Pemerintah Kota Bandung bergerak melakukan perbaikan penerangan jalan umum (PJU) yang tidak berfungsi di sejumlah titik di wilayah Kota Bandung.
Wali Kota Bandung, Farhan, memastikan penanganan dilakukan setelah banyak laporan terkait lampu jalan yang mati maupun terhalang pepohonan.
Menanggapi kondisi tersebut, Farhan menegaskan bahwa pihaknya telah memulai pelacakan dan perbaikan di seluruh ruas jalan.
“Dalam kerangka prakarsa kami sedang melacak semua wilayah yang PJL maupun PJU-nya mati,” ujarnya.
Farhan menegaskan, perbaikan dilakukan tanpa membedakan status jalan. Baik jalan kota, provinsi, maupun jalan nasional yang berada di wilayah Bandung akan ditangani sebisa mungkin.
“Mau itu ada di jalan kota, jalan provinsi, jalan nasional kita langsung perbaiki sebisa mungkin,” katanya, saat ditemui usai menghadiri Siskamling Siaga Bencana di Kantor Kelurahan Pasanggrahan, Kecamatan Ujungberung, Rabu (7/1).
Perbaikan PJU menjadi salah satu fokus kebijakan kota untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan warga, terutama di wilayah yang rawan tindak kejahatan maupun kecelakaan.
Sebelumnya, warga RW 10 Kelurahan Cisaranten Bina Harapan, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, mengeluhkan minimnya penerangan jalan umum di sejumlah ruas jalan di wilayah mereka. Kondisi gelap tersebut dinilai berpotensi meningkatkan tindak kejahatan, terutama pada malam hari.
Keluhan ini disampaikan oleh Aam (58) dan Joko (54), warga RW 10, yang menyebutkan bahwa penerangan jalan di wilayah tersebut sudah tidak optimal. Meski lampu penerangan sebenarnya sudah terpasang, sebagian besar titik jalan masih gelap.
“Sebetulnya penerangan sudah ada dari lama, tapi gelapnya juga sudah lama. Kita sudah coba sampaikan ke pengurus, dan pengurus juga sudah berupaya. Mungkin kendalanya di dananya mungkin yaa, belum turun dari kelurahan, kecamatan, atau pemerintah mungkin,” ujar Aam.
Adapun ruas jalan yang dimaksud meliputi Jalan Golf Selatan V, Jalan Cisaranten Kulon, dan Jalan Arcamanik Endah. Ketiga jalan tersebut merupakan jalur yang sering dilalui masyarakat, khususnya warga yang berangkat dan pulang kerja.
Warga mengaku tidak merasa aman saat melintasi jalan-jalan tersebut. Beberapa kejadian kriminal seperti begal dan perampokan disebut pernah terjadi di area yang minim penerangan.
“Kalau ada penerangan, itu secara tidak langsung bisa mencegah kejahatan. Karena di area sana beberapa kali sering terjadi begal atau perampokan. Mungkin karena jalannya gelap, tapi tidak di dua sisi, hanya sebelah saja,” kata Aam.
Ia menambahkan bahwa penerangan jalan di wilayah tersebut belum merata. Dari keseluruhan ruas jalan, baru sekitar 30 persen yang kondisinya terang.
“Masih ada sebagian yang gelap, belum sepenuhnya terang. Kira-kira baru 30 persen. Padahal kalau terang itu enak, kita bisa melihat orang yang lewat, itu warga atau orang lain. Jadi tidak curigaan,” jelasnya.
Warga berharap, setelah adanya penyampaian aspirasi ini, pemerintah setempat dapat segera menindaklanjuti dengan perbaikan dan penambahan PJU demi meningkatkan keamanan dan kenyamanan masyarakat, khususnya pengguna jalan yang beraktivitas setiap hari.




