Catatan Perjalanan: Banda Aceh-Aceh Tamiang, 1.000 Kilometer Jejak Pilu Bencana Sumatera (1)

kompas.id
1 hari lalu
Cover Berita

Dampak besar bencana ekologis banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh bukan isapan jempol belaka dan tidak pula hanya dramatis di media sosial. Dampaknya sangat masif hingga meluluhlantakkan hampir semua kabupaten/kota di Aceh, terutama di sepanjang pesisir timur.

Itulah yang Kompas saksikan saat menyusuri jejak kedahsyatan bencana ekologis yang menerjang Aceh pada 26 November 2025. Kesaksian itu didapat dari hasil perjalanan darat menggunakan sepeda motor trail dari Kota Banda Aceh di ujung utara Aceh hingga Kabupaten Aceh Tamiang di perbatasan Aceh-Sumatera Utara. Perjalanan pulang-pergi sejauh kurang lebih 1.000 kilometer (km) itu dilakukan pada 7-16 Desember 2025.

Menggunakan sepeda motor, terutama jenis trail sebenarnya tidak nyaman sama sekali. Terpaan hujan dan sengatan matahari menjadi risiko yang pasti dirasakan. Tubuh pun terasa remuk redam. Apalagi jok sepeda motor trail kecil dan berbusa tipis, serta ditambah getaran dari ban pacul yang menggelinding di lintasan aspal.

Baca JugaBak Tsunami Kecil, Aceh Porak-poranda Diterjang Banjir dan Longsor 

Namun, semua risiko itu mau tidak mau harus diterima. Sebab, sepeda motor trail menjadi moda kendaraan yang paling ideal untuk melihat lebih dekat wilayah terdampak bencana hingga ke pelosok-pelosok.

Saat itu, banyak jembatan masih putus. Praktis, hanya sepeda motor yang masih bisa menyeberangi sungai di lokasi jembatan putus dengan menggunakan perahu nelayan. Belum lagi, banyak akses jalan yang masih terendam lumpur sisa material bencana. Jalan itu sulit ditembus kecuali menggunakan sepeda motor trail atau mobil off road.

Pertimbangan lainnya, BBM sepeda motor jauh lebih irit sehingga tidak perlu membawa cadangan BBM dalam jumlah besar. Apalagi, saat itu, BBM sangat sulit didapat karena pasokan terganggu. Selebihnya, sepeda motor lebih gesit dan lincah untuk menyelematkan diri kalau terjadi bencana susulan.

Agar tidak terkendala ataupun jatuh sakit sebelum menuntaskan perjalanan, semua perlengkapan pendukung harus disiapkan secara matang. Peralatan dokumentasi dipilih yang paling ringkas yang memungkinkan bekerja dengan efektif dan efisien. Apalagi sebagian besar jaringan listrik dan telekomunikasi masih lumpuh.

Pakaian yang dibawa berbahan yang mudah kering dan dibersihkan. Dengan begitu, tidak perlu membawa banyak pakaian yang bisa membebani perjalanan. Sepatu yang dipilih berjenis bot tinggi untuk antisipasi kemasukan air dan lumpur, serta terinjak benda tajam sisa material bencana.

Cemilan pengganjal lapar, botol air berfilter penjernih air, masker, cairan pembersih tangan, hingga obat-obatan tidak boleh ketinggalan. Sebab, di wilayah bencana, sulit mencari warung makan dan air bersih. Tas yang dibawa pun berjenis anti air atau dry bag.  

Baca JugaBukan Hanya Manusia, Gajah pun Jadi Korban Keganasan ”Tsunami Jilid Dua” Aceh
Start perjalanan

Perjalanan itu dimulai dengan mengunjungi Kabupaten Pidie Jaya. Jejak bencana di sana masih berserakan, terutama di kawasan Mereudue. Jalanan penuh lumpur. Di pinggiran jalan, sejumlah kendaraan masih berlumpur. Sejumah bangunan rumah, toko, dan kantor rusak serta masih terendam lumpur.

