Di zaman ketika layar lebih sering ditatap daripada wajah manusia, cinta pun ikut mengalami penyederhanaan. Perasaan yang dahulu tumbuh melalui percakapan, kesabaran, dan waktu, kini kerap disimpulkan dari potongan video berdurasi tiga puluh detik. Algoritma—yang sejatinya hanya mesin penyaring minat—perlahan naik pangkat menjadi hakim: menentukan siapa yang layak dicintai dan siapa yang patut dicap sebagai red flag.
Banyak perempuan hari ini—tanpa bermaksud menggeneralisasi—mulai menilai laki-laki bukan dari proses mengenal, melainkan dari narasi viral. Satu konten berkata posesif adalah red flag, konten lain menuduh diam sebagai tanda manipulatif. Dalam arus ini, lelaki tidak lagi dilihat sebagai manusia dengan latar, luka, dan pertumbuhan, melainkan sebagai kumpulan gejala yang harus cocok dengan daftar algoritmik.
Masalahnya bukan pada kewaspadaan, sebab kehati-hatian dalam relasi adalah bentuk kecerdasan emosional. Persoalan muncul ketika kehati-hatian berubah menjadi kecurigaan instan, dan kebijaksanaan digantikan oleh potongan “edukasi” tanpa konteks. Psikologi dipadatkan menjadi slogan, karakter diringkas menjadi caption. Cinta pun kehilangan ruang untuk salah, belajar, dan bertumbuh.
Ironisnya, ketika relasi gagal, yang disalahkan sering kali adalah pasangan—bukan standar yang sejak awal dibentuk oleh layar. Algoritma ditinggikan sebagai ukuran mutlak, tetapi ketika hasilnya pahit, manusia tetap menanggung kecewanya sendiri. Mesin tidak pernah ikut patah hati; manusialah yang menanggung akibatnya.
Dalam cinta, tidak semua yang tampak merah adalah bendera bahaya. Ada luka yang belum sembuh, ada diam yang lahir dari kehati-hatian, ada cemburu yang masih bisa dididik menjadi peduli. Namun dunia digital gemar memotong proses, seolah setiap kekurangan adalah alasan untuk pergi, bukan kesempatan untuk memahami.
Cinta yang sehat tidak lahir dari daftar viral, melainkan dari kesediaan untuk mengenal secara utuh. Ia membutuhkan waktu, bukan sekadar scroll. Ia menuntut dialog, bukan vonis sepihak. Ketika algoritma dijadikan ukuran utama, cinta memang tampak rapi di awal—tetapi rapuh di dalam.
Mungkin sudah saatnya kita menurunkan algoritma dari singgasananya. Biarkan ia tetap menjadi alat hiburan, bukan penentu nilai manusia. Sebab cinta yang diserahkan sepenuhnya kepada mesin, cepat atau lambat, akan gagal—lalu kita mengeluh, tanpa pernah menyadari bahwa sejak awal, ukurannya memang keliru.





