Pantau - Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman menegaskan swasembada beras Indonesia menekan harga beras global hingga 44 persen akibat tidak adanya impor beras sejak 2025.
Penegasan tersebut disampaikan Andi Amran Sulaiman dalam Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan oleh Presiden Prabowo Subianto di Karawang, Jawa Barat.
Andi Amran Sulaiman menyatakan harga beras dunia turun dari 650 dolar Amerika Serikat per metrik ton menjadi 340 dolar Amerika Serikat per metrik ton atau turun 44 persen karena Indonesia tidak lagi menyerap pasokan beras global.
Ia menyebut kondisi tersebut sebagai kontribusi nyata petani Indonesia di panggung internasional dengan mengatakan, "Ini adalah puncak kebahagiaan petani Indonesia."
Dampak Global dan Kebijakan PresidenTidak adanya impor beras dari Indonesia membuat pasokan beras di pasar internasional menjadi melimpah sehingga negara eksportir seperti Vietnam, Thailand, India, dan Pakistan mengalami kelebihan pasokan.
Andi Amran Sulaiman menegaskan kebijakan tegas Presiden Prabowo Subianto membuat petani Indonesia berkontribusi tidak langsung terhadap stabilitas pasar beras dunia.
Selama bertahun-tahun Indonesia kerap melakukan impor beras karena produksi padi nasional belum mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri.
Kebijakan pro petani yang dijalankan pemerintah mendorong peningkatan produksi beras secara signifikan hingga Indonesia memutuskan tidak melakukan impor beras sejak 2025 atas arahan langsung Presiden Prabowo Subianto.
Kebijakan tersebut bertujuan agar Indonesia berdiri di atas kaki sendiri dengan pemenuhan kebutuhan konsumsi beras sepenuhnya mengandalkan produksi dalam negeri.
Pelaksanaan swasembada beras dilaksanakan oleh Kementerian Pertanian dengan dukungan TNI, Polri, Kejaksaan, Kementerian Perdagangan, BUMN, serta Komisi IV DPR.
Stok Beras Nasional dan Indikator FAOAndi Amran Sulaiman menyebut stok beras awal tahun 2026 mencapai 3,25 juta ton yang merupakan tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.
Ia menegaskan saat ini tidak ada impor beras sama sekali sehingga seluruh Cadangan Beras Pemerintah berasal dari hasil kerja keras petani Indonesia.
Dalam 18 tahun terakhir, stok akhir Cadangan Beras Pemerintah tanpa impor tidak pernah melampaui 3 juta ton dengan catatan tahun 2008 sebesar 1,1 juta ton, 2009 sebesar 1,6 juta ton, serta periode 2019 hingga 2021 masing-masing 2,2 juta ton, 1,9 juta ton, dan 0,8 juta ton.
Pergerakan harga beras internasional dapat dipantau melalui laman resmi Food and Agriculture Organization yang menampilkan The FAO All Rice Price Index atau FARPI.
Rekor indeks FARPI terendah dalam lima tahun terakhir terjadi pada November 2025 di level 96,9, lebih rendah dibandingkan rekor sebelumnya pada Agustus 2021 di level 97,9.
Andi Amran Sulaiman menyebut fakta bahwa Indonesia tidak melakukan impor beras pada 2021 dan 2025 menunjukkan besarnya pengaruh Indonesia terhadap pasar beras internasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani melalui kenaikan harga gabah.


