengatakan awalnya ada temannya dari Kapanewon Gedangsari yang menanyakan apakah ada masjid yang butuh diperbaiki.
"Ada Rp 350 juta dan tolong carikan buat masjid," kata Agus.
Di wilayahnya di Gatak sudah ada enam masjid bagus. Berdasarkan hal itu dia menghubungkan ke warga Gari, memberi informasi tentang ketersediaan dana untuk pembangunan masjid tua.
"Ke sana sama sesepuh mengobrol di masjid, kalau ada seperti ini ditindaklanjuti atau tidak," katanya.
Saat itu diskusi belum final, rekan Agus dari Kapanewon Ngawen yakni H menghubungi. Intinya H mengatakan ada yayasan yang akan membantu pembangunan masjid.
"H datangi ke masjid ngobrol bareng di masjid. Di obrolan itu bilang yayasan bisa datang kalau masjid dalam kondisi rata. Jadi sepemahaman saya, bukan menyuruh, tapi kalau yayasan itu dari lahan kosong atau masjid yang sudah roboh dan diminta berembuk jika ingin diterima," menurut sepemahaman Agus.
Agus menduga ada miskomunikasi. Namun dia mengaku tak tahu proses detail. Termasuk soal kabar perbedaan desain masjid.
"(Saya) menghubungkan dan membantu bagaimana percepatan (pembangunan) di sana bisa dicapai. Dan nomor-nomor yang datang ke situ (masjid) saya sampaikan," bebernya.
Sebelumnya, Ketua Panitia Pembangunan Masjid Al-Huda, Budi Antoro, mengatakan pada November 2025 silam dua orang masing-masing warga Gatak, Kalurahan Gari dan satu orang warga Kapanewon Ngawen datang menemui sesepuh Gari dan berniat jadi donatur pembangunan masjid.
"Dengan syarat masjid dibongkar, kemudian dengan syarat-syarat yang lain termasuk RAB (rancangan anggaran biaya) kami penuhi. Namun di perjalanan ternyata lama tidak berproses," kata Budi melalui sambungan telepon.
RAB pembangunan masjid di angka Rp 1,8 miliar. Awal pembongkaran komunikasi dengan warga Ngawen berinisial H itu masih lancar. Namun, lama kelamaan warga merasa ada kejanggalan.
Warga lalu mencari tahu ke yayasan dan tokoh yang disodorkan oleh H.
"Benar ada yayasan (yang disebutkan H), tetapi belum benar-benar meng-ACC donasi kepada kita. Ceritanya seperti itu," kisahnya.
Sosok H sendiri tak bisa dihubungi. Sementara warga Gari yang bersama H menurut Budi juga menjadi korban.




