Karier Orang Lain Terlihat Lebih Cepat

kumparan.com
1 hari lalu
Cover Berita

Karier Orang Lain Terlihat Lebih Cepat. Ada satu momen yang hampir semua orang pernah alami. Bukan saat gagal besar, bukan saat ditegur atasan, tapi saat membuka media sosial. Satu scroll saja sudah cukup untuk membuat dada terasa sedikit lebih sempit. Ada yang baru promosi. Ada yang pindah ke perusahaan impian. Ada yang membagikan pencapaian yang tampak rapi dan meyakinkan.

Lalu muncul pertanyaan yang pelan tapi mengganggu:

“Kenapa mereka sudah sejauh itu, sementara aku masih di sini?”

Di momen itu, kita merasa tertinggal. Padahal belum tentu kita salah arah. Tapi perasaan tertinggal sering kali lebih kuat daripada logika yang menenangkan.

Perbandingan memang sering datang tanpa diundang. Ia muncul di sela waktu istirahat, di malam yang seharusnya tenang, atau di pagi hari sebelum kita benar-benar siap menghadapi hari. Kita tidak berniat membandingkan, tapi dunia digital membuatnya hampir tak terhindarkan.

Yang jarang kita sadari adalah ini: kita membandingkan potongan highlight hidup orang lain dengan keseluruhan hidup kita sendiri. Kita melihat hasil akhirnya, tanpa proses. Kita melihat pencapaian, tanpa cerita ragu, lelah, dan gagal yang menyertainya. Tidak adil tapi terasa nyata.

Karier mana dari dirimu yang sebenarnya sedang kamu bandingkan?

Dalam diam, perbandingan itu perlahan menggeser cara kita memandang diri sendiri. Karier yang tadinya terasa “cukup” mendadak terasa lambat. Langkah yang tadinya masuk akal tiba-tiba terlihat kecil. Kita mulai mempertanyakan keputusan yang dulu diambil dengan penuh keyakinan.

Padahal, kecepatan karier orang lain terlihat cepat karena banyak hal yang tidak kita lihat. Konteks hidup yang berbeda. Fase kehidupan yang berbeda. Titik awal yang berbeda. Ada yang bisa fokus penuh karena belum punya tanggungan. Ada yang sudah mendapat akses, jaringan, atau dukungan sejak awal. Ada pula yang memang sedang berada di fase akselerasi, setelah bertahun-tahun berjalan pelan.

Apakah adil menilai perjalanan kita dengan peta hidup orang lain?

Kecepatan tidak selalu berarti kemajuan. Cepat bisa saja berarti terburu-buru. Cepat bisa saja berarti mengikuti arus tanpa benar-benar tahu ke mana arah akhirnya. Namun karena dunia terlalu sering memuja yang cepat, kita lupa bahwa bertahan dan bertumbuh juga bentuk kemajuan meski tidak selalu terlihat.

Masalahnya sering kali bukan karena karier kita lambat. Masalahnya adalah kita lupa menanyakan satu pertanyaan paling mendasar: “Aku sedang membangun apa?”

Tanpa arah, kecepatan justru terasa kosong. Kita bisa bergerak cepat, pindah cepat, naik cepat tapi tetap merasa hampa. Karena yang lelah bukan tubuh, melainkan makna. Kita sibuk mengejar posisi, tapi lupa mengerti tujuan.

Riset dalam Journal of Social and Clinical Psychology menunjukkan bahwa perbandingan sosial yang intens, terutama melalui media sosial, berkaitan erat dengan meningkatnya perasaan tidak cukup, kecemasan, dan penurunan kepuasan hidup. Artinya, rasa tertinggal yang kita alami bukan semata-mata karena karier kita bermasalah, melainkan karena kita terus-menerus menilai diri di cermin yang keliru.

Namun kita jarang berhenti untuk bertanya: apakah aku benar-benar tertinggal, atau hanya terlalu sering melihat ke samping?

Bayangkan jika kita mendefinisikan ulang karier. Bukan sebagai lomba lari, melainkan perjalanan. Karier yang tumbuh sesuai kapasitas diri. Karier yang tidak menguras mental hanya demi terlihat “maju”. Karier yang bergerak dengan sadar tahu kapan harus melangkah, dan tahu kapan perlu melambat.

Bukan yang paling cepat, Tapi yang paling bertahan

Dalam karier seperti itu, kamu tidak selalu merasa menang, tapi kamu tahu alasan mengapa kamu berjalan. Kamu tidak selalu percaya diri, tapi kamu mengerti apa yang sedang kamu bangun. Kamu tidak selalu sampai duluan, tapi kamu tidak kehilangan dirimu sendiri di tengah jalan.

Coba refleksikan sejenak: jika hari ini kamu dipaksa mempercepat kariermu, apa yang akan kamu korbankan? Energi? Nilai? Kesehatan mental?

Karier yang sehat suatu hari membuatmu bisa berkata, “Aku mungkin belum sampai, tapi aku tahu ke mana aku menuju.” Kalimat itu sederhana, tapi menenangkan. Karena ia memberi arah. Dan arah memberi daya tahan.

Sering kali, yang kita butuhkan bukan validasi bahwa kita sudah sejauh orang lain, melainkan keyakinan bahwa langkah kita hari ini masih relevan dengan tujuan hidup kita sendiri. Tanpa keyakinan itu, seberapa cepat pun kita berlari, rasa tertinggal akan selalu mengejar.

Maka saat kamu merasa tertinggal, jangan buru-buru menambah kecepatan. Jangan langsung menyalahkan dirimu. Berhenti sejenak, lalu perjelas arah. Tanyakan dengan jujur: fase apa yang sedang aku jalani sekarang? Belajar? Menguatkan fondasi? Mencoba ulang?

Tidak semua fase memang terlihat mengkilap. Tapi justru fase-fase itulah yang sering menentukan apakah perjalananmu akan panjang atau berhenti di tengah jalan.

Karier orang lain mungkin terlihat lebih cepat. Tapi kariermu tidak harus sama untuk menjadi bermakna. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang sampai duluan melainkan siapa yang masih utuh saat sampai.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Prakiraan Cuaca Jabodetabek Hari Ini: Waspadai Hujan Disertai Angin Kencang
• 23 jam laluokezone.com
thumb
Nekat! Suami Curi Motor Istri untuk Diberi ke Temannya | SAPA SIANG
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
MBG Bawa Berkah untuk Pelaku Usaha Susu Pasteurisasi di Boyolali | SAPA SIANG
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Prabowo: Setahun Swasembada Pangan, Indonesia Tak Lagi Bergantung Bangsa Lain
• 20 jam laluokezone.com
thumb
Pertamina NRE Hadirkan Listrik Bersih di Pulau Sembur
• 10 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.