Dosa Panjang Digitalisasi Pendidikan

fajar.co.id
1 hari lalu
Cover Berita

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Kepala Bidang Advokasi Guru Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Iman Zanatul Haeri, bicara panjang lebar terkait perkara dugaan korupsi pengadaan Chromebook yang menjerat mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim.

Iman menegaskan, kritik terhadap kebijakan digitalisasi pendidikan bukan hal baru dan telah ia suarakan sejak awal masa jabatan Nadiem.

Iman mengungkapkan, ia sengaja membuat utas atau thread terkait korupsi Chromebook untuk menyederhanakan pengalaman para guru yang ia alami langsung sejak 2021.

Menurutnya, kebijakan digitalisasi pendidikan kala itu menguras anggaran pendidikan secara masif, salah satunya melalui pengadaan Chromebook.

“Saya membuat tread tentang Korupsi Chromebook dengan maksud menyederhanakan apa yang kami alami sebagai guru tahun 2021,” kata Iman di X @zanatul_91 (7/1/2026).

Ia menuturkan, sejak Februari 2021 dirinya sudah menaruh kecurigaan terhadap arah kebijakan pendidikan nasional.

Dalam opininya di Harian Tempo berjudul Asesmen Nasional dan Koloni OECD yang terbit 4 Februari 2021, Iman mempertanyakan urgensi Asesmen Nasional (AN) di tengah pandemi Covid-19.

“Di sini dipaparkan bagaimana AN tidak diperlukan karena sedang pandemik, ada dugaan untuk kepentingan lain. Saat itu saya tidak tahu ini apa,” sebutnya.

Kritik tersebut berlanjut. Pada 7 Juli 2021, Iman mulai melihat Merdeka Belajar sebagai sebuah paradigma yang menurutnya bermasalah.

“Sebab saat itu terasa betul merdeka belajar bukan mensukseskan pendidikan tapi mensukseskan dirinya sendiri. Kitalah yang menggotongnya,” tegasnya.

Tidak lama berselang, pada 3 Agustus 2021, Iman kembali menulis mengenai penolakan terhadap Asesmen Nasional.

Ia menyebut, kegelisahan guru semakin besar seiring masuknya berbagai platform digital ke sekolah-sekolah.

Memasuki 2022, Iman menyinggung isu penambangan data anak oleh platform pendidikan. Dari hasil analisisnya, ia menduga adanya upaya monopoli data pendidikan oleh Google.

“Saya menganalisis dan menduga ada upaya monopoli data pendidikan oleh Google. Oleh sebab itu saya tulis dalam opini di Tempo. Apa yang disampaikan kejaksaan, persis dengan paragraf terakhir tulisan saya,” ungkapnya.

Masalah tidak berhenti di situ. Pada Januari 2023, Iman menilai kapasitas guru telah melampaui batas akibat beban aplikasi pendidikan yang terus bertambah.

“Oleh sebab itu saya menulis di Republika tentang wajah teknologi pendidikan yang menjanjikan kemudahan, malah berwajah seram,” katanya.

Ia menambahkan, pada 24 Januari 2024, ambisi digitalisasi pendidikan semakin terasa, sementara guru dipaksa menjadi penopang utama kebijakan tersebut.

“Puncaknya Februari 2024, para punggawa IT Nadiem makin jumawa. Penderitaan guru yang dijajah aplikasi tidak disorot,” ucapnya.

Berdasarkan rangkaian data dan pengalamannya, Iman mengaku telah menarik kesimpulan serius pada 19 Maret 2024.

“Melihat data-data yang sudah dikumpulkan, 19 Maret 2024 saya menyimpulkan merdeka belajar sedang menopang dirinya sendiri dengan anggaran pendidikan dan bahu guru,” imbuhnya.

Iman menegaskan, P2G tidak tinggal diam. Sejak 2021, pihaknya telah meminta Asesmen Nasional dibatalkan karena pandemi masih berlangsung. Namun, suara guru tidak diindahkan.

“Tahun 2021, P2G minta AN dibatalkan karena masih pandemik. Didengarkan? Tidak,” timpalnya.

Ia menerangkan kerugian pendidikan Indonesia selama Nadiem menjabat jauh lebih besar dibanding sekadar pengadaan Chromebook.

Menurut Iman, dampaknya menyentuh paradigma pendidikan, karakter guru, hingga kualitas pembelajaran.

“Kerugian pendidikan Indonesia ketika NAM jadi menteri, bukan hanya sekedar Chromebook, paradigma Merdeka belajar, perubahan watak guru menjadi imitasi, standar pendidikan ancur, karir guru dan kepsek dicampur aduk oleh program guru penggerak, dan rendahnya literasi. Kerugiannya lebih besar daripada 800 miliar,” tegasnya.

Iman menyadari, sebagian publik justru bersimpati kepada Nadiem dan menganggapnya tidak bersalah. Bahkan, menurutnya, influencer dan buzzer berupaya membentuk opini tandingan.

“Memang secara umum, publik terenyuh oleh kasus ini dan merasa Nadiem tidak bersalah,” bebernya.

Meski demikian, Iman menegaskan dirinya tidak gentar meski pandangannya tidak sejalan dengan emosi publik.

“Saya sendiri tidak peduli kehilangan perhatian karena tidak sesuai emosi publik,” katanya.

Iman bilang, dampak kebijakan pendidikan hari ini akan diwariskan kepada generasi mendatang, termasuk anak-anak para pengkritiknya.

“Sebab yang pasti, kerusakan pendidikan akibat kebijakan Nadiem Makarim, akan ditanggung oleh saya, anak-anak anda, anak-anak para influencer dan buzzer dengan warisan sistem pendidikan Indonesia saat ini,” tandasnya.

“Saat anda menyerang saya, saya akan tetap peduli terhadap pendidikan yang akan anak anda dapatkan, karena saya adalah guru,” kuncinya.

(Muhsin/fajar)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
PSSI Bersih-bersih, 2 Pemain Liga 4 Kena Sanksi Seumur Hidup
• 7 jam lalugenpi.co
thumb
Titiek Soeharto Ungkap Peran Penting Kapolri Percepat Swasembada Jagung
• 3 jam laluokezone.com
thumb
6 Arti Mimpi Digigit Ular di Kaki: Pertanda Asmara atau Musibah?
• 5 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Siapkah Ekonomi Indonesia Menaklukkan Gelombang 2026?
• 56 menit lalukumparan.com
thumb
Kejagung Klarifikasi Kedatangan ke Kantor Menhut Raja Juli, Terkait Kasus Alih Fungsi Hutan
• 3 jam lalufajar.co.id
Berhasil disimpan.