Demo besar pecah di ibu kota Iran, Teheran, Selasa (6/1). Sebuah LSM melaporkan aksi unjuk rasa yang berujung rusuh itu menewaskan puluhan orang.
Protes tersebut dipicu meroketnya biaya hidup. Kondisi diperparah dengan semakin melemahnya nilai mata uang lokal, rial, terhadap mata uang asing.
Laporan LSM HAM Iran (IHR) yang bermarkas di Norwegia menyebut, total demonstran yang tewas di tangan aparat keamanan mencapai 27 orang. Korban jiwa tersebut termasuk lima anak berusia di bawah 18 tahun.
IHR menambahkan, aparat keamanan Iran juga menyergap sebuah rumah sakit di Hasanabad, Teheran. Menurut laporan mereka, aparat menembakkan gas air mata ke dalam rumah sakit tersebut.
Sementara itu, Kepolisian Iran menyatakan anggotanya turut tewas dalam demo berujung rusuh di negara tersebut, demikian dikutip dari AFP.
Protes di Iran bermula pada 28 Desember 2025, diawali dengan penutupan toko-toko di pasar Teheran. Pasar tersebut merupakan pusat ekonomi nasional Iran.
Setelah itu, aksi unjuk rasa besar menyebar ke kawasan lain di Teheran, termasuk wilayah barat yang menjadi tempat tinggal kelompok minoritas Kurdish dan Lor.
Demo kali ini disebut sebagai yang terbesar sejak gelombang protes pada 2022–2023. Saat itu, unjuk rasa berujung rusuh dipicu kematian seorang perempuan bernama Mahsa Amini di dalam tahanan.
Mahsa Amini ditangkap karena diduga melanggar aturan berbusana yang berlaku di Iran.
Pada demo kali ini, sejumlah rekaman memperlihatkan para demonstran meneriakkan slogan seperti, “Pahlavi akan kembali” dan “Sayyed Ali akan terguling”.
Slogan tersebut merujuk pada monarki Iran yang digulingkan oleh Revolusi Islam 1979. Sementara itu, “Sayyed Ali” merujuk pada Pemimpin Tertinggi Iran saat ini, Ayatollah Ali Khamenei.




