Benarkah Rakyat Indonesia Bahagia Meski Belum Sejahtera? Begini Pandangan Sosiolog UGM

suara.com
1 hari lalu
Cover Berita
Baca 10 detik
  • Sosiolog sebut kebahagiaan rakyat Indonesia tidak hanya diukur dari sisi ekonomi.
  • Faktor solidaritas, gotong royong, dan perbandingan sosial jadi penentu kebahagiaan.
  • Spiritualitas menjadi penopang dan mekanisme bertahan di tengah ketidakpastian hidup.

Suara.com - Rasa haru Presiden Prabowo Subianto atas hasil survei yang menobatkan rakyat Indonesia sebagai salah satu yang paling bahagia di dunia membuka sebuah pertanyaan mendasar; benarkah masyarakat Indonesia bahagia, meskipun secara ekonomi banyak yang masih hidup sederhana?

Menurut sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), BG Widyanta, kebahagiaan masyarakat Indonesia tidak bisa dibaca secara sederhana, apalagi jika hanya diukur dari indikator ekonomi.

“Dalam perspektif sosiologi, kebahagiaan itu tidak bisa direduksi hanya pada indikator ekonomi semata,” kata Widyanta, Selasa (6/1/2026).

Widyanta menjelaskan, salah satu faktor kuncinya adalah cara masyarakat Indonesia memaknai kesejahteraan, yang bersifat relatif, bukan absolut. Perbandingan yang dilakukan cenderung bersifat horizontal (dengan tetangga atau komunitas sekitar), bukan vertikal (dengan kelas sosial yang jauh di atas).

"Selama mereka merasa berada dalam kondisi yang relatif sama dengan lingkungan sekitarnya, rasa kesejahteraan sosial tetap terjaga. Di titik inilah kebahagiaan muncul meski pendapatan terbatas," jelasnya.

Kekuatan Solidaritas dan 'Moral Economy'

Faktor lain yang sangat kuat adalah apa yang disebut ilmuwan James Scott sebagai ‘moral economy’, yang hidup dalam masyarakat kolektif seperti Indonesia. Kehidupan tidak dijalani semata-mata berdasarkan rasionalitas pasar, melainkan melalui ekonomi solidaritas seperti gotong royong dan toleransi.

"Dimensi gotong royong, solidaritas, dan kohesi sosial memberikan rasa aman di dalam jaring sosial. Ada rasa di mana mereka merasa dibutuhkan dan dianggap," jelas Widyanta.

Berbeda dengan masyarakat individualistik, kebahagiaan di Indonesia bersifat kolektif dan hidup dalam relasi keluarga, tetangga, serta perayaan bersama.

Baca Juga: Prabowo Agenda Panen Raya di Karawang, Zulhas dan Bobby Naik Motor

Spiritualitas sebagai Penopang Makna Hidup

Dimensi terakhir yang tak kalah penting adalah spiritualitas. Menurut Widyanta, kehidupan masyarakat Indonesia yang lekat dengan sistem kepercayaan berfungsi sebagai mekanisme bertahan (coping mechanism) saat menghadapi berbagai ketidakpastian, termasuk ekonomi dan politik.

"Bahkan saat menderita sekalipun, mereka masih bisa memiliki makna hidup. Dan tentu saja itu menjadi semacam coping mechanism bagi masyarakat di dalam ketidakpastian," pungkasnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
IHSG Ditutup Turun 0,22% usai Tembus 9.000, Saham TOBA, OASA dan MHKI Rontok
• 1 jam lalukatadata.co.id
thumb
Ekonom Nilai Sejumlah Program Strategis Nasional Minim Kajian Ilmiah
• 22 jam lalurepublika.co.id
thumb
Anak Marah Gawainya Dilihat? Densus 88 Ungkap 6 Ciri Terpapar Ekstremisme Berbahaya
• 22 jam lalusuara.com
thumb
Tumpahan Minyak dari Restoran di Jalan Margonda Bikin Licin, Pengendara Terjatuh
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Terungkap. Ini Pelatih yang Akan Dampingi MU Saat Bertemu Brighton
• 1 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.