BOGOR, KOMPAS - Pembangunan sebelas jembatan gantung dirampungkan di awal 2026. Selain itu, lebih dari 6.900 jembatan gantung tambahan diusulkan dibangun.
Capaian pembangunan jembatan gantung ini disampaikan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya di awal penyampaian taklimat awal tahun Presiden Prabowo Subianto di acara retret kedua Kabinet Merah Putih di kediaman pribadi Prabowo di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/1/2026).
Sebuah video yang menampilkan anak-anak sekolah berbasah-basah atau meniti seutas tali menyeberangi sungai pun ditayangkan. Kondisi ini melatari pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Jembatan yang disampaikan Presiden Prabowo pada peringatan Hari Guru Nasional di Jakarta, 28 November lalu.
"Dalam satu bulan sudah ada perkembangan, 11 jembatan gantung sudah selesai, sedang dalam proses 50, dan terus akan kita kejar di tahun 2026 yang sangat urgent tadi dilaporkan kurang lebih sekitar 6.900 jembatan," tutur Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, dalam konferensi pers di Hambalang, Bogor, Selasa (6/1/2026) malam.
Satgas Jembatan mendata ada sekitar 6.900 jembatan gantung yang harus dibangun di seluruh Indonesia untuk kepentingan penyeberangan. “Yang sangat urgent tadi dilaporkan kurang lebih sekitar 6.900 jembatan,” kata Prasetyo.
Presiden Prabowo menegaskan percepatan pembangunan jembatan di berbagai daerah terpencil menjadi prioritas utama pemerintah untuk memastikan akses pendidikan yang aman bagi seluruh anak Indonesia. Dalam sambutan saat puncak peringatan Hari Guru Nasional 2025, Presiden bahkan menyebut dibutuhkan 300.000 jembatan di seluruh pelosok Indonesia.
Presiden berharap tidak ada lagi anak-anak yang mempertaruhkan nyawa untuk berangkat ke sekolah. "Masalah jembatan ini menjadi prioritas karena saya tidak rela anak-anak seperti itu tiap hari mempertaruhkan nyawanya ke sekolah," ucapnya.
Dalam video, disebutkan daftar sebelas jembatan gantung yang disiapkan untuk memudahkan anak-anak berangkat menuju sekolah tanpa harus berbasah-basah di sungai.
Pertama, Jembatan Gantung di Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat sepanjang 65 meter.
Selain itu, masih ada Jembatan Gantung di Way Umbar, Tanggamus, Lampung sepanjang 70 meter; Jembatan Gantung di Lopasir, Banyumas, Jawa Tengah sepanjang 50 meter; dan Jembatan Gantung di Ciparanti, Pangandaran, Jawa Barat sepanjang 35 meter.
Kemudian, Jembatan Gantung di Aik Lekok, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat sepanjang 80 meter; Jembatan Gantung di Likunggavali, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah sepanjang 20 meter; dan Jembatan Gantung di Ular, Deli Serdang, Sumatera Utara sepanjang 150 meter.
Selain itu, Jembatan Gantung di Bokpendem, Kediri, Jawa Timur sepanjang 40 meter; Jembatan Gantung di Cisokan, Cianjur, Jawa Barat sepanjang 100 meter, Jembatan Gantung di Cisurupan, Garut, Jawa Barat sepanjang 50 meter, dan Jembatan Gantung di Krueng Arakundo, Aceh Timur sepanjang 50 meter.
Secara terpisah, Anggota Komisi II DPR dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Indrajaya, menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan retret bagi anggota Kabinet Merah Putih di Hambalang. Retret dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat soliditas dan kekompakan antaranggota kabinet. Hal ini krusial karena tantangan pemerintahan ke depan membutuhkan kerja sama yang semakin erat serta kepemimpinan yang kuat dan sejalan.
“Retret ini sangat penting untuk menyatukan visi dan memperkuat kekompakan antarmenteri. Dengan kebersamaan yang solid, kinerja kabinet tentu akan semakin optimal,” ujar Indrajaya.
Ia juga berharap retret mampu meningkatkan kinerja para anggota kabinet dalam melaksanakan program-program pemerintah. Menurutnya, pembekalan kepemimpinan menjadi momentum yang tepat untuk menyegarkan kembali komitmen pelayanan kepada masyarakat.
Selain itu, Indrajaya menekankan bahwa retret tersebut seharusnya dimanfaatkan sebagai ajang evaluasi menyeluruh terhadap kinerja pemerintah selama satu tahun terakhir. Evaluasi ini dinilai penting agar berbagai kekurangan dapat diidentifikasi dan segera diperbaiki.
“Setahun berjalan, tentu ada capaian yang patut diapresiasi, tetapi juga ada hal-hal yang masih perlu diperbaiki. Retret ini menjadi momen yang tepat untuk melakukan evaluasi kinerja secara jujur dan konstruktif,” katanya.





