Di Balik Islam Kian Diterima di Eropa dan Amerika

kumparan.com
2 hari lalu
Cover Berita

Hari itu Jumat siang dan azan berkumandang dari The Central Mosque, masjid besar kota London, United Kingdom. Saya memasuki masjid itu yang telah penuh dengan jemaah, termasuk para muslim bule, muda dan tua. Di antara mereka ada yang lahir dari keluarga Muslim, ada pula yang datang melalui proses pencarian panjang. Pemandangan ini bukan lagi hal langka. Ia menjadi potret kecil dari satu gejala besar: Islam kian eksis di Eropa dan Amerika.

Fenomena ini sering disalahpahami sebagai sekadar dampak migrasi. Padahal, realitas di lapangan menunjukkan sesuatu yang lebih dalam—Islam bukan hanya “datang”, tetapi juga “diterima”, bahkan menjadi bagian dari struktur sosial dan politik Barat.

Dari Identitas Imigran ke Pilihan Kesadaran

Salah satu kesalahan analisis yang kerap muncul adalah melihat Islam di Barat semata sebagai identitas imigran. Padahal, menurut Olivier Roy, ahli Islam politik kontemporer asal Prancis, yang terjadi justru adalah re-Islamization through individual choice, bukan pewarisan budaya semata. Dalam banyak kasus, Islam dipeluk sebagai respons atas krisis makna, keterasingan sosial, dan kehampaan spiritual masyarakat modern.

Pandangan Roy ini sejalan dengan teori “religious economy” dari Rodney Stark, sosiolog agama terkemuka. Teori ini menjelaskan bahwa agama akan tumbuh subur bukan ketika ditekan, melainkan ketika ia hadir sebagai pilihan rasional yang memberi makna, disiplin moral, dan komunitas yang solid. Dalam masyarakat Barat yang sangat liberal, Islam tampil sebagai alternatif etis yang tegas, terstruktur, dan menenangkan.

Contoh riilnya mudah ditemukan. Di Inggris dan Amerika Serikat, angka mualaf terus bertambah, terutama dari kalangan muda terdidik. Banyak di antara mereka tertarik pada konsistensi ajaran Islam tentang keadilan sosial, kesetaraan manusia, dan spiritualitas yang membumi—bukan sekadar ritual, tetapi jalan hidup.

Islam dalam Struktur Sosial dan Politik Barat

Eksistensi Islam di Barat tidak berhenti pada ranah kultural, tetapi merambah ke struktur politik. Terpilihnya tiga kali berturut-turut Sadiq Khan sebagai Wali Kota London dan di New York figur Muslim Zohran Mamdani—politisi progresif yang terbuka dengan identitas keislamannya—yang baru diambíl sumpahnya awal Januari 2026 ini, menunjukkan bahwa Islam semakin diterima dalam ruang politik kota global, bukan sebagai simbol eksklusif, melainkan sebagai bagian dari etika publik dan keadilan sosial.

Ini bukan sekadar soal identitas agama, melainkan soal integrasi nilai. Muslim di Barat yang berhasil menembus ruang publik umumnya tidak hadir dengan politik identitas yang sempit, tetapi dengan agenda universal: keadilan kota, transportasi publik, keamanan, dan kesejahteraan sosial. Mereka membuktikan bahwa menjadi Muslim taat tidak bertentangan dengan nilai demokrasi modern.

Data memperkuat tren ini. Pew Research Center mencatat bahwa Islam adalah agama dengan pertumbuhan tercepat di Eropa dan Amerika Utara. Pew memproyeksikan populasi Muslim di Eropa akan terus meningkat hingga pertengahan abad ini, bahkan dalam skenario tanpa migrasi besar sekalipun, karena faktor demografi dan konversi. Di Amerika Serikat, jumlah Muslim diperkirakan akan melampaui populasi Yahudi dalam beberapa dekade ke depan.

Masa Depan Islam dan Kecerdasan Umat Menyambutnya

Implikasi dari semua ini sangat besar bagi masa depan Islam. Pertama, pusat dinamika pemikiran Islam tidak lagi tunggal di dunia Timur, tetapi semakin dialogis dan global. Diskursus tentang fiqh minoritas, hak warga negara, lingkungan, dan keadilan sosial justru berkembang pesat di Barat.

Kedua, umat Islam dituntut menyambut peluang ini dengan kecerdasan, bukan euforia. Islam akan semakin diperhatikan—dan diuji. Tantangan Islamofobia, politisasi agama, hingga ekstremisme tetap nyata. Karena itu, wajah Islam yang ditampilkan haruslah Islam yang berilmu, beradab, dan relevan dengan problem kemanusiaan universal.

Learning point terpentingnya jelas: Islam tidak berkembang karena paksaan atau nostalgia masa lalu, tetapi karena kemampuannya menjawab kegelisahan manusia modern. Ketika Islam hadir sebagai rahmat, etika publik, dan sumber makna, ia tidak hanya bertahan—tetapi tumbuh, bahkan di jantung Barat yang sekuler.

Dan masjid besar di London itu, The London Central Mosque, pada Jumat siang, hanyalah satu saksi kecil dari perubahan besar yang sedang berlangsung.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kolombia Berharap Ketegangan dengan AS Mereda Setelah Percakapan Telepon Petro-Trump
• 55 menit laluerabaru.net
thumb
Kompetisi Pahatan Salju Internasional Harbin ke-28 Resmi Dibuka, Dihadiri Peserta dari 13 Negara
• 6 jam lalupantau.com
thumb
Bukan Sulap! Begini Jatuh Bangun RI Terbukti Bisa Swasembada Beras
• 6 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Pemerintah Terbitkan UU APBN 2026, Defisit Bengkak hingga Pendapatan Negara Naik
• 8 jam lalukatadata.co.id
thumb
Richard Lee Jadi Tersangka, Dokter Detektif Lega
• 20 jam lalugenpi.co
Berhasil disimpan.