Suasana mencekam di malam hari karena listrik masih padam. Hanya sebagian tempat yang bisa menyalakan cahaya yang berasal dari lilin ataupun lampu yang hidup dengan mesin genset. Tidak ada penginapan yang beroperasi.

Untuk bermalam sejenak, tempat cukup nyaman berada di Posko Media Center yang berada di Gedung MTQ Pidie Jaya yang berdekatan dengan Kantor Bupati Pidie Jaya. Di sana, genset menyala sepanjang hari, internet stabil, dan air bersih lancar.

Walau hanya beralas lantai dan tanpa selimut, kesempatan beristirahat di sana selama kurang lebih tiga jam terasa sangat mewah. Setidaknya, itu menjadi momen berharga untuk merebahkan tubuh dan mengecas baterai peralatan elektronik, serta memenuhi hajat di toilet.

Setelah beristirahat, liputan utama di sana tertuju ke Kampung Meunasah Bie, Kecamatan Meurah Dua. Sebab, ada empat ekor gajah jinak yang dikerahkan untuk membantu pembersihan batang-batang kayu yang menutupi akses jalan antar kampung.

Sesampai di lokasi, hal mengganggetkan terlihat. Bukan hanya takjub dengan kekuatan gajah saat mengangkat batang-batang kayu berukuran besar, melainkan turut terheran menyaksikan ratusan hingga ribuan batang kayu yang menutupi akses jalan tersebut.

Baca JugaIroni Gajah Sumatera, Habitatnya Dirusak, Kini Jadi Pembersih Sisa Bencana

Dalam hati berbisik, bencana ini betul-betul bukan bencana biasa. Sebelumnya, 10 tahun lalu, Kompas pernah meliput banjir bandang di kawasan Aceh Tengah dan Aceh Tenggara. Saat itu, ada sejumlah batang kayu dan batu yang terbawa banjir. Namun, jumlahnya hanya segelintir dibanding dampak bencana kali ini.

Setelah mengunjungi Pidie Jaya, perjalanan dilanjutkan menuju Kabupaten Bireuen. Di pusat kota yang dilintasi Jalan Nasional Banda Aceh-Medan, suasana Bireuen tampak baik-baik saja. Sejumlah toko dan warung kopi masih buka seperti biasa.

Namun, saat memasuki pelosok Bireuen, barulah jejak bencana membuat hati tertegun. Saat dampak bencana di Pidie Jaya terlihat sangat parah, dampak di pelosok Bireuen ternyata terasa jauh lebih parah.

Sejumlah jembatan rangka baja yang menghubungkan jalan antardesa ataupun antarkecamatan di pelosok Bireuen ambruk, terutama di sepanjang aliran Krueng/Sungai Peusangan. Rumah, bangunan sekolah, dan perkantoran di sana tertimbun lumpur dengan ketinggian 30-60 sentimeter.

Dampak kerusakan bukan hanya berada di dekat hulu sungai, melainkan pula di hilir yang dekat dengan laut. Di Kecamatan Jangka, Bireuen, misalnya, puluhan rumah hanyut terbawa derasnya banjir bandang. Ratusan hektar sawah menjelma menjadi hamparan lumpur seluas mata memandang.

Ratusan hingga ribuan warga harus mengungsi di sejumlah lokasi, seperti di meunasah/mushalah dan masjid yang masih berdiri kokoh. Memasuki malam hari, kondisi membuat bulu kuduk berdiri. Suasananya begitu sunyi dan gelap gulita.

Baca JugaSemangat Orang Aceh Bangkit di Tengah Gelapnya Pengungsian

Nyaris tidak ada suara kecuali sayup-sayup teriakan anak-anak yang bercanda dari arah lokasi pengungsian, serta nyanyian binatang malam. Selebihnya, tanda kehidupan hanya terlihat dari api unggun yang dinyalakan sejumlah warga di halaman tempat mereka mengungsi.

