Pengusaha membeberkan pekerjaan rumah yang harus dilakukan pemerintah untuk menyiapkan prediksi tingginya produksi jagung sepanjang 2026. Badan Pangan Nasional (Bapanas) memperkirakan produksi jagung nasional tahun ini mencapai 18 juta ton.
Ketua Umum Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI), Sholahuddin, mengatakan prediksi tingginya produksi jagung dalam negeri sepanjang 2026 harus diikuti dengan kesiapan Perum Bulog sebagai off taker dengan Harga Pokok Pembelian (HPP) Rp 5.500 per kg.
Sholahuddin berharap langkah pemerintah yang mau membangun 100 gudang untuk Bulog pada tahun ini salah satunya untuk mengakomodir kebutuhan petani jagung.
“Asosiasi (juga) memandang perlu, Bulog ini jangan hanya diberi uang untuk membeli tapi mohon pemerintah memperhatikan Bulog itu difasilitasi berupa silo, gudang, dan dryer. Sehingga Bulog ini tidak membeli dari petani itu jagung kering saja tapi jagung produksi petani bisa dibeli dalam bentuk dan kondisi apapun,” kata Sholahuddin kepada wartawan, Rabu (7/1).
Sholahuddin menilai meningkatnya produksi jagung tahun ini ini didorong oleh kondisi curah hujan yang ideal sejak masa tanam Oktober dan November 2025 hingga awal 2026. Tanaman itu diperkirakan panen pada Februari atau Maret 2026.
Ia mengatakan di sejumlah daerah, jagung yang saat ini berusia 75 sampai 80 hari menunjukkan perkembangan yang sangat baik. Selain itu, kata Sholahuddin, intensitas hujan diperkirakan masih akan berlangsung hingga April.
“Karena luasan lahan jagung Indonesia rata-rata kan ditanam di lahan tadah hujan, yang mana lahan tak ada hujan itu semuanya yang 65 persen ini hanya mengandalkan hujan, tatkala hujan baik maka kemungkinan produksi baik,” jelas Sholahuddin.
Sebelumnya, Badan Pangan Nasional (Bapanas) membeberkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terkait produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen tercatat mencapai 16,11 juta ton sepanjang 2025.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan angka produksi tersebut melebihi kebutuhan sepanjang 2025 yang berada pada kisaran 15,64 juta ton. Artinya terdapat surplus sekitar 0,47 juta ton.
Berdasarkan proyeksi Neraca Pangan Nasional yang disusun Bapanas bersama kementerian dan lembaga terkait, stok carry over dari 2025 ke 2026 mencapai 4,5 juta ton.
Ketut menyebutkan dengan kebutuhan bulanan sekitar 1,4 juta ton, sehingga jumlah carry over tersebut cukup untuk memenuhi hampir tiga bulan kebutuhan nasional.
Dia memastikan kondisi ini membuat Indonesia tidak perlu lagi mengimpor jagung pada 2026.
“Dengan kondisi stok dan produksi seperti ini, pemerintah sepakat tidak perlu melakukan impor jagung pada 2026, baik untuk pakan, benih, maupun konsumsi rumah tangga,” ujar Ketut dalam keterangannya, Selasa (6/1).



