Korporasi Jadi Subjek Hukum di KUHP, Ancaman Pidana Mengintai

katadata.co.id
1 hari lalu
Cover Berita

Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) baru mulai berlaku pada Jumat, 2 Januari 2026. KUHP baru mengatur korporasi menjadi subjek hukum.

Pakar Hukum dari Universitas Brawijaya, Aan Eko Widiarto, mengatakan korporasi menjadi subjek hukum sehingga dapat dimintai pertanggungjawaban pidana.

“Di dalam KUHP yang baru ini pertanggungjawaban pidana terhadap korporasi diperjelas ya, kalau dulu kan parsial,” kata Aan saat dihubungi, Selasa (6/1).

Menurutnya, aturan ini memberikan kepastian hukum untuk mempertanggungjawabkan korporasi. “Jadi menurut saya ini bagus untuk menciptakan kepastian hukum, seperti prinsip BJR (Business Judgment Rule) ini juga sudah masuk di sana dalam rangka untuk kepastian hukum, pertanggungjawaban korporasi,” kata dia.

Aan mengatakan, saat ini korporasi perlu memahami dengan seksama apa-apa saja yang dilarang dalam KUHP, begitu pula dengan para pengurusnya. “Harus hati-hari untuk tidak melakukan unsur-unsur pidana yang ada di KUHP,” kata Aan.

Pakar Hukum Pidana Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar mengatakan dengan menjadi subjek hukum, korporasi dapat menjadi tersangka/terdakwa maupun dapat menjadi pelapor, saksi, ataupun korban. “Bisa jadi tersangka/terdakwa jika terbukti korporasi melakukan kejahatan, dan bisa jadi Saksi pelapor/saksi korban jika korporasi menjadi korban kejahatan pihak lain,” kata Fickar saat dihubungi, Selasa (6/1).

Fickar juga menyatakan aturan ini tak akan menimbulkan kerugian selama korporasi berusaha dengan benar, tidak melakukan kejahatan, dan tidak merugikan pihak lain. "Aturan ini memberikan kepastian yang diperlukan untuk iklim investasi," kata dia.

Deret Pasal Pidana Korporasi

Terdapat 12 pasal dalam KUHP baru yang mengatur soal korporasi. Pasal tersebut yakni 45, 46, 47, 48, 49, 118, 119, 120, 121, 122, 123, 124. Rinciannya sebagai berikut:

Pasal 45
(1) Korporasi merupakan subjek Tindak Pidana.
(2) Korporasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup badan hukum yang berbentuk perseroan terbatas, yayasan, koperasi, badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, atau yang disamakan dengan itu, serta perkumpulan baik yang berbadan hukum maupun tidak berbadan hukum, badan usaha yang berbentuk firma, persekutuan komanditer, atau yang disamakan dengan itu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 46
Tindak Pidana oleh Korporasi merupakan Tindak Pidana yang dilakukan oleh pengurus yang mempunyai kedudukan fungsional dalam struktur organisasi Korporasi atau orang yang berdasarkan hubungan kerja atau berdasarkan hubungan lain yang bertindak untuk dan atas nama Korporasi atau bertindak demi kepentingan Korporasi, dalam lingkup usaha atau kegiatan Korporasi tersebut, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama.

Pasal 47
Selain ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46, Tindak Pidana oleh Korporasi dapat dilakukan oleh pemberi perintah, pemegang kendali, atau pemilik manfaat Korporasi yang berada di luar struktur organisasi, tetapi dapat mengendalikan Korporasi.

Pasal 48
Tindak Pidana oleh Korporasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 dan Pasal 47 dapat dipertanggungjawabkan, jika:

  • termasuk dalam lingkup usaha atau kegiatan sebagaimana ditentukan dalam anggaran dasar atau ketentuan lain yang berlaku bagi Korporasi;
  • menguntungkan Korporasi secara melawan hukum;
  • diterima sebagai kebijakan Korporasi;

Korporasi tidak melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk melakukan pencegahan, mencegah dampak yang lebih besar dan memastikan kepatuhan terhadap ketentuan hukum yang berlaku guna menghindari terjadinya tindak pidana; dan/ atau
Korporasi membiarkan terjadinya tindak pidana.

Pasal 49
Pertanggunglawaban atas Tindak Pidana oleh Korporasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 dikenakan terhadap Korporasi, pengurus yang mempunyai kedudukan fungsional, pemberi perintah, pemegang kendali, dan/atau pemilik manfaat Korporasi.

