FAJAR, MAKASSAR– Kuliner khas Sulawesi Selatan, Sop Saudara, tak sekadar menjadi hidangan favorit masyarakat, tetapi juga menyimpan makna identitas, sejarah, dan dinamika ekonomi politik. Hal itu terungkap dalam penelitian tesis Agus Salim AW, mahasiswa Program Magister Kajian Budaya Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin.
Dalam tesis berjudul “Dinamika Budaya Kuliner Sop Saudara sebagai Identitas Kultural Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan: Suatu Kajian Ekonomi Politik”, Agus meneliti bagaimana Sop Saudara dikonstruksi sebagai identitas kultural masyarakat Pangkep, sekaligus menjadi arena perebutan makna dan klaim asal-usul di tengah ekspansi kuliner di Kota Makassar.
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) serta Kota Makassar, dengan melibatkan pelaku usaha kuliner, keluarga perintis Sop Saudara, tokoh budaya, hingga pemerintah daerah. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif melalui observasi, wawancara mendalam, studi literatur, dan analisis arsip media.
Agus Salim mengungkapkan, Sop Saudara bukan hanya makanan khas, melainkan simbol solidaritas, kekeluargaan, dan kebanggaan masyarakat Pangkep.
“Sejak awal kemunculannya, Sop Saudara mengandung makna persaudaraan dan identitas kolektif, bukan semata-mata komoditas,” tulis Agus dalam tesisnya untuk penyelesaain di Kajian Budaya FIB Unhas.
Penelitian ini menelusuri sejarah Sop Saudara yang berakar dari perantauan masyarakat Pangkep ke Makassar sejak awal 1950-an. Kuliner ini kemudian berkembang luas dan populer, namun di sisi lain memunculkan ketegangan terkait klaim identitas antara daerah asal dan pusat distribusi kuliner.
Menurut Agus, ekspansi Sop Saudara di Makassar mendorong proses komodifikasi, di mana kuliner tradisional dipasarkan secara luas dan mengalami penyesuaian dengan selera pasar. Kondisi ini membuat identitas lokal Pangkep harus terus dinegosiasikan di tengah dominasi kota sebagai pusat ekonomi dan media.
“Media, promosi pariwisata, dan strategi pemasaran turut membentuk persepsi publik tentang Sop Saudara, termasuk soal asal-usul dan keasliannya,” jelasnya.
Penelitian tersebut juga menyoroti peran keluarga perintis Sop Saudara yang menjaga nilai-nilai tradisional, sekaligus beradaptasi dengan perkembangan ekonomi. Di sisi lain, pemerintah daerah dinilai memiliki peran strategis dalam melindungi dan memperkuat identitas kuliner lokal melalui kebijakan kebudayaan.
Agus berharap hasil penelitiannya dapat menjadi rujukan dalam upaya pelestarian kuliner tradisional, sekaligus menjadi bahan refleksi bagi pemerintah dan masyarakat agar tidak kehilangan akar budaya di tengah arus industri kuliner dan pariwisata.
“Pelestarian kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi juga menjaga memori kolektif dan identitas daerah,” tulisnya.
Tesis ini diselesaikan pada tahun 2025 dan menjadi salah satu kontribusi akademik yang mengangkat kuliner lokal sebagai objek kajian budaya dan ekonomi politik. (*/)
Diolah: Tunggal, Mahasiswa Magang FAJAR dari Unhas





