jpnn.com, JAWA BARAT - Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat mengakui jika pihaknya pernah menangani kasus Super Flu atau virus Influenza tipe A H3N2 pada 2025.
Namun kini, di wilayahnya sudah nol kasus.
BACA JUGA: Kemenkes Didesak Sosialisasikan Penggunaan Masker, Seusai Muncul Virus Super Flu
Kepala Dinkes Jabar Vini Andiani Dewi mengatakan, Super Flu di Jawa Barat tercatat ada 10 kasus pada periode Agustus - Oktober 2025.
Vini pun memastikan, 10 orang yang terpapar Super Flu di tahun lalu sudah tertangani, dan kondisinya sekarang sudah sehat semua.
BACA JUGA: Aman di Kulit, Deterjen Sayang Hijab Lavender Tanpa SLS & Paraben
"Di Jawa Barat ada 10 kasus pada Agustus sampai Oktober itu sudah menurun. Sudah tertangani dan semuanya sudah sehat," kata Vini di Kota Bandung, Rabu (7/1).
Meski begitu, Vini tidak merincikan 10 pasien yang terpapar Super Flu ini di mana saja, karena jumlah itu berdasarkan data dari Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.
BACA JUGA: Banyak Makan Protein dan Kurangi Karbohidrat Cara Menangkal Virus Super Flu
Sehingga, Dinkes Jabar tidak mengetahui secara detail sebaran virusnya.
"Itu dari laporan (RS) Hasan Sadikin, detail tidak diketahui dari mana saja," ujarnya.
Di sisi lain, Vini menjelaskan, Super Flu ini bukan penamaan secara medis maupun kedokteran, melainkan berkembang di masyarakat.
Penamaan asli dari Super Flu ini yaitu, virus influenza tipe A H3N2, tetapi orang yang terpapar virus itu gejala dan penyembuhan relatif lebih lama dari flu pada umumnya.
Apabila, gejala pada flu biasa itu seperti, deman tinggi, pilek, batuk, hingga deman, sedangkan Super Flu ini ada gejala sesak napas.
"Super Flu itu virus influenza tipe A H3N2, tapi karena gejalanya lebih lama. Kalau flu biasa, 3 sampai 4 harus sembuh, kalau super flu lebih lama, bisa sampai 1 bulan apalagi kalau kelompok rentan yang terpapar. Jadi masyarakat menamakan Super Flu," ucapnya.
Dia memastikan, tingkat fatalitas Super Flu ini tidak separah Covid-19, karena saat ini tidak ada laporan kematian akibat virus tersebut walaupun penyebarannya sama, melalui droplet.
Selain tingkat fatalitas lebih rendah daripada Covid-19, Super Flu ini tidak berpotensi menjadi pandemi maupun Kejadian Luar Biasa (KLB). Sebab, vaksinnya pun sudah tersedia, hanya saja harus dilakukan secara mandiri.
"Tidak seperti Covid, tidak ada kematian karena Influenza tipe A ini, sama melalui droplet. Vaksin sudah ada, tapi memang harus mandiri sama seperti mau ke luar negeri. Tidak berpotensi KLB dan pandemi," paparnya.
Menurutnya, penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), protokol kesehatan (prokes), dan vaksinasi Influenza satu tahun sekali bisa mencegah terpapar Super Flu.
Mengingat, Super Flu ini sama seperti penyakit saluran pernapasan lainnya, sehingga ketika sakit harus istirahat, isolasi mandiri, meningkatkan asupan makanan bergizi, dan lainnya.
"Pencegahan ya penerapan PHBS, protokol kesehatan, dan vaksinasi satu tahun sekali. Kalau sakit harus istirahat, isolasi mandiri, menambah makan bergizi dan lainnya. Semua flu itu sebenarnya self limited, bisa sembuh sendiri seiring daya tahan tubuh yang baik," tuturnya.
Meski memiliki tingkat fatalitas rendah, Vini mengingatkan kepada kelompok rentan seperti, lansia, orang yang memiliki komorbid, dan balita. Sebab, kelompok rentan itu memiliki daya tahan tubuh yang lemah.
"Super Flu dan penyakit lainnya akan berat ke kelompok rentan seperti, lansia, orang yang memiliki komorbid, dan balita," pungkasnya.(mcr27/jpnn)
Redaktur : Yessy Artada
Reporter : Nur Fidhiah Sabrina


