Harga saham emiten jasa akomodasi dan industri perhotelan PT Puri Sentul Permai Tbk (KDTN) melonjak tajam 756,52% dalam tiga bulan terakhir. Melesatnya saham KDTN seiring rencana akuisisi mayoritas saham perseroan oleh anak usaha perusahaan tambang nikel terbesar di Cina Huayou Holdings Grup yaitu Ruby Mining Ltd.
Berdasarkan rencana tersebut, Ruby Mining Ltd yang berbasis di Hong Kong akan mengambil alih sekitar 86% saham KDTN. Aksi korporasi ini membuat saham KTDN ramai diburu para investor pasar modal.
Huayou Holdings Group merupakan perusahaan teknologi global yang bergerak di bidang material baterai lithium-ion untuk kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Perusahaan ini menguasai rantai pasok terintegrasi, mulai dari eksplorasi sumber daya mineral seperti nikel, kobalt, dan lithium, hingga produksi material baterai dan aktivitas daur ulang.
Huayou juga dikenal sebagai salah satu investor utama dalam proyek hilirisasi nikel di Indonesia. Di Indonesia, Huayou Holdings memiliki sejumlah proyek strategis, antara lain Indonesia Pomalaa Industrial Park (IPIP), Proyek Huayue HPAL, Proyek Huafei HPAL, Proyek Huake RKEP, Proyek KNI HPAL, serta Proyek Sorowako.
Corporate Secretary KDTN Aan Rohanah menyampaikan, berdasarkan informasi dari Ruby Mining, proses pengambilalihan saham ditargetkan rampung pada kuartal ketiga 2026.
“Investor [Ruby Mining Ltd] yang berencana akan masuk ke dalam perseroan melalui pengambilalihan saham milik pemegang saham pengendali perseroan,” ujar Aan dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Rabu (7/1).
Terkait alasan akuisisi, Aan menyebut langkah tersebut dilakukan dalam rangka pengembangan bisnis dan investasi, sekaligus memperluas portofolio usaha dan aset Ruby Mining di Indonesia. Ruby Mining sendiri merupakan perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan ekspor dan impor.
Aan menjelaskan, seiring dengan rencana akuisisi tersebut, Ruby Mining akan melakukan proses uji tuntas (due diligence) terhadap KDTN. Jika transaksi terealisasi, aksi ini akan mengakibatkan perubahan pengendali perseroan sebagaimana diatur dalam POJK Nomor 9 Tahun 2018.
Sinyal Rambah Bisnis NikelSeiring dengan potensi bergantinya pengendali KDTN, manajemen juga menanggapi pertanyaan bursa mengenai kemungkinan diversifikasi usaha ke sektor pertambangan nikel, sejalan dengan lini bisnis induk usaha Ruby Mining, yakni Huayou Holdings Company Limited.
Aan menyampaikan, hingga 2 Desember 2025, rencana tersebut masih dalam tahap pembahasan dan belum terdapat keputusan final. Namun demikian, mengingat adanya afiliasi potensial dengan industri nikel, peluang untuk memperluas kegiatan usaha yang berkaitan dengan komoditas tersebut tetap terbuka.
“Apabila di kemudian hari terdapat perubahan, pengendali baru akan melakukan penyesuaian sesuai dengan ketentuan peraturan pasar modal yang berlaku,” ujarnya.
Dia juga menyampaikan, apabila akan terjadi diversifikasi bisnis, maka perseroan akan menyampaikan informasi terkait kesiapan operasional, termasuk sumber daya manusia, perizinan, modal kerja dan dampak perubahan bisnis ini terhadap struktur permodalan dan arus kas perseroan.



