Pengambilan Air Tanah Jadi Biang Kerok Penurunan Tanah Jakarta

kompas.com
1 hari lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Jakarta terus mengalami penurunan muka tanah (land subsidence) yang signifikan, terutama di wilayah pesisir utara.

Fenomena ini bukan sekadar angka dalam laporan teknis, tetapi nyata terasa oleh warga yang setiap musim hujan harus berhadapan dengan banjir yang semakin sering dan intens.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai salah satu penyebab utama penurunan tanah Jakarta adalah pengambilan air tanah dalam secara berlebihan.

“Kalau kita perhatikan hasil pengukuran Balai Konservasi Air Tanah (BKAT), penyebab utama adalah pengambilan air tanah dalam, bukan air tanah permukaan. Air tanah dalam ini diambil menggunakan pompa besar hingga kedalaman 100 meter lebih, dan itu faktor utama yang mempercepat penurunan muka tanah,” jelas Peneliti Ahli Madya pada Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air, BRIN, Dr. Yus Budiyono saat dihubungi Kompas.com, Selasa (6/1/2026).

Baca juga: Pantai Mutiara dan Cengkareng Barat, Titik Penurunan Tanah Terparah di Jakarta

Menurut Dr. Yus, laju penurunan muka tanah di Jakarta bervariasi. Rata-rata di seluruh Jakarta bagian utara adalah 3,5 cm per tahun,

var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=penurunan tanah, indepth, perubahan iklim, risiko banjir, penurunan tanah jakarta, pengambilan air tanah dalam&post-url=aHR0cHM6Ly9tZWdhcG9saXRhbi5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8wNy8xNDI2MDczMS9wZW5nYW1iaWxhbi1haXItdGFuYWgtamFkaS1iaWFuZy1rZXJvay1wZW51cnVuYW4tdGFuYWgtamFrYXJ0YQ==&q=Pengambilan Air Tanah Jadi Biang Kerok Penurunan Tanah Jakarta§ion=Megapolitan' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `
${response.judul}
Artikel Kompas.id
`; document.querySelector('.kompasidRec').innerHTML = htmlString; } else { document.querySelector(".kompasidRec").remove(); } } else { document.querySelector(".kompasidRec").remove(); } } }); xhr.open("GET", endpoint); xhr.send();

Titik-titik terparah penurunan tanah di Pantai Mutiara dan Cengkareng Barat, mencapai 28 cm per tahun.

Secara umum, penurunan tanah berlangsung linear sejak beberapa dekade terakhir, mirip dengan kota besar lain di dunia seperti Tokyo dan Bangkok.

Fenomena ini juga tecermin pada Tugu Penurunan Tanah yang berdiri di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat.

Monumen setinggi beberapa meter ini dilengkapi papan penanda yang menunjukkan posisi tanah pada 1974.

Pengamatan Kompas.com menunjukkan bahwa papan penanda untuk Jakarta Utara berada jauh di atas permukaan lantai saat ini, memberikan gambaran nyata seberapa dalam tanah telah ambles dalam 50 tahun terakhir.

“Sejak pengamatan tahun 1974 hingga 2020, tanah di beberapa titik Jakarta telah turun hingga 4,5 meter,” terang papan informasi di kaki tugu, yang juga mencatat penyebab utamanya adalah pengambilan air tanah berlebihan.

Baca juga: Jakarta Ambles hingga 4,5 Meter sejak 1974, Tugu Penurunan Tanah Jadi Pengingat

Dampak Penurunan Tanah terhadap Banjir

Penurunan tanah Jakarta bukan hanya soal permukaan yang ambles, tetapi berdampak langsung pada risiko banjir.

Dr. Yus menuturkan, penurunan muka tanah berkontribusi paling besar terhadap risiko banjir meningkatkan potensi banjir hingga lebih dari 40 persen.

Hal ini mencakup banjir rob akibat pasang laut, banjir akibat luapan sungai, maupun banjir yang muncul langsung dari hujan ekstrem.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display('div-gpt-for-outstream'); });
.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }
LazyLoadSlot("div-gpt-ad-Zone_OSM", "/31800665/KOMPAS.COM/news", [[300,250], [1,1], [384, 100]], "zone_osm", "zone_osm"); /** Init div-gpt-ad-Zone_OSM **/ function LazyLoadSlot(divGptSlot, adUnitName, sizeSlot, posName, posName_kg){ var observerAds = new IntersectionObserver(function(entires){ entires.forEach(function(entry) { if(entry.intersectionRatio > 0){ showAds(entry.target) } }); }, { threshold: 0 }); observerAds.observe(document.getElementById('wrap_lazy_'+divGptSlot)); function showAds(element){ console.log('show_ads lazy : '+divGptSlot); observerAds.unobserve(element); observerAds.disconnect(); googletag.cmd.push(function() { var slotOsm = googletag.defineSlot(adUnitName, sizeSlot, divGptSlot) .setTargeting('Pos',[posName]) .setTargeting('kg_pos',[posName_kg]) .addService(googletag.pubads()); googletag.display(divGptSlot); googletag.pubads().refresh([slotOsm]); }); } }

“Kalau banjir dari laut itu banjir rob, sementara banjir akibat presipitasi langsung, seperti tiga peristiwa besar sepanjang 2025 Maret, Juli, dan Oktober didominasi hujan lokal yang ekstrem,” kata Dr. Yus.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Indonesia Jadi Presiden Dewan HAM PBB, Usman Hamid: Rekam Jejak HAM Kita Sendiri Problematik
• 5 jam lalukompas.com
thumb
Presiden Apresiasi Capaian di SEA Games 2025, Kemenpora Gandeng BRI Salurkan Bonus Atlet
• 6 jam laluidxchannel.com
thumb
Prabowo Resmi Umumkan Indonesia Swasembada Beras, Anggota DPD Ingatkan Soal Keberlanjutan
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
DJP cairkan piutang pajak senilai Rp13,1 T dari penunggak pajak besar
• 9 jam laluantaranews.com
thumb
Baru Dipecat Manchester United, Ruben Amorim Langsung Diincar Klub Raksasa
• 13 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.