Dampak bencana di Bireuen pun menyebabkan jembatan penghubung Jalan Nasional Banda Aceh-Medan putus total, yakni Jembatan Krueng Tingkeum di Kecamatan Kuta Blang. Akibatnya, warga harus menggunakan perahu nelayan untuk menyeberang. Penyeberangan hanya melayani penumpang dan kendaraan roda dua. Biayanya Rp 10.000 per orang dan Rp 50.000-80.000 per sepeda motor.

Setelah dua hari berada di Bireuen, perjalanan diputuskan langsung menuju Aceh Tamiang yang dikabarkan sebagai kabupaten terdampak paling parah. Sepanjang perjalanan tersebut, jejak bencana terlihat jelas di sejumlah permukiman dan pusat niaga di Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Timur yang dilintasi jalan nasional.

Jalanan masih dipenuhi bekas lumpur yang menimbulkan debu pekat saat cuaca kering atau tidak turun hujan. Sebaliknya, bekas lumpur menjadi becek dan licin saat diguyur hujan. Pemandangan mengenaskan tampak saat warga coba menyelamatkan harta benda dari rumah dan barang dagangan dari tokonya.

Harta benda ataupun dagangan seperti kulkas, sofa, dan kasur dikeluarkan dengan keadaan sudah berwarna cokelat pekat karena dipenuhi lumpur. Barang-barang itu kemudian diletakkan di pinggiran jalan di luar rumah ataupun toko.

Ada warga yang termenung melihat harta benda ataupun dagangannya yang sudah seperti barang bekas. Ada juga yang tidak mau berputus asa. Mereka tetap coba membersihkan harta benda atau dagangan itu dengan disemprot air seadannya.

Baca JugaAceh Tamiang Masih Memilukan, Hunian Sementara Mendesak
Porak-poranda

Namun, pemandangan yang mengelus dada dari Pidie Jaya hingga Aceh Timur menjadi lebih menyakitkan sesampai di Aceh Tamiang. Hampir setiap jengkal Aceh Tamiang luluh-lantak, porak-poranda akibat diterjang bencana.

Mulai dari gerbang ”Selamat Datang di Aceh Tamiang” dari arah Kota Langsa, pengendara akan langsung disajikan debu pekat yang menyesakkan dari lumpur sisa material bencana yang mengering. Sejumlah bangunan, seperti rumah, toko atau warung, dan perkantoran rusak parah.

Warga mendirikan tenda atau gubuk untuk berteduh karena rumahnya sudah tidak bisa dihuni. Tak sedikit warga dari anak-anak hingga lansia mengemis bantuan kepada setiap pengendara yang melintas. Mereka mengaku belum mendapatkan bantuan apapun.

Harta benda warga hancur dan berserakan di tepian jalan usai tersapu banjir. Mobil-mobil mewah dari berbagai jenis merek hancur dan bergelimpangan. Ada mobil penuh lumpur yang masih terdiam tanpa tuan di pinggiran jalan. Ada pula mobil terguling begitu saja di antara puing bangunan.

Puncak pemandangan yang mengenaskan akhirnya terlihat di Kuala Simpang, Ibu Kota Aceh Tamiang. Semua bangunan yang berada di tepian Sungai Tamiang yang membelah Kuala Simpang rata tanah. Hanya sejumlah bangunan yang secara ajaib masih berdiri kokoh, antara lain Masjid Al Ihsan di Kampung Kota Lintang Bawah.

Lautan batang kayu yang mayoritas berukuran raksasa masih menumpuk di sejumlah lokasi yang dahulu pusat permukiman warga. Tubuh manusia layaknya semut saat melangkah di atas lautan batang kayu tersebut.

Baca JugaGamis Anisa di Balik Kisah Gelondongan Kayu yang Menghantam Pesantrennya

Warga Kabupaten Aceh Besar yang berprofesi sebagai pekerja media sekaligus sukarelawan yang membawa bantuan kemanusiaan ke lokasi bencana, Hendri (36), mengatakan, perjalanan dari Pidie Jaya hingga Aceh Tamiang seperti menapaki frekuensi gelombang dampak bencana yang semakin membesar. Awalnya, dampak di Pidie Jaya tampak sangat besar.

