Malang (beritajatim.com) – Ancaman Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak masih menjadi momok serius bagi sektor peternakan nasional. Berdasarkan data terbaru, lebih dari 14.000 kasus infeksi PMK tercatat menyerang ternak di Indonesia dalam periode Desember 2024 hingga Januari 2025, memicu kekhawatiran peternak dan menuntut solusi cepat berbasis teknologi.
Merespons kondisi tersebut, dua mahasiswa Program Studi Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Putri Nayla Sabri dan Nisrina Nurhafihah, berhasil menghadirkan inovasi teknologi bertajuk COLARIX. Inovasi ini merupakan perangkat pemantau kesehatan ternak cerdas yang sukses meraih medali emas dalam ajang Penghargaan Kreativitas Mahasiswa Muhammadiyah (PKMM) kategori Karsa Cipta (PKMM-KC) pada November 2025.
Putri Nayla Sabri, mahasiswa asal Wamena, menjelaskan bahwa COLARIX dirancang sebagai jawaban atas kerugian ekonomi peternak akibat keterlambatan deteksi penyakit pada ternak. Perangkat ini berbentuk smart collar atau kalung pintar yang mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI).
“COLARIX ini merupakan smart collar berbasis IoT dan AI yang digunakan untuk memonitoring kondisi sapi pasca infeksi penyakit mulut dan kuku,” ungkap Putri, Rabu (7/1/2026).
Secara teknis, COLARIX bekerja dengan menggabungkan sejumlah sensor canggih, antara lain kamera ESP32-CAM, sensor suhu DS18B20, serta sensor gerak MPU6050. Kombinasi sensor tersebut memungkinkan pemantauan kondisi fisiologis sapi secara real-time dan otomatis.
Data yang dikumpulkan tidak ditampilkan secara mentah. Informasi tersebut terlebih dahulu diproses menggunakan algoritma MobileNet dan teori Dempster-Shafer guna memastikan tingkat akurasi diagnosis sebelum disajikan dalam dashboard pemantauan kesehatan ternak. Dengan sistem ini, peternak dapat mengetahui kondisi sapi pasca-infeksi PMK secara cepat tanpa harus melakukan pemeriksaan manual satu per satu.
Dalam proses pengembangannya, tim mengakui bahwa riset COLARIX dilakukan dalam waktu yang relatif singkat, yakni kurang dari dua minggu. Saat ini, perangkat tersebut masih berada pada tahap prototipe fungsional awal dan belum melalui uji lapangan berskala luas.
Meski demikian, Putri menegaskan bahwa fokus utama pengembangan saat ini adalah memastikan kelayakan teknis serta validitas landasan ilmiah COLARIX sebagai dasar pengembangan lanjutan menuju produksi yang lebih matang.
Keberhasilan ini tidak terlepas dari dukungan ekosistem akademik Universitas Muhammadiyah Malang. Fasilitas dari Program Studi Informatika serta pendampingan intensif dosen pembimbing menjadi faktor penting yang mendorong mahasiswa berani mengeksekusi ide inovatif menjadi produk nyata.
Dosen Pembina Tim PKMM-KC sekaligus Dosen Informatika UMM, Zamah Sari, S.T., M.T., memberikan apresiasi tinggi terhadap inovasi tersebut. Menurutnya, COLARIX memiliki keunggulan signifikan dibandingkan metode pemantauan kesehatan ternak konvensional.
Keunggulan tersebut antara lain sistem pemantauan yang non-invasif, kemampuan pemantauan real-time, serta penggunaan multi-sensor yang meningkatkan akurasi data kesehatan ternak. Selain aspek teknis, Zamah juga menyoroti sisi ekonomis inovasi ini.
“Biaya produksinya relatif terjangkau, sehingga sangat berpotensi untuk diterapkan di peternakan komunal,” jelasnya.
Zamah berharap capaian ini dapat menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa UMM lainnya untuk berani berinovasi. Menurutnya, keberanian mengangkat persoalan nyata di masyarakat, seperti wabah PMK pada ternak, menjadi kunci lahirnya teknologi yang memiliki dampak sosial luas.




