Pengamat CSIS Sebut Penghapusan Pilkada Langsung Bisa Menuai Protes, Timbulkan Instabilitas Politik

kompas.tv
1 hari lalu
Cover Berita
Warga menggunakan hak suaranya di TPS 046, Cipete Selatan, Jakarta Selatan, Rabu (27/11/2024). Pilkada 2024 dilakukan secara serentak di seluruh wilayah di Indonesia hari ini. (Sumber: Kompas/Fakhri Fadlurrohman)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Ketua Departemen Politik dan Perubahan Sosial Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes menyebut wacana pemilihan kepala daerah atau pilkada melalui DPRD yang digulirkan koalisi pemerintah Presiden Prabowo Subianto berpotensi menuai penolakan dari masyarakat.

Arya menilai dukungan masyarakat terhadap sistem pemilihan secara langsung masih tinggi. Menurutnya, jika melihat tren sebelumnya, publik cenderung mendukung kebijakan yang bersifat demokratis.

"Saya kira ini akan menjadi ujian dan pertaruhan terhadap stabilitas politik nasional kita, karena bagaimana pun saya meyakini bahwa dukungan masyarakat terhadap pilih kandang langsung masih cukup tinggi," kata Arya dilaporkan jurnalis KompasTV, Claudia Carla, Rabu (7/1/2026).

Lebih lanjut, Arya mengatakan, jika berkaca dari penolakan revisi UU KPK dan demonstrasi pada Agustus lalu, kebijakan meniadakan pilkada langsung disebutnya berpotensi menimbulkan instabilitas politik.

Baca Juga: Politikus PDI-P: Penyebab Biaya Pilkada Mahal Sering Kali dari Parpol, Mau Maju Harus Bayar Dulu

"Saya kira itu akan menciptakan instabilitas politik baru, dan responsnya bisa macam-macam protes demonstrasi atau penolakan," kata Arya.

"Untuk itu, saya kira pemerintah perlu melakukan pengkajian ulang terkait gagasan untuk mengembalikan (pemilihan) via DPRD."

Arya menilai alasan mahalnya biaya politik yang dikemukakan pendukung wacana peniadaan pilkada langsung tidak tepat. Mahalnya biaya politik, kata Arya, disebabkan oleh mekanisme pencalonan dan kampanye dari partai.

Menurut Arya, terdapat tiga hal yang membuat biaya pencalonan kepala daerah mahal, yakni praktik politik uang, pencalonan dari partai politik yang memerlukan biaya dari kandidat, hingga biaya mobilisasi kampanye selama pemilu.

"Kalau dalam pemilu langsung, biaya yang dikeluarkan itu kan biaya cetak surat suara, biaya penyelenggara pemilu, biaya KPPS. Itu biaya-biaya yang memang sudah wajib dikeluarkan bagi negara yang demokratis," katanya. 

Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Tito-Dirhantoro

1
2
Show All

Sumber : Kompas TV

Tag
  • csis
  • pilkada langsung
  • kepala daerah ditunjuk dprd
  • peniadaan pilkada langsung
  • politik uang
Selengkapnya


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pembunuh Bayaran Unggah Aksi Kejinya Sendiri di Facebook lalu Ditangkap Polisi
• 2 jam lalurealita.co
thumb
Wapres Gibran Tegur Gubernur Kalsel: Dengar Keluhan Rakyat, Cari Solusi Jangka Panjang
• 7 jam lalumatamata.com
thumb
Gempa Hari Ini Guncang Bantul DIY, Cek Magnitudonya!
• 10 jam lalurctiplus.com
thumb
KPK dalami aliran uang kasus Ade Kunang ke Wakil Ketua DPRD Bekasi
• 2 jam laluantaranews.com
thumb
Kecelakaan 2 Truk Bertabrakan di Lamongan, Jalur Pantura Terimbas Macet Parah
• 18 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.