Paris: Prancis, Inggris, dan Ukraina menandatangani Declaration of Intent pada Selasa kemarin, yang membuka jalan bagi pengerahan pasukan ke Ukraina jika tercapai kesepakatan gencatan senjata dengan Rusia.
Dilansir dari ABC, Rabu, 7 Januari 2026, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan pasukan Inggris, Prancis, dan mitra lainnya akan ditempatkan di Ukraina untuk membangun “pusat-pusat militer” di berbagai wilayah negara tersebut. Pernyataan itu disampaikan bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Menurut Starmer, fasilitas perlindungan yang dibangun akan digunakan oleh angkatan bersenjata Ukraina guna memastikan kebutuhan pertahanan negara tetap terjaga setelah gencatan senjata.
Pertemuan tingkat tinggi di Paris tersebut juga dihadiri utusan Gedung Putih Steve Witkoff, penasihat Presiden AS sekaligus menantu Donald Trump Jared Kushner, serta Kanselir Jerman Friedrich Merz.
Merz menyatakan Jerman dapat mengerahkan pasukan untuk mendukung Ukraina dari wilayah negara tetangga anggota NATO setelah gencatan senjata diberlakukan. Ia menegaskan bahwa Berlin tidak menutup kemungkinan opsi apa pun.
Dalam konferensi pers usai pertemuan, Kushner menyebut kesepakatan tersebut sebagai “tonggak penting," namun menegaskan bahwa perdamaian masih belum dekat.
“Ini tidak berarti kita akan langsung mencapai perdamaian. Namun, perdamaian tidak akan mungkin tercapai tanpa kemajuan yang kita raih hari ini,” ujarnya.
Hasil perundingan ini mengindikasikan meningkatnya keselarasan antara Amerika Serikat dan Eropa terkait jaminan keamanan serta mekanisme pengawasan gencatan senjata jika kesepakatan tercapai. Meski demikian, Rusia belum menunjukkan indikasi bersedia menerima perjanjian yang mencakup jaminan keamanan semacam itu.
Komitmen Prancis dan Inggris untuk mengerahkan pasukan ke Ukraina berpotensi memperumit proses negosiasi. Kremlin berulang kali menegaskan penolakan terhadap kehadiran pasukan negara-negara NATO di Ukraina pascaperjanjian apa pun.
Starmer menilai telah terjadi kemajuan dalam pembahasan jaminan keamanan, namun mengingatkan bahwa tantangan terbesar masih ada di depan. “Ini tentang membangun fondasi praktis bagi perdamaian. Tetapi kesepakatan damai hanya mungkin tercapai jika Presiden Rusia Vladimir Putin bersedia berkompromi. Hingga kini, Putin belum menunjukkan kesiapan untuk itu,” katanya.
Zelensky dalam pernyataannya menyebut kesepakatan ini memperjelas posisi negara-negara yang benar-benar siap berkontribusi dalam penyelesaian damai. Ia menyampaikan apresiasi kepada para pemimpin dan negara yang berkomitmen mendukung perdamaian.
Baca juga: Klaim Serangan 91 Drone ke Kediaman Putin Diragukan Ukraina dan Eropa