Ternyata, dampak lebih parah terus terlihat saat sampai di Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, hingga Aceh Tamiang. ”Hampir semua wilayah pesisir timur Aceh hancur terkena bencana ini, tapi dampak di Aceh Tamiang yang paling memprihatinkan,” ujar Hendri, pemilik sepeda motor trail yang ditumpangi Kompas selama perjalanan.

Bukan hanya pemandangan dampak bencana yang membuat prihatin, cara warga terdampak merespon bencana yang dialaminya sangat memilukan. Di Kampung Kota Lintang Bawah, warga kehilangan tempat tinggal. Kini, mereka hanya hidup di tenda atau gubuk yang dibangun seadanya di antara puing bekas tempat tinggal mereka.

Selama berhari-hari hingga berpekan-pekan, mereka hidup tanpa kepastian. Mereka hanya menanti uluran tangan para donatur yang datang membawa bala bantuan makanan, minuman, obat-obatan, hingga pakaian. Saat ada donatur datang, mereka sontak berhamburan antre untuk mendapatkan bantuan.

Namun, para warga terdampak itu masih bisa tersenyum, tertawa, dan bercanda satu sama lain. Ada satu momen, Iskandar (59), warga terdampak di Kota Lintang Bawah dicandai oleh anaknya yang menyuruhnya segera pulang ke tenda karena khawatir tidak bisa melihat jalan pulang.

”Hari mau malam. Pulang terus, nanti tidak bisa pulang. Payah nanti kami mencari,” ujar pemuda itu berteriak ke Iskandar. Bukan marah, Iskandar justru menyahut santai, ”iyah pula ya, mata saya kan sudah sulit melihat”.

Mau sedih bagaimana lagi, pak. Air mata kami sudah kering. Percuma kalau terus menangis karena yang hilang tidak mungkin kembali lagi. Sekarang, mau tak mau, kami nikmati saja apa yang terjadi, sambil berharap pemerintah bisa memikirkan nasib kami ke depan.

Percakapan spontan itu memantik tawa warga terdampak di sekitarnya. Air mata kesedihan mereka seolah sudah habis. Kini, yang bisa dilakukan mereka adalah bersahabat dengan apa yang telah terjadi. Senyum, tawa, dan candaan mereka merupakan luapan emosi yang telah melampaui batas kesedihan. 

”Mau sedih bagaimana lagi. Air mata kami sudah kering. Percuma kalau terus menangis karena yang hilang tidak mungkin kembali lagi. Sekarang, mau tak mau, kami nikmati saja apa yang terjadi, sambil berharap pemerintah bisa memikirkan nasib kami ke depan,” kata Iskandar yang berkacamata tebal.

_______________________________________________

Setelah 10 hari Aceh dilanda bencana ekologis, Kompas diterjunkan langsung untuk menyaksikan dan meliput dampak parah bencana tersebut ke "Bumi Serambi Mekkah". Perjalanan dilakukan melalui jalan darat lintas timur Aceh, dari Banda Aceh hingga Aceh Tamiang. Perjalanan yang total menempuh jarak sekitar 1.000 kilometer itu memperlihatkan dampak bencana yang sangat masif. Pengalaman melihat dampak kerusakan dan mendengar pengalaman warga terdampak disajikan dalam dua tulisan. Tulisan ini adalah satu tulisan dari dua seri tulisan yang disiapkan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Indonesia Segera Dapat Kapal Baru dari Jepang, Datang di 2027
• 11 jam lalumerahputih.com
thumb
Ridwan Kamil Buka Suara Usai Resmi Menyandang Status Duda, Singgung Soal Atalia Praratya
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Produksi Lampaui Target, Pupuk Kaltim Perkuat Fondasi Ketahanan Pangan
• 13 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Kemenag Buka Seleksi Nasional Madrasah Unggulan 2026, Simak Jalur dan Jadwalnya
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
Saham DADA Tiba-Tiba ARA 34% Meski Diterpa Isu Toko Kelontong, Ritel Kuasai 70%
• 13 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.