Pasal 50
Alasan pembenar dan alasan pemaaf yang dapat diajukan oleh pengurus yang mempunyai kedudukan fungsional, pemberi perintah, pemegang kendali, dan/ atau pemilik manfaat Korporasi dapat juga diajukan oleh Korporasi sepanjang alasan tersebut berhubungan langsung dengan Tindak Pidana yang didakwakan kepada Korporasi.

Pasal 118
Pidana bagi Korporasi terdiri atas: pidana pokok; dan pidana tambahan.

Pasal 119
Pidana pokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 118 huruf a adalah pidana denda.

Pasal l20
(1) Pidana tambahan bagi Korporasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 118 huruf b terdiri atas:
pembayaran ganti rugi;

  • perbaikan akibat Tindak Pidana;
  • pelaksanaan kewajiban yang telah dilalaikan;
  • pemenuhan kewajiban adat;
  • pembiayaan pelatihan kerja;
  • perampasan Barang atau keuntungan yang diperoleh dari Tindak Pidana;
  • pengumuman putusan pengadilan;
  • pencabutan izin tertentu;
  • pelarangan permanen melakukan perbuatan tertentu;
  • penutupan seluruh atau sebagian tempat usaha dan/ atau kegiatan Korporasi;
  • pembekuan seluruh atau sebagian kegiatan usaha Korporasi; dan
  • pembubaran Korporasi.
    (2) Pidana tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf h, huruf j, dan huruf k dijatuhkan paling lama 2 (dua) tahun.
    (3) Dalam hal Korporasi tidak melaksanakan pidana tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (l) huruf a sampai dengan huruf e, kekayaan atau pendapatan Korporasi dapat disita dan dilelang oleh jaksa untuk memenuhi pidana tambahan yang tidak dipenuhi.

Pasal 121
(1) Pidana denda untuk Korporasi dljatuhi paling sedikit kategori IV, kecuali ditentukan lain oleh Undang-Undang.
(2) Dalam hal Tindak Pidana yang dilakukan diancam dengan:

  • pidana penjara di bawah 7 (tuh) tahun, pidana denda paling banyak untuk Korporasi adalah kategori VI;
  • pidana penjara paling lama 7 (tujuh) sampai dengan paling lama 15 (lima belas) tahun, pidana denda paling banyak untuk Korporasi adalah kategori VII; atau
  • pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun, pidana denda paling banyak untuk Korporasi adalah kategori VIII.

    Pasal 122
    (1) Pidana denda wajib dibayar dalam jangka waktu tertentu yang dimuat dalam putusan pengadilan.
    (2) Putusan pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat menentukan pembayaran pidana denda dengan cara mengangsur.
    (3) Jika pidana denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dibayar dalam jangka waktu yang telah ditentukan, kekayaan atau pendapatan Korporasi dapat disita dan dilelang oleh jaksa untuk melunasi pidana denda yang tidak dibayar.
    (4) Dalam hal kekayaan atau pendapatan Korporasi tidak mencukupi untuk melunasi pidana denda sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Korporasi dikenai pidana pengganti berupa pembekuan sebagian atau seluruh kegiatan usaha Korporasi.

Pasal 123
Tindakan yang dapat dikenakan bagi Korporasi:

  • pengambilalihan Korporasi;
  • penempatan di bawah pengawasan; dan/ atau
  • penempatan Korporasi di bawah pengampuan.

    Pasal 124
    Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan pidana dan tindakan bagi Korporasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 118 sampai dengan Pasal 123 diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Fasum Berubah Fungsi, Warga Graha Famili Tagih Tanggung Jawab Pemkot Surabaya
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Kioxia Luncurkan SSD BG7 dengan Flash Generasi ke-8, Tawarkan Performa Tinggi dan Efisiensi Daya
• 20 jam lalupantau.com
thumb
Bakamla Butuh 274 Kapal hingga 2045, Saat Ini Ada 10 Kapal
• 19 jam lalukompas.com
thumb
MBG Dorong Konsumsi Tepung Terigu, Produsen Belum Perlu Tambah Kapasitas
• 17 jam lalukatadata.co.id
thumb
Geopolitik Global dan Konflik Kawasan Diprediksi Tekan Sektor Maritim RI di 2026
• 10 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.