Kepala Kantor Kemenag Gunungkidul, Mukotip, angkat bicara soal Masjid Al-Huda di Pedukuhan Gari, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, DIY, yang sudah dirobohkan, tetapi ditinggal donatur.
“Tentu kejadian ini menjadi perhatian kita. Jangan sampai tergiur oleh iming-iming yang semuanya ingin membangun masjid, namun tidak konsisten atau tidak bertanggung jawab,” kata Mukotip melalui sambungan telepon, Selasa (6/1).
Membangun tempat ibadah yang representatif dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti membangun sendiri, sponsorship, hingga gotong royong. Namun, ada pula yang hanya sebatas janji, seperti yang terjadi di Gari.
Ketua Dewan Masjid Indonesia Kabupaten Gunungkidul ini mengatakan kejadian di Gari sangat merugikan.
“Kejadian ini sangat merugikan kita, masjid sudah dibongkar, tapi yang menjanjikan uang Rp 1,8 miliar tidak ada janjinya. Hal ini menjadi perhatian khusus, bahwa setiap hal yang baik tentu harus diwaspadai,” kata Mukotip.
Berkoordinasi dengan Dewan MasjidMukotip mengimbau agar takmir masjid dan masyarakat dapat berkoordinasi dengan Dewan Masjid maupun Kemenag jika akan menerima donasi pembangunan masjid, terlebih jika jumlahnya besar.
“Lain kali juga tentu perlu koordinasi antara Takmir Masjid, Dewan Masjid Indonesia, dan Kemenag atau masyarakat di lingkungannya,” pintanya.
Mukotip mengatakan pihaknya akan membantu Masjid di Gari sesuai dengan kemampuan.
“Biasanya ada aplikasi untuk pembangunan itu, mengusulkan proposal itu standar umumnya, lalu pusat nanti merespons seperti apa,” katanya.
“Yang kedua, kita mampunya mendorong melalui Unit Pengelolaan Zakat Baznas. Walaupun tidak banyak, tapi kami biasanya memberi jika ada permintaan,” katanya.
Khusus Masjid Gari ini, secara resmi belum melaporkan proposal.
“Bagaimanapun, nanti bersama-sama untuk saling bersinergi membantu semampunya agar terjadi pemulihan masjid,” ucapnya.
Awal Mula PeristiwaImpian renovasi ini bermula pada November lalu. Warga memang telah berencana merenovasi masjid. Gayung bersambut, datang dua orang dari Pedukuhan Gatak yang berasal dari Kalurahan Gari berinisial AS alias Agus Suryanto dan seorang dari Kapanewon Ngawen berinisial H.
Saat itu H menawarkan ada yayasan yang akan menjadi donatur. Usai masjid dirobohkan warga mencari yayasan yang ada di Tangerang itu untuk konfirmasi.
Warga mengkonfirmasi ke yayasan yang dimaksud serta tokoh yang disebut akan memberikan donasi. Ternyata pihak yang disebut ini tak tahu menahu. Yayasan itu hanya dicatut saja namanya.
Sementara itu AS alias Agus Suryanto dikonfirmasi mengatakan dirinya hanya penghubung saja.
Padahal masjid sudah telanjur dirobohkan, namun donatur tak jelas kabarnya.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/2320288/original/090067100_1533533460-1533533460558165b48bc39118be-1531493433-68a924bc8b749cf5e5e988632909e917.jpg)

