Bisnis.com, JAKARTA — Deretan saham pelayaran mulai dari PT Samudera Indonesia Tbk. (SMDR) hingga PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk. (PJHB) mencatatkan kinerja harga yang volatil pada perdagangan awal 2026.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham emiten pelayaran seperti SMDR hingga PJHB melonjak tajam pada perdagangan perdana 2026, Jumat (2/1/2026). Sejumlah saham seperti PT Logindo Samuderamakmur Tbk. (LEAD) hingga PT Humpuss Maritim Internasional Tbk. (HUMI) bahkan masuk ke dalam jajaran top gainers.
Pada perdagangan perdana 2026, harga saham LEAD misalnya melonjak 33,77%, PJHB terbang 25%, HUMI melonjak 24,81%, dan PT Buana Lintas Lautan Tbk. (BULL) menanjak 20,24%. Selain itu, harga saham PT Soechi Lines Tbk. (SOCI) naik 18,47%, PT Temas Tbk. (TMAS) naik 29,85%, dan SMDR naik 10,71%.
Lonjakan harga saham emiten pelayaran itu terjaga setidaknya dalam dua hari perdagangan. Namun, kini harga saham deretan emiten pelayaran terjun.
Harga saham PJHB misalnya ambruk 8,29% ke level Rp376 per lembar pada perdagangan hari ini, Rabu (7/1/2026). Kemudian, harga saham SMDR melorot 2,76% ke level Rp422 per lembar. Selain itu, harga saham TMAS jatuh 4,6%, LEAD terjun 7,27%, dan SOCI turun 2,54%.
Senior Analyst Kiwoom Sekuritas Sukaro Alatas menjelaskan kenaikan harga saham deretan emiten pelayaran sebelumnya ditopang ekspektasi perbaikan fundamental, seiring ekspansi usaha dan penambahan armada guna mendorong kapasitas serta kinerja pendapatan ke depan.
Baca Juga
- Utak-atik Saham BSML, Emiten Pelayaran Bintang Samudera Mandiri
- Menakar Daya Tahan Reli Saham Pelayaran HUMI, LEAD, SOCI Cs pada Awal 2026
- BEI Suspensi Saham Pelayaran HUMI, LEAD, hingga SOCI Usai Harga Melonjak
“Di sisi lain, valuasi yang masih menarik turut menjadi katalis, terutama pada saham seperti SOCI dan SMDR yang masih diperdagangkan di bawah PBV [price to book value] 1x, sehingga memicu akumulasi investor,” ujarnya kepada Bisnis pada Rabu (7/1/2026).
Namun, karena realisasi kinerja membutuhkan waktu, pergerakan jangka pendek tetap rentan volatil dan diwarnai aksi ambil untung.
Menurutnya, prospek 2026 tetap ada, terutama bagi emiten dengan kontrak jangka panjang dan fokus segmen niche seperti tanker energi atau LNG.
“Namun, tantangan berupa biaya operasional, valuasi yang cepat naik, dan risiko koreksi membuat sektor ini lebih cocok sebagai trading berbasis momentum, sementara investor jangka menengah perlu sangat selektif,” kata Sukarno.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan penguatan saham-saham pelayaran pada awal tahun ini didorong oleh sentimen terkait kinerja bisnis. Emiten pelayaran juga mulai bergeliat seiring dengan permintaan pasar yang sudah tinggi. Tercatat, sejumlah emiten pelayaran pun berekspansi menambah jumlah armadanya.
"Terjadi kenaikan volume distribusi komoditas. Permintaan domestik juga masih stabil. Kalau hemat saya ada story pendorong," kata Nafan kepada Bisnis pada Selasa (6/1/2026).
Terdapat potensi peningkatan permintaan dari pasar internasional seiring dengan gejolak geopolitik. Uni Eropa misalnya telah mencapai kesepakatan untuk mempercepat penghentian impor gas Rusia yang ditargetkan selesai pada tahun ini. Eropa pun kemudian mencari alternatif pasokan gasnya.
Namun, daya tahan keberlanjutan penguatan saham emiten pelayaran tidak terlalu kuat. Emiten pelayaran mendapatkan tantangan dari biaya operasional yang tinggi. Alhasil, tidak semua emiten mencatatkan kinerja bottom line yang moncer.
"Belum lagi emiten pelayaran bukan blue chip, jadi likuiditas kecil. Jadi takutnya harga saham gampang digerakkan market manipulator," ujar Nafan.